هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

Tidakkah mereka menunggu selain kedatangan Allah dalam naungan awan bersama para malaikat, sedang perkara telah diputuskan? Dan kepada Allah dikembalikan segala perkara.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُhal yanzhuruuna illaa an ya'tiyahumu llaahu fii zhulalin mina l-ghamaami wa-l-malaa'ikatu wa-qudiya l-amrutidakkah mereka menunggu selain kedatangan Allah dalam naungan awan bersama para malaikat, sedang perkara telah diputuskan
  2. وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُwa-ilaa llaahi turja'u l-umuurudan kepada Allah dikembalikan segala perkara
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar n-zh-r, a-t-y, a-l-h, zh-l-l, gh-m-m, m-l-k, q-d-y, a-m-r, r-j-'): qudiya l-amr diterjemahkan 'perkara diputuskan'; turja'u l-umuur diterjemahkan 'dikembalikan segala perkara' (akar a-m-r=perkara, putaran 55)..

Aplikasi

Pertanyaan retoris tentang menunggu 'kedatangan Allah secara langsung' menyindir harapan tak realistis akan bukti supranatural spektakuler, padahal 'kepada Allah dikembalikan segala perkara' sudah menjadi kepastian tanpa perlu penampakan dramatis. Konkretnya: menunggu tanda-tanda luar biasa sebagai syarat keyakinan/tindakan, alih-alih bertindak berdasarkan kebenaran yang sudah jelas, adalah pola penundaan yang tidak produktif.