سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ ۗ وَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Tanyakanlah kepada Bani Israil, “Berapa banyak tanda nyata yang telah Kami anugerahkan kepada mereka?” Dan siapa yang menukar nikmat Allah setelah nikmat itu datang kepadanya, sesungguhnya Allah keras hukuman-Nya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍsal banii israa'iila kam aataynaahum min aayatin bayyinatintanyakanlah kepada Bani Israil, berapa banyak tanda nyata yang telah Kami anugerahkan kepada mereka
  2. وَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِwa-man yubaddil ni'mata llaahi min ba'di maa jaa'atsu fa-inna llaaha syadiidu l-'iqaabidan siapa yang menukar nikmat Allah setelah nikmat itu datang kepadanya, sesungguhnya Allah keras hukuman-Nya

Terjemahan per kata (20 kata)

  1. سَلْsaltanyakanlah
  2. بَنِيbaniiBani
  3. إِسْرَائِيلَisraa'iilaIsrail
  4. كَمْkambetapa banyak
  5. آتَيْنَاهُمْaataynaahumKami memberi mereka
  6. مِنْmindari
  7. آيَةٍaayatintanda
  8. بَيِّنَةٍbayyinatinbukti nyata
  9. وَمَنْwa-mandan orang yang
  10. يُبَدِّلْyubaddilmengganti
  11. نِعْمَةَni'matanikmat
  12. اللَّهِllaahiAllah
  13. مِنْmindari
  14. بَعْدِba'disesudah
  15. مَاmaaapa yang
  16. جَاءَتْهُjaa'atsudatang kepadanya
  17. فَإِنَّfa-innamaka sesungguhnya
  18. اللَّهَllaahaAllah
  19. شَدِيدُsyadiidukeras
  20. الْعِقَابِl-'iqaabihukuman

Inti bacaan

Pertanyaan retoris tentang berapa banyak 'tanda nyata' yang diberikan kepada Bani Israil menyoroti betapa banyaknya bukti yang sudah diberikan namun tetap diingkari, kelimpahan bukti tidak otomatis menghasilkan kesetiaan. Konkretnya: memiliki banyak pengetahuan/pengalaman spiritual di masa lalu tidak menjamin konsistensi di masa depan, kewaspadaan terhadap kemunduran meski sudah banyak menerima 'nikmat', bukan menganggapnya jaminan permanen.

Penjelasan pilihan kata

Kata pembuka ayat ini satu perintah pendek, (سَلْ, sal) yang berarti "tanyakanlah", bentuk perintah dari akar yang berarti bertanya dan meminta. Bentuk perintah akar ini terdapat di 16 ayat di seluruh mushaf, dan 14 di antaranya ditulis panjang dengan alif di depan serta selalu bergantung pada kata sambung: 4:32, 7:163, 10:94, 12:50, 12:82, 16:43, 17:101, 21:7, 21:63, 23:113, 25:59, 33:53, 43:45, dan 60:10. Hanya 2 ayat memakai bentuk pendek tanpa alif itu, yaitu di ayat ini dan di 68:40 (سَلْهُمْ, salhum), "tanyakanlah kepada mereka". Kedua ayat itu pula satu-satunya tempat perintah ini berdiri sebagai kata pertama tanpa "dan" atau "maka" di depannya, dan itu sebabnya terjemahannya juga dibuka langsung, tanpa penyambung.

Perintahnya disusul kata tanya (كَمْ, kam), "berapa banyak", yang terdapat di 20 ayat di seluruh mushaf dengan pemakaian yang condong tajam ke satu arah: di 10 ayat, kata kerja yang persis menyusulnya berarti "Kami binasakan", yaitu 6:6, 17:17, 19:74, 19:98, 20:128, 28:58, 32:26, 36:31, 38:3, dan 50:36. Di ayat ini tempat itu diisi kata yang isinya berlawanan, (آتَيْنَاهُمْ, aataynaahum), "Kami anugerahkan kepada mereka", dari akar yang berarti datang dan mendatangkan. Akar itu bentuk sederhananya berarti "datang", seperti (يَأْتِيَهُمُ, ya'tiyahumu) di 2:210 dan (يَأْتِيَنَّكُمْ, ya'tiyannakum) di 2:38. Bentuk yang dipakai di sini menyatakan "Kami datangkan kepada mereka", dan karena itu dipilih "anugerahkan", bukan "berikan": yang dinyatakan sesuatu yang dibuat sampai, bukan sekadar diserahkan.

Yang dihitung adalah (مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ, min aayatin bayyinatin), "berupa tanda yang nyata". (آيَةٍ, aayatin) dari akar yang berarti tanda diterjemahkan "tanda" secara seragam di terjemahan ini, sedangkan "bukti yang nyata" disisakan bagi بَيِّنَة ketika ia berdiri sendiri sebagai kata benda, seperti (الْبَيِّنَةُ, al-bayyinatu) di 98:4. Di ayat ini بَيِّنَةٍ dari akar yang berarti jelas dan memisahkan bukan kata benda melainkan penyifat bagi آيَةٍ, dan pasangan tunggal semacam itu terdapat di 2 ayat, yakni di ayat ini dan di 29:35 (آيَةً بَيِّنَةً, aayatan bayyinatan), sementara bentuk jamaknya (آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ, aayaatin bayyinaatin) jauh lebih sering, terdapat di 8 ayat: 2:99, 3:97, 17:101, 22:16, 24:1, 29:49, 57:9, dan 58:5.

Yang dihitung tetap berbentuk tunggal meski pertanyaannya "berapa banyak", pola yang sama dengan 12 dari 20 ayat berkata tanya كَمْ tadi, misalnya (مِنْ قَرْنٍ, min qarnin) di 6:6, (مِنْ قَرْيَةٍ, min qaryatin) di 21:11, dan (مِنْ نَبِيٍّ, min nabiyyin) di 43:6, berbeda dari 17:17 yang memakai bentuk jamak (مِنَ الْقُرُونِ, mina l-quruuni). Hitungannya berjalan satu per satu. Perintah yang sama kepada penerima yang sama muncul lagi di 17:101 atas (بَنِي إِسْرَائِيلَ, banii israa'iila), tetapi di sana bilangannya lebih dulu disebut, (تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ, tis'a aayaatin bayyinaatin), "sembilan tanda yang jelas". Jadi bilangan semacam itu bisa disebutkan, dan di ayat ini ia justru ditanyakan.

Paruh kedua bertumpu pada (يُبَدِّلْ, yubaddil), "menukar", dari akar yang berarti menukar dan mengganti dalam bentuk yang menggandakan huruf tengah akarnya. Bentuk itu terdapat di 21 ayat di seluruh mushaf, di antaranya 2:59, 2:181, 7:95, 16:101, dan 34:16, dan di kebanyakan tempat terjemahan ini memakai "mengganti" atau "mengubah", seperti (فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ, fa-man baddalahu ba'damaa sami'ahu) di 2:181, "maka siapa yang mengubahnya setelah mendengarnya". Yang menuntut "menukar" di sini objeknya: dari 21 ayat itu hanya 2 yang menempatkan kata kerja ini bersama kata dari akar yang berarti hidup senang dan tercukupi, yakni di ayat ini dan di 14:28, dan keduanya sama-sama dibaca "menukar". Sebuah (نِعْمَةَ, ni'mata) bukan perkataan yang bisa diubah bunyinya, melainkan sesuatu yang sudah diterima, jadi yang mungkin dilakukan atasnya adalah melepasnya demi sesuatu yang lain. Rangkaian (نِعْمَةَ اللَّهِ, ni'mata llaahi) sendiri terdapat di 8 ayat: di ayat ini, 5:7, 5:20, 14:6, 16:18, 16:71, 29:67, dan 33:9. Di 14:28 penukarnya disebut terang-terangan, (بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْرًا, baddaluu ni'mata llaahi kufran), "menukar nikmat Allah dengan kekufuran"; ayat ini tidak menyebutkannya, dan tak satu pun katanya bisa mengisi tempat yang dibiarkan kosong itu.

Batas waktunya diberikan (مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ, min ba'di maa jaa'athu), "setelah ia datang kepadanya". Rangkaian ini terdapat di 6 ayat di seluruh mushaf: 2:209, di ayat ini, 2:213, 2:253, 4:153, dan 98:4. Di 5 di antaranya yang datang langsung dinamai sesudah kata kerjanya, dan kata gantinya menunjuk banyak orang, (جَاءَتْكُمُ, jaa'atkumu) di 2:209 serta (جَاءَتْهُمُ, jaa'athumu) di 2:213, 2:253, 4:153, dan 98:4. Ayat ini menyimpang pada dua hal sekaligus: kata gantinya tunggal, (جَاءَتْهُ, jaa'athu), dan yang datang tidak dinamai. Kata kerjanya berbentuk perempuan tunggal, sedangkan di ayat ini hanya ada 2 kata benda berbentuk perempuan yang bisa dirujuknya, آيَةٍ dan نِعْمَةَ. Teksnya tidak memilih di antara keduanya; terjemahan mengikuti نِعْمَةَ karena ia yang terdekat, dan آيَةٍ tetap terbuka sebagai bacaan lain.

Penutupnya, (شَدِيدُ الْعِقَابِ, syadiidu l-'iqaabi), "keras hukuman-Nya", terdapat di 14 ayat: 2:196, di ayat ini, 3:11, 5:2, 5:98, 8:13, 8:25, 8:48, 8:52, 13:6, 40:3, 40:22, 59:4, dan 59:7. Kata (الْعِقَابِ, al-'iqaabi) berakar pada akar yang berarti tumit dan yang menyusul di belakang, akar yang juga melahirkan (عَاقِبَةُ, 'aaqibatu) yang dibaca "kesudahan" di 32 ayat, di antaranya 3:137, 6:11, dan 7:84, serta (عَقِبَيْهِ, 'aqibayhi) di 2:143 yang dibaca "berbalik ke belakang". Kata yang dipakai untuk hukuman di sini, dengan demikian, sekeluarga dengan kata-kata tentang apa yang ada di belakang dan apa yang menyusul, dan letaknya di dalam ayat ini persis begitu, sesudah sebuah pemberian dan sebuah penukaran.

Tafsiran

Ayat ini duduk di tengah rangkaian yang seluruhnya berputar pada satu peristiwa, yaitu kedatangan. 2:209 memperingatkan tentang tergelincir sesudah bukti yang jelas datang, 2:210 bertanya apa lagi yang ditunggu selain kedatangan yang tidak bisa ditawar, dan 2:213 menutup rangkaian itu dengan perselisihan yang justru pecah sesudah bukti datang. Di antara semuanya, hanya ayat ini yang tidak menyatakan apa pun, melainkan memerintahkan bertanya. Pembaca tidak diberi kesimpulan, ia dikirim menemui saksi.

Saksi itu tidak menjawab. Bilangannya dibiarkan menganga, padahal 17:101 memperlihatkan bahwa bilangan semacam itu bisa disebut kalau memang hendak disebut. Yang tertinggal pada pembaca karenanya bukan angka, melainkan kesan bahwa jumlahnya besar dan tak pernah dihitung oleh yang menerimanya. Sebuah pertanyaan yang tak berjawab bekerja lebih lama daripada sebuah daftar.

Lalu terjadi pergeseran yang membuat ayat ini berhenti menjadi catatan tentang satu golongan. Paruh pertamanya berbicara tentang sekelompok orang yang dinamai, dengan kata ganti banyak orang. Paruh keduanya berpindah ke siapa saja, dengan kata ganti satu orang. Pertanyaan yang dikirim ke luar kembali sebagai kaidah yang berlaku ke dalam, dan pembaca yang datang untuk menyimak perkara orang lain menemukan kalimatnya berakhir pada seorang tunggal yang bisa jadi dirinya sendiri.

Ketegangan ayat ini terletak pada dua paruh yang tampak berlawanan arah. Yang pertama menghitung pemberian, yang kedua mengancam. Yang menyambungkannya adalah kenyataan bahwa keduanya menyebut satu benda yang sama: apa yang didatangkan pada paruh pertama itulah yang bisa ditukar pada paruh kedua. Banyaknya tanda tidak berlaku sebagai perlindungan, melainkan sebagai ukuran, persis seperti 2:209 yang menempatkan bahaya tergelincir sesudah bukti sampai, bukan sebelumnya. 14:28 pernah menyebutkan satu wujud penukaran itu dengan terbuka, sedangkan ayat ini menahan namanya, dan justru penahanan itu yang membuat peringatannya tidak berhenti pada satu bentuk penukaran yang sudah punya nama.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini tidak menyerahkan sebuah kesimpulan kepada pembacanya, ia menyerahkan sebuah tugas: bertanya. Kalimatnya dibuka dengan perintah, bukan dengan pemberitaan, dan yang diperintahkan bukan menilai melainkan mendatangi pihak lain untuk mendengar. Pembaca yang berharap dibekali putusan yang siap dipakai justru dibekali sesuatu yang lebih tidak nyaman, yaitu keharusan mencari tahu lebih dulu. Ada jarak yang dipaksakan di sini antara mengetahui dan menghakimi, dan jarak itu bukan hiasan gaya, ia bentuk kalimatnya.
  • Pertanyaan di ayat ini menanyakan jumlah, tetapi menyebut yang dihitung dalam bentuk tunggal, sehingga hitungannya berjalan sebutir demi sebutir, bukan sebagai tumpukan yang ditaksir sekali lihat. Seseorang bisa hidup lama dengan perasaan bahwa yang sampai kepadanya sedikit, semata karena ia belum pernah menghitungnya satu per satu. Ayat ini tidak memberi angkanya, dan justru ketiadaan angka itu memindahkan pekerjaan menghitung kepada yang membaca. Yang berat bukan jumlahnya, melainkan kenyataan bahwa daftarnya selama ini tidak pernah dibuka.
  • Ayat ini menyebut apa yang dilepas, nikmat Allah, dan tidak menyebut apa yang diterima sebagai gantinya. Kalimat penukaran yang setengah terisi seperti itu meninggalkan satu ruang kosong, dan ruang kosong dalam sebuah kalimat selalu terisi oleh yang membacanya. Seseorang yang jujur akan tahu benda apa yang ia letakkan di tempat itu, dan biasanya benda itu terlihat kecil dan pantas ketika dipandang sendirian, bukan ketika dipandang sebagai harga tukar. Yang menakutkan dari ayat ini bukan ancamannya, melainkan bahwa nama gantinya harus diisi sendiri.
  • Ayat ini dimulai dengan sekelompok orang yang dinamai dan sebuah kata ganti banyak orang, lalu berakhir pada siapa saja dan sebuah kata ganti satu orang. Pembaca yang masuk untuk menyimak perkara pihak lain mendapati kalimatnya menyempit terus sampai tinggal ruang untuk satu kepala. Perpindahan sekecil itu, dari mereka ke dia, mengubah seluruh watak bacaannya: yang tadinya tampak sebagai catatan tentang orang lain berubah menjadi kaidah yang tak menyediakan tempat berdiri di luar. Tidak ada golongan yang bisa dipakai untuk berteduh dari kalimat yang berakhir pada bentuk tunggal.
  • Peringatan di ayat ini diberi batas waktu, yaitu sesudah nikmat itu datang, bukan sebelumnya. Sebelum sesuatu sampai, tidak ada yang bisa dilepaskan, dan karena itu tidak ada penukaran yang bisa dituntut pertanggungannya. Kedatangan justru yang menciptakan kemungkinan kehilangan. Yang menerima sesuatu tidak hanya bertambah miliknya, ia juga bertambah hal yang bisa disalahgunakannya, dan itu wajah lain dari pemberian yang jarang dilihat orang ketika ia sedang menerimanya. Batas waktu itu, dengan begitu, bukan pelunakan, ia justru yang menegakkan pertanggungan.
  • Kata yang dipakai ayat ini untuk hukuman sekeluarga dengan kata-kata tentang apa yang berada di belakang dan apa yang menyusul, dan susunan ayatnya menempatkannya persis begitu, sesudah pemberian dan sesudah penukaran. Yang digambarkan bukan sesuatu yang menyerbu dari luar dan memutus jalan seseorang, melainkan sesuatu yang mengikuti di belakang langkahnya sendiri. Perbedaan gambaran itu mengubah tempat pembaca berdiri: bukan sebagai orang yang menunggu kemalangan datang entah dari mana, melainkan sebagai orang yang berjalan lebih dulu, lalu diikuti oleh yang ditinggalkan jejaknya.