زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا ۘ وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Kehidupan dunia dijadikan indah bagi orang-orang yang kufur, dan mereka mengejek orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa berada di atas mereka pada hari Kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُواzuyyina li-lladziina kafaruu l-hayaatu d-dunyaa wa-yaskharuuna mina lladziina aamanuukehidupan dunia dijadikan indah bagi orang-orang yang kufur, dan mereka mengejek orang-orang yang beriman
  2. وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِwa-lladziina ttaqaw fawqahum yawma l-qiyaamatipadahal orang-orang yang bertakwa berada di atas mereka pada hari Kiamat
  3. وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍwa-llaahu yarzuqu man yasyaa'u bi-ghayri hisaabindan Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan

Terjemahan per kata (20 kata)

  1. زُيِّنَzuyyinadihiasi
  2. لِلَّذِينَli-lladziinabagi orang-orang yang
  3. كَفَرُواkafaruukufur
  4. الْحَيَاةُl-hayaatukehidupan
  5. الدُّنْيَاd-dunyaadunia
  6. وَيَسْخَرُونَwa-yaskharuunadan mereka mengolok
  7. مِنَminadari
  8. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  9. آمَنُواaamanuuberiman
  10. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  11. اتَّقَوْاttaqawbertakwa
  12. فَوْقَهُمْfawqahumdi atas mereka
  13. يَوْمَyawmahari
  14. الْقِيَامَةِl-qiyaamatiKiamat
  15. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  16. يَرْزُقُyarzuqumemberi rezeki
  17. مَنْmanorang yang
  18. يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
  19. بِغَيْرِbi-ghayritanpa
  20. حِسَابٍhisaabinperhitungan

Inti bacaan

Kontras antara duniawi yang 'dijadikan indah' bagi yang ingkar (sehingga mereka mengejek yang beriman) versus posisi yang beriman 'di atas mereka pada Hari Kiamat', penilaian akhir membalikkan hierarki yang tampak di dunia. Konkretnya: ejekan atau pandangan rendah dari mereka yang mengukur segalanya lewat kesuksesan duniawi tidak perlu menggoyahkan, nilai sejati diukur dengan skala berbeda dari yang tampak menang secara materi saat ini.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka (زُيِّنَ, zuyyina) "dijadikan tampak indah", kata kerja pasif tanpa pelaku yang disebut. Bentuk ini muncul 10 kali di 10 surah berbeda: di sini, 3:14, 6:122, 9:37, 10:12, 13:33, 35:8, 40:37, 47:14, dan 48:12; tak satu surah pun memuatnya dua kali. Yang dijadikan tampak indah, (الْحَيَاةُ الدُّنْيَا, al-hayaatu d-dunyaa) "kehidupan dunia", disandingkan bagi (لِلَّذِينَ كَفَرُوا, lilladziina kafaruu) "orang-orang yang kufur", tanpa perincian isinya. Bandingkan dengan 3:14, tempat kata kerja yang sama disandingkan bagi (لِلنَّاسِ, li-n-naasi) "manusia" secara umum, dan isinya dirinci lengkap: perempuan, anak-anak, emas dan perak bertimbun, kuda pilihan, ternak, dan sawah ladang, (ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, dzaalika mataa'u l-hayaati d-dunyaa) "itulah kesenangan kehidupan dunia". Ayat ini tidak merinci; yang disandingkan hanya nama kehidupan itu sendiri, tanpa daftar isinya.

(وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا, wa-yaskharuuna mina lladziina aamanuu) "dan mereka mengolok-olok orang-orang yang beriman". Bentuk ini muncul 3 kali di mushaf: di sini, 9:79, dan 37:12. Di 9:79 olokan itu diarahkan kepada orang beriman yang bersedekah dengan sedikit, dan olokan itu dibalas, (سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ, sakhira llaahu minhum) "Allah membalas mengolok-olok mereka". Di 37:12 olokan itu diarahkan kepada keheranan seorang penyampai atas keingkaran pendengarnya, (بَلْ عَجِبْتَ وَيَسْخَرُونَ, bal 'ajibta wa-yaskharuuna) "bahkan engkau heran, dan mereka mengolok-olok". Ayat ini tidak menyebut apa yang diolok-olokkan; yang disebut hanya bahwa olokan itu terjadi, bersamaan dengan kekaguman pada kehidupan dunia yang baru disebutkan.

Pembalik keadaan itu, (وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, wa-lladziina ttaqaw fawqahum yawma l-qiyaamati) "dan orang-orang yang bertakwa berada di atas mereka pada hari kiamat", satu-satunya kemunculan rangkaian (فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, fawqahum yawma l-qiyaamati) di seluruh mushaf. Kata (فَوْقَ, fawqa) "di atas" di sini bukan penanda ruang fisik semata; ayat tidak menjelaskan bentuknya, hanya arahnya, dan arah itu berlawanan dengan kedudukan yang tampak sekarang, orang beriman yang diolok-olok justru diletakkan lebih tinggi kelak.

Penutupnya, (وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ, wa-llaahu yarzuqu man yasyaa'u bighayri hisaabin) "dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan". Rangkaian (بِغَيْرِ حِسَابٍ, bighayri hisaabin) muncul 7 kali di 6 surah (2:212, 3:27, 3:37, 24:38, 38:39, 39:10, 40:40), dan salah satunya, 3:37, memakai rumus yang hampir sama persis untuk peristiwa yang konkret: rezeki yang didapati Zakariya pada Maryam setiap kali ia masuk ke mihrab, sumbernya tak diketahui, sampai Maryam sendiri menjawab, (هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ, huwa min 'indi llaahi) "itu dari sisi Allah", lalu ditutup rumus yang sama, (إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ, inna llaaha yarzuqu man yasyaa'u bighayri hisaabin). Ayat ini menyatakan prinsipnya secara umum; 3:37 memperlihatkan wujudnya pada satu peristiwa.

Tafsiran

Ayat ini tidak menyalahkan siapa pun yang secara khusus membuat kehidupan dunia tampak indah; kata kerjanya pasif, dan pelakunya sengaja tidak disebut. Yang ditegaskan bukan siapa yang bertanggung jawab atas daya tariknya, melainkan bahwa daya tarik itu nyata dan bekerja, cukup nyata untuk mengubah cara orang memandang mereka yang tidak terpikat olehnya.

Olokan yang muncul di ayat ini bukan sekadar ejekan sesaat. Ia lahir dari kesenjangan yang tampak: satu pihak menikmati apa yang tampak nyata, satu pihak lain berpegang pada sesuatu yang belum terlihat hasilnya. Dari sudut pandang yang mengolok-olok, itu cukup untuk dianggap kekalahan. Ayat ini tidak membantah kesenjangan itu di dunia; ia memindahkan penilaiannya ke waktu yang berbeda.

Kata yang dipakai untuk membalik keadaan itu tidak merinci bentuknya, hanya arahnya. Pembalikan itu tidak terjadi sekarang, di tempat olokan itu diucapkan, melainkan pada hari yang belum tiba, sehingga siapa pun yang mengukur kemenangan hanya dari keadaan yang sedang berlangsung akan salah membaca ayat ini. Yang ditawarkannya bukan pembelaan segera, melainkan kepastian tentang arah akhir yang berbeda dari arah yang tampak sekarang.

Penutup ayat ini tidak menjanjikan bahwa orang beriman akan ikut menikmati kehidupan dunia yang sama seperti yang mengolok-olok mereka. Ia menyatakan sesuatu yang lebih luas: pemberian Allah tidak terikat pada perhitungan yang biasa dipakai untuk menilai siapa yang pantas menerima apa. 3:37 memperlihatkan wujud paling konkret dari prinsip ini, rezeki yang datang tanpa jalur yang bisa dilacak. Ayat ini menempatkan prinsip yang sama di ujung sebuah olokan, seolah menjawabnya bukan dengan pembelaan, melainkan dengan mengingatkan bahwa ukuran yang dipakai si pengolok bukan satu-satunya ukuran yang berlaku.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini tidak menuduh satu pihak pun sebagai perancang daya tarik kehidupan dunia. Kata kerjanya pasif, membiarkan sumbernya terbuka. Seseorang yang mencari pihak untuk disalahkan atas kesenangan yang menariknya menjauh dari hal-hal yang lebih penting tidak akan menemukannya di sini. Yang tersedia hanya kenyataan bahwa daya tarik itu bekerja, dan pertanyaan yang tersisa bukan siapa yang menciptakannya, melainkan bagaimana seseorang meresponsnya begitu ia merasakannya.
  • Olokan dalam ayat ini muncul bukan karena kebencian tanpa sebab, melainkan karena perbandingan hasil yang tampak nyata. Satu pihak memegang sesuatu yang bisa dilihat dan dinikmati sekarang; pihak lain memegang sesuatu yang belum terbukti. Bagi yang mengolok, itu terasa seperti bukti yang cukup. Pembaca yang pernah merasa perlu membuktikan pilihannya sekarang juga, sebelum hasilnya benar-benar tampak, mengenali tekanan yang sama yang dihadapi orang-orang beriman dalam ayat ini.
  • Ayat ini tidak menjanjikan pembalikan keadaan hari ini. Yang dijanjikannya adalah kedudukan pada hari yang belum tiba, dan jarak antara sekarang dan hari itu tidak diisi keterangan apa pun. Seseorang yang membutuhkan bukti segera bahwa pilihannya benar akan merasa ayat ini tidak cukup menghibur. Tapi bagi yang bersedia menunggu tanpa jaminan waktu, ayat ini menawarkan sesuatu yang lebih tahan lama daripada kemenangan yang harus dibuktikan sekarang juga.
  • Penutup ayat ini tidak berjanji bahwa kebaikan akan dibagi menurut ukuran yang biasa dipakai orang untuk menilai kepantasan. Ia menyebut pemberian yang lepas dari hitungan itu sama sekali. Seseorang yang selama ini mengukur keadilan dari seberapa seimbang pembagian yang tampak di depan matanya diperkenalkan pada gagasan bahwa ada pemberian yang bekerja di luar jangkauan hitungan itu, sesuatu yang tidak bisa diprediksi dari pola yang biasa dikenali, dan karena itu juga tidak bisa disangkal hanya karena tidak sesuai pola.
  • Ayat ini tidak memisahkan orang beriman dan orang kufur ke dalam dua dunia yang berbeda. Keduanya berdiri di kehidupan dunia yang sama, dan yang membedakan bukan tempat mereka berpijak, melainkan bagaimana masing-masing membaca tempat itu. Satu pihak membaca dunia sebagai tujuan akhir yang layak dinikmati penuh; pihak lain membaca dunia sebagai tempat yang akan dilihat lagi dari kedudukan yang berbeda kelak. Perbedaan itu tidak kelihatan dari luar, sebab dari luar keduanya sama-sama sedang menjalani hari yang sama.
  • Ayat ini menutup sebuah olokan bukan dengan bantahan atas isinya, melainkan dengan memindahkan waktu penilaiannya. Ada ketenangan tertentu dalam pilihan itu: tidak setiap ejekan perlu dijawab seketika untuk terbukti salah. Pembaca yang terbiasa merasa wajib membalas setiap remehan yang diterimanya menemukan di sini sebuah contoh yang membiarkan waktu sendiri yang menjawab, dan justru ketiadaan bantahan segera itulah yang membuat jawabannya terasa lebih pasti, bukan lebih lemah.