أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Ataukah kalian mengira akan memasuki taman itu, padahal belum datang kepada kalian seperti apa yang dialami orang-orang yang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa kemelaratan dan penderitaan, dan mereka diguncang, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْam hasibtum an tadkhuluu l-jannata wa-lammaa ya'tikum matsalu lladziina khalaw min qablikumataukah kalian mengira akan memasuki taman itu, padahal belum datang kepada kalian seperti apa yang dialami orang-orang yang terdahulu sebelum kalian
  2. مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِmassatsumu l-ba'saa'u wa-dh-dharraa'u wa-zulziluu hattaa yaquula r-rasuulu wa-lladziina aamanuu ma'ahu mataa nashru llaahimereka ditimpa kemelaratan dan penderitaan, dan mereka diguncang, sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, kapankah pertolongan Allah
  3. أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌalaa inna nashra llaahi qariibuningatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat

Terjemahan per kata (30 kata)

  1. أَمْamatau
  2. حَسِبْتُمْhasibtumkalian mengira
  3. أَنْanbahwa
  4. تَدْخُلُواtadkhuluukalian masuk
  5. الْجَنَّةَl-jannatataman
  6. وَلَمَّاwa-lammaadan ketika
  7. يَأْتِكُمْya'tikumdatang kepada kalian
  8. مَثَلُmatsaluperumpamaan
  9. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  10. خَلَوْاkhalawmereka menyendiri
  11. مِنْmindari
  12. قَبْلِكُمْqablikumsebelum kalian
  13. مَسَّتْهُمُmassatsumumenimpa mereka
  14. الْبَأْسَاءُl-ba'saa'ukesengsaraan
  15. وَالضَّرَّاءُwa-dh-dharraa'udan kesengsaraan
  16. وَزُلْزِلُواwa-zulziluudan mereka diguncang
  17. حَتَّىٰhattaasampai
  18. يَقُولَyaquulaberkata
  19. الرَّسُولُr-rasuuluRasul
  20. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  21. آمَنُواaamanuuberiman
  22. مَعَهُma'ahubersamanya
  23. مَتَىٰmataakapan
  24. نَصْرُnashrupertolongan
  25. اللَّهِllaahiAllah
  26. أَلَاalaaketahuilah
  27. إِنَّinnasesungguhnya
  28. نَصْرَnashrapertolongan
  29. اللَّهِllaahiAllah
  30. قَرِيبٌqariibunyang dekat

Inti bacaan

Pertanyaan tajam 'apakah kalian kira akan masuk surga tanpa ujian seperti generasi sebelumnya' menegaskan bahwa kesulitan adalah bagian integral dari perjalanan, bukan anomali yang menandakan kegagalan. Konkretnya: menghadapi kesulitan besar dalam memperjuangkan kebenaran bukan tanda bahwa jalan yang diambil salah, justru pola yang konsisten dengan perjalanan orang-orang beriman sebelumnya, dengan pertolongan yang 'dekat' meski terasa jauh saat di tengah kesulitan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka kata (أَمْ, am) yang berarti "ataukah", kata penyambung yang menawarkan cabang kedua atas sesuatu yang sudah berdiri, bukan kata pembuka untuk pertanyaan yang sama sekali baru. Kata kerjanya, (حَسِبْتُمْ, hasibtum) yang berarti "kalian mengira", berakar pada akar yang berarti menghitung dan menyangka, akar yang di dalam mushaf melahirkan dua keluarga kata sekaligus: bentuk kerja "mengira" dengan 44 kemunculan, dan bentuk benda "perhitungan" dengan 39 kemunculan. Jadi "mengira" di sini bukan perasaan yang samar, melainkan hasil sebuah hitungan yang dikerjakan sendiri oleh yang disapa. Ayat sebelumnya berakhir pada (بِغَيْرِ حِسَابٍ, bighayri hisaabin) yang berarti "tanpa perhitungan" di 2:212, sehingga akar yang sama dipakai dua kali berdekatan untuk dua pihak yang berlawanan: pemberian yang tidak dihitung, dan dugaan yang dihitung. Rangkaian (أَمْ حَسِبْتُمْ, am hasibtum) muncul 3 kali di seluruh mushaf, yaitu 2:214, 3:142, dan 9:16, dan pada ketiganya ia langsung disusul kata pengingkar (وَلَمَّا, wa-lammaa) yang berarti "padahal belum".

Yang diduga akan dimasuki adalah (الْجَنَّةَ, al-jannata) yang berarti "taman itu", dengan kata sandang yang menunjuk satu taman tertentu yang sudah dibicarakan di tempat lain, seperti pada (أَصْحَابُ الْجَنَّةِ, ash-haabu l-jannati) yang berarti "penghuni taman itu" di 2:82. Akarnya berarti menutupi sampai tak terlihat, dan sebaran akar itu memperlihatkan gagasan pokoknya bukan kesuburan melainkan tertutup dari pandangan: kata kerja (جَنَّ عَلَيْهِ, janna 'alayhi) yang berarti "menyelimutinya" dengan 1 kemunculan, pada kisah malam yang menyelimuti seseorang di 6:76; (جُنَّةً, junnatan) yang berarti "perisai" dengan 2 kemunculan, pada (أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً) di 58:16 dan 63:2; serta (أَجِنَّةٌ, ajinnatun) yang berarti "yang masih terlindung dalam kandungan" dengan 1 kemunculan, di 53:32. Karena itu padanan "taman" dipertahankan tanpa menambahkan kemewahan yang tidak dikatakan akarnya. Rangkaian (أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ, an tadkhuluu l-jannata) muncul 2 kali, di 2:214 dan 3:142.

Yang dinyatakan belum datang tidak disebut "cobaan" oleh teksnya. Kata yang dipakai adalah (مَثَلُ, matsalu) yang berarti "keadaan yang sebanding", dan penandaan morfologinya menempatkannya sebagai pelaku dari kata kerja (يَأْتِكُمْ, ya'tikum) yang berarti "datang kepada kalian". Bunyi kalimatnya karena itu: yang belum datang kepada kalian adalah keadaan sebanding orang-orang terdahulu. Akar yang berarti serupa dan perumpamaan itu dipakai dalam 3 kedudukan berbeda pada 3 ayat yang sama-sama berbicara tentang orang yang telah berlalu. Di 2:214 ia pelaku yang menghampiri; di 24:34 ia yang dikenai, (وَمَثَلًا مِنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ) yang berarti "dan contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kalian"; di 10:102 ia yang ditunggu, (مِثْلَ أَيَّامِ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِهِمْ) yang berarti "seperti hari-hari orang-orang yang terdahulu sebelum mereka". Ayat ini sendiri tidak merinci isi keadaan sebanding itu, dan ayat yang paling dekat kata-katanya, 10:102, menyebutnya "hari-hari" mereka.

Pengingkar (وَلَمَّا) diterjemahkan "padahal belum", bukan "padahal tidak", dan dasarnya ada di dalam ayat yang sama: ujungnya menyatakan pertolongan itu (قَرِيبٌ, qariibun) yang berarti "dekat", jadi yang diingkari adalah yang belum sampai, bukan yang tidak akan ada. Kata kerja (خَلَوْا, khalaw) yang berarti "telah berlalu" berakar pada akar yang berarti kosong dan berlalu, dan muncul 7 kali, yaitu 2:14, 2:214, 3:119, 10:102, 24:34, 33:38, dan 33:62. Sebarannya berbelah dua: pada (وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ) di 2:14 dan (وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا) di 3:119 ia berarti menyendiri, terpisah dari yang lain, sedangkan pada 5 ayat sisanya ia berarti telah berlalu. Kedua arah itu bertemu pada satu gagasan, menjadi lengang, dan itulah sebabnya padanan "yang terdahulu" dipilih alih-alih penanda waktu yang datar.

Kata kerja (مَسَّتْهُمُ, massathumu) berakar pada akar yang berarti menyentuh dan harfiahnya "menyentuh mereka", bukan menghancurkan mereka. Bentuk ini muncul 3 kali, yaitu 2:214, 10:21, dan 21:46; pada (مَسَّتْهُمْ نَفْحَةٌ) di 21:46 yang menyentuh adalah "embusan" azab, ukuran yang paling kecil, dan pada (ضَرَّاءَ مَسَّتْهُمْ) di 10:21 yang menyentuh adalah kemelaratan. Padanan "ditimpa" mengambil bobot yang dibawa kalimatnya ke dalam bahasa Indonesia, sedangkan harfiah kata kerjanya tetap sentuhan. Pelakunya adalah pasangan (مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ) yang berarti "mereka ditimpa kemelaratan dan penderitaan". Di sinilah kontras terkuatnya: kata (الْبَأْسَاءُ, al-ba'saa'u) yang berarti "kemelaratan" hadir dalam 4 ayat, yaitu 2:177, 2:214, 6:42, dan 7:94, dan hanya di 2:214 ia berkedudukan sebagai pelaku. Pada (أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ) di 7:94 dan (فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ) di 6:42 ia yang dikenai, dengan pelaku yang disebut terang; pada (فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ) di 2:177 ia tempat bersabar. Di 2:214 tidak ada pelaku yang disebut sama sekali. Kata (وَالضَّرَّاءُ) sendiri berpasangan dua arah: dengan kemelaratan pada 3 ayat itu, dan dengan lawannya pada (السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ) di 3:134, 1 kemunculan, yang berarti "lapang dan sempit".

Kata kerja (وَزُلْزِلُوا, wa-zulziluu) yang berarti "dan mereka diguncang" berbentuk pasif, dan akarnya berarti mengguncang. Ia tersusun dari pengulangan dua bunyi yang sama. Akar itu muncul 6 kali di 4 ayat, yaitu 2:214, 22:1, 33:11, dan 99:1. Pada 3 ayat lainnya guncangan selalu disertai kata yang menakarnya: (وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا) yang berarti "dan mereka diguncang dengan guncangan yang keras" di 33:11, (زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا) yang berarti "bumi diguncang dengan guncangannya" di 99:1, dan (زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ) yang berarti "guncangan hari Kiamat" di 22:1. Hanya di 2:214 kata kerja itu berdiri tanpa takaran apa pun, dan padanan "diguncang" dibiarkan sama telanjangnya.

Perpindahan bentuk kata kerja menandai batas berikutnya. (مَسَّتْهُمُ) dan (وَزُلْزِلُوا) berbentuk lampau, sedangkan sesudah (حَتَّىٰ) yang berarti "sampai", kata kerjanya berubah menjadi bentuk yang belum selesai, (يَقُولَ, yaquula) yang berarti "berkata", sehingga ucapan itu tidak ditutup sebagai peristiwa yang sudah lewat. Kata tanya (مَتَىٰ, mataa) yang berarti "kapankah" muncul 9 kali di seluruh mushaf, yaitu 2:214, 10:48, 17:51, 21:38, 27:71, 32:28, 34:29, 36:48, dan 67:25. Delapan di antaranya didahului kata "dan mereka berkata" sebagai tuntutan para pengingkar, dan 7 dari 8 itu ditutup syarat yang menantang kebenaran yang disapa, seperti pada (وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ) di 10:48. Di 2:214 kata tanya itu satu-satunya yang diletakkan pada mulut (الرَّسُولُ, ar-rasuulu) yang berarti "Rasul itu" beserta (وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ) yang berarti "dan orang-orang yang beriman bersamanya", dan tanpa syarat semacam itu. Teksnya tidak menyebutkan rasul yang mana; ia hanya memakai kata sandang.

Jawabannya memakai (قَرِيبٌ, qariibun) "dekat" tanpa kata sandang dan tanpa ukuran. Bentuk yang persis sama dengan kedudukan yang sama dipakai untuk Allah sendiri di dalam surah ini juga, pada (فَإِنِّي قَرِيبٌ) yang berarti "sesungguhnya Aku dekat" di 2:186; bentuk ini hadir dalam 10 ayat, di antaranya 2:186, 42:17, dan (وَفَتْحٌ قَرِيبٌ) yang berarti "dan kemenangan yang dekat" di 61:13. Pola jawabannya berbeda dari 17:51: di sana tuntutan (مَتَىٰ هُوَ) yang berarti "kapankah itu" dijawab (عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا) yang berarti "boleh jadi sudah dekat", sedangkan di sini jawabannya (أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ) tanpa "boleh jadi". Pembuka jawaban itu, (أَلَا) yang berarti "ingatlah", bergabung dengan penegas sesudahnya dalam 20 ayat; di surah ini gabungan itu hadir 3 kali, dan pada 2 yang lain ia membongkar, (أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ) di 2:12 dan (أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ) di 2:13, sedangkan di 2:214 ia menenangkan.

Tafsiran

Ayat ini tidak membantah dugaan yang disapanya. Ia tidak mengatakan bahwa taman itu tak akan dimasuki, dan tidak mengatakan bahwa yang disapa keliru menginginkannya. Yang dilakukannya lebih kecil dan lebih tajam: ia menyisipkan satu perkara yang belum masuk ke dalam hitungan, lalu membiarkan yang menghitung memeriksa sendiri hasilnya.

Letaknya dalam surah memperjelas apa yang sedang dikerjakannya. Ayat sebelumnya menutup dengan rezeki yang dibagi tanpa perhitungan, lalu 2:213 menyatakan manusia dahulu satu umat, para nabi diutus, dan Kitab diturunkan untuk memutus perselisihan mereka. Sorotan di sana ada pada yang diutus. Ayat 2:214 memindahkan sorotan itu kepada yang disapa, dan 2 ayat berikutnya menyebut dua hal yang harus dikeluarkan: harta pada 2:215, lalu nyawa pada (كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ) di 2:216 yang menyatakan bahwa apa yang diwajibkan itu justru dibenci. Pertanyaan 2:214 berdiri tepat di antara pernyataan tentang Kitab yang memutus dan perincian tentang apa yang harus dibayar.

Temanya sendiri bukan hal baru di surah ini. Pada (وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ) di 2:155 pengujian sudah diumumkan beserta daftarnya, dan 2:156 sudah mencatat kalimat yang diucapkan orang yang tertimpa, (إِنَّا لِلَّهِ) yang berarti "sungguh kami milik Allah". Yang ditambahkan 2:214 adalah kalimat kedua dari mulut yang sama, dan kalimat kedua itu bukan penyerahan melainkan pertanyaan. Surah ini karena itu memuat dua bunyi dari orang yang sedang ditimpa, dan tidak memilih salah satunya untuk membatalkan yang lain.

Cara ayat ini menyelesaikan pertanyaan itu terletak pada susunannya. Jawaban di ujung tidak memakai kosakata baru, ia memakai dua kata yang sama dengan pertanyaannya, hanya berpindah kedudukan lalu ditambah satu kata sifat. Rangkaian itu hadir 2 kali dalam ayat ini, dan 2:214 satu-satunya ayat yang memuatnya dua kali, sedangkan 110:1 dan 30:5 masing-masing memuatnya sekali. Jadi pertanyaan itu tidak diperbaiki, tidak ditegur, dan tidak diganti; ia dikembalikan dengan sebuah keterangan yang menempel padanya.

Perbandingannya dengan 3:142 memperlihatkan sisi lain. Pembukanya kata demi kata sama, tetapi yang dinyatakan "belum" berbeda. Di 2:214 yang belum adalah pengalaman yang belum sampai kepada yang disapa; di 3:142 pada (وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ) yang belum adalah apa yang belum ditampakkan tentang mereka sendiri. Dua ayat itu meletakkan kekurangan yang sama pada dua arah yang berlawanan, satu di luar diri dan satu di dalam diri. Yang ditawarkan 2:214 pada akhirnya bukan keterangan tentang lamanya menunggu, melainkan sebuah tempat: yang disapa ditempatkan pada satu barisan yang pertanyaannya sudah pernah diucapkan oleh yang paling depan di barisan itu, dan sudah dijawab di dalam kalimat yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yang dipakai ayat ini untuk dugaan berbagi akar dengan kata perhitungan, dan ayat sebelumnya memakai akar itu untuk pemberian yang dibagi tanpa dihitung. Seseorang yang merasa jalannya sudah lurus karena daftarnya sudah lengkap sebenarnya sedang memegang sebuah hitungan, dan ayat ini tidak membatalkan hitungan itu. Ia hanya menunjuk satu baris yang belum masuk, yaitu keadaan yang belum datang. Yang berpindah bukan kesimpulannya, melainkan sifatnya: dari perkara yang sudah ditutup menjadi perkara yang masih berjalan. Rasa aman yang lahir dari daftar yang lengkap ternyata bergantung pada satu hal yang tidak ada di daftar itu, dan tidak pernah bisa ditambahkan sendiri ke dalamnya.
  • Nama tempat yang diduga akan dimasuki itu, pada akarnya, menunjuk sesuatu yang tertutup dari pandangan; akar yang sama dipakai untuk malam yang menutupi, untuk perisai yang menudungi sumpah, dan untuk yang masih terlindung di dalam kandungan. Artinya yang sedang diterka bukan sesuatu yang bisa diperiksa dengan mata, dan nama tujuannya sendiri mengakui hal itu. Karena tak ada yang bisa dilihat di ujung jalan, tak ada pula yang bisa dipakai sebagai tanda bahwa seseorang sudah dekat ke sana. Ayat ini pun tidak menyingkap tudung itu sedikit pun. Alih-alih memperlihatkan ujungnya, ia menunjuk ke belakang, ke orang-orang yang telah berlalu, dan mengatakan bahwa yang menimpa mereka belum menimpa yang disapa.
  • Yang belum ada, kata ayat ini, belum datang kepada kalian. Susunannya menempatkan yang disapa sebagai yang dituju, bukan sebagai yang mencari, sebab keadaan sebanding itu berkedudukan sebagai pelaku yang menghampiri. Siapa yang ingin mempercepat kematangan dirinya dengan sengaja mencari kesulitan tidak menemukan pijakan di sini, sebab yang disebut bukan pencarian melainkan kedatangan. Yang juga tidak ditemukan adalah izin untuk berdiam saja, sebab kedatangan itu dinyatakan belum, bukan tidak akan. Yang tersisa justru keadaan yang paling sukar ditanggung, yaitu bersiap untuk sesuatu yang bentuknya tidak diberitahukan dan waktunya tidak dijanjikan.
  • Dua ayat lain memakai pasangan kata yang sama dengan pelaku yang disebut terang, yaitu Kami timpakan; ayat ini tidak. Di sini kemelaratan dan penderitaan itu sendiri yang menyentuh, dan tidak ada tangan yang ditunjuk di belakang keduanya. Seseorang yang sedang tertimpa dan menuntut sebuah nama, supaya ada yang bisa dimarahi atau disalahkan, menemukan kalimat yang menahan nama itu. Yang tidak ditahan adalah kata kerjanya, dan kata kerjanya adalah kata untuk sentuhan, bukan untuk penghancuran. Beban yang sama bisa diceritakan sebagai kehancuran atau sebagai persentuhan, dan ayat ini memilih yang kedua tanpa mengurangi beratnya sedikit pun.
  • Di tiga ayat lain guncangan selalu datang bersama kata yang menakarnya: keras, sebesar guncangan bumi, sebesar guncangan hari Kiamat. Di ayat ini kata kerjanya berdiri sendiri, dan mereka diguncang, tanpa keterangan apa pun sesudahnya. Siapa yang biasa menimbang kesulitannya terhadap sebuah ambang, untuk memutuskan apakah yang dialaminya cukup berat untuk disebut guncangan, tidak diberi ambang itu di sini. Akibatnya berjalan ke dua arah sekaligus: tidak ada dasar untuk menyatakan penderitaan sendiri terlalu kecil sehingga tidak perlu dihitung, dan tidak ada dasar untuk menyatakannya paling besar sehingga tidak ada yang berhak menimbangnya. Keduanya sama-sama runtuh pada satu kata kerja yang dibiarkan tanpa ukuran.
  • Kata tanya kapankah muncul 9 kali di dalam mushaf, dan 8 di antaranya (a.l. 10:48, 17:51, 27:71) keluar dari mulut para pengingkar sebagai tuntutan yang menantang. Yang kesembilan ada di ayat ini, dan di sini ia diucapkan Rasul beserta orang-orang yang beriman bersamanya. Siapa yang menyimpan pertanyaan itu diam-diam, karena mengira menanyakannya berarti mengakui imannya sedang runtuh, mendapati pertanyaannya sudah tercatat sebelum ia sendiri mengucapkannya, dan tercatat pada barisan yang paling depan. Ayat ini tidak menghibur dengan mengatakan bahwa pertanyaan semacam itu wajar. Ia hanya menempatkannya, dan penempatan itulah yang memindahkan kedudukan orang yang bertanya.
  • Jawaban di ujung ayat ini tersusun dari kata-kata pertanyaannya sendiri, yaitu pertolongan Allah, ditambah satu kata: dekat. Tidak ada angka, tidak ada tanggal, dan tidak ada tanda bahwa yang menunggu akan diberi tahu berapa lama lagi. Siapa yang datang mencari jadwal akan pulang dengan tangan kosong, sebab yang diberikan bukan waktu melainkan jarak. Bentuk kata yang sama, di surah yang sama, dipakai untuk Allah sendiri ketika hamba-hamba-Nya bertanya tentang Dia pada 2:186. Yang berubah bagi orang yang menunggu karena itu bukan panjang penantiannya, sebab panjangnya memang tidak disebutkan, melainkan siapa yang berada di dekat ujung penantian itu.