إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِinna lladziina aamanuu wa-lladziina haajaruu wa-jaahaduu fii sabiili llaahi ulaa'ika yarjuuna rahmata llaahisesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah
- وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌwa-llaahu ghafuurun rahiimundan Allah pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (16 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
- هَاجَرُواhaajaruumereka berhijrah
- وَجَاهَدُواwa-jaahaduudan mereka berjihad
- فِيfiidi
- سَبِيلِsabiilijalan
- اللَّهِllaahiAllah
- أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
- يَرْجُونَyarjuunamereka mengharapkan
- رَحْمَتَrahmatarahmat
- اللَّهِllaahiAllah
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Tiga elemen disatukan sebagai dasar harapan rahmat: iman, hijrah (meninggalkan yang buruk), dan jihad (berjuang) di jalan Allah, kombinasi keyakinan-batin, tindakan-perpindahan, dan usaha-aktif. Konkretnya: harapan akan rahmat tidak berdiri sendiri dari tindakan nyata, iman yang sejati disertai kesediaan meninggalkan kondisi buruk dan berjuang aktif, bukan pengakuan pasif semata.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka (إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا, inna lladziina aamanuu) "sesungguhnya orang-orang yang beriman", lalu (وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ, wa-lladziina haajaruu wa-jaahaduu fii sabiili llaahi) "dan orang-orang yang berpindah dan berjuang di jalan Allah". Kata (الَّذِينَ, alladziina) muncul dua kali, bukan satu, membentuk dua kelompok kata sifat yang disatukan huruf wa; berbeda dari 8:74 dan 9:20, tempat tiga kata kerja yang sama, beriman, berpindah, berjuang, dirangkai dalam satu (الَّذِينَ) saja, (وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ, wa-lladziina aamanuu wa-haajaruu wa-jaahaduu fii sabiili llaahi). Ayat ini memisahkan "beriman" sebagai kelompoknya sendiri, lalu menyatukan "berpindah" dan "berjuang" sebagai kelompok kedua.
(جَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ, jaahaduu fii sabiili llaahi) muncul 3 kali di mushaf dengan bentuk persis ini: di sini, 8:74, dan 9:20. Ketiganya berbagi tiga kata kerja yang sama, tapi penutupnya berbeda semua. 8:74 ditutup (لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ, lahum maghfiratun wa-rizqun kariimun) "bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia". 9:20 ditutup (أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ, a'zhamu darajatan 'inda llaahi) "lebih tinggi derajatnya di sisi Allah", lalu (وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ, wa-ulaa'ika humu l-faa'izuuna) "dan mereka itulah orang-orang yang beruntung". Ayat ini tidak memakai kepastian semacam itu; ia memakai (يَرْجُونَ, yarjuuna) "mengharapkan".
(يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ, yarjuuna rahmata llaahi) "mengharapkan rahmat Allah". Akar yang berarti mengharap itu ini muncul 12 kali di 9 surah: di sini, 4:104, 10:7, 10:11, 10:15, 17:57, 24:60, 25:21, 25:40, 35:29, 45:14, dan 78:27. Bentuk (يَرْجُونَ, yarjuuna) tidak menyatakan kepastian diterima; ia menyatakan harapan yang belum tentu terpenuhi. Perbandingan dengan 8:74 dan 9:20 memperlihatkan celah itu: dua ayat itu menyatakan kepastian langsung, ampunan yang diberikan, derajat yang ditinggikan; ayat ini menyatakan harapan, bukan pemberian yang sudah dijamin. Akar yang sama menunjukkan harapan itu bukan kekosongan tanpa isi: di 4:104, (وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ, wa-tarjuuna mina llaahi maa laa yarjuuna) "dan kalian mengharapkan dari Allah apa yang tidak mereka harapkan" menempatkan harapan sebagai sesuatu yang justru tidak dimiliki pihak lain; di 35:29, (يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ, yarjuuna tijaaratan lan tabuura) "mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi" menempatkannya sesudah amal yang disebut rinci, bacaan, salat, dan sedekah.
Penutupnya, (وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ, wa-llaahu ghafuurun rahiimun) "dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang", dua sebutan tanpa kata sandang, sebagaimana dijumpai juga di 2:199; bandingkan 46:8 yang memuat pasangan sama dengan kata sandang, (الْغَفُورُ الرَّحِيمُ, al-ghafuuru r-rahiimu). Penutup ini tidak menjawab harapan yang baru disebut secara langsung; ia berdiri sebagai pernyataan sifat, bukan sebagai jaminan hasil.
Tafsiran
Ayat ini menyusun dua kelompok yang terpisah, bukan satu daftar tiga tindakan yang sejajar. Susunan itu berbeda dari 8:74 dan 9:20 yang memakai tiga kata kerja yang sama; di sana ketiganya melebur menjadi satu ciri satu golongan, di sini keimanan berdiri sendiri sebelum berpindah dan berjuang disandingkan sebagai pasangannya.
Tiga ayat yang membagi kata kerja berjuang di jalan Allah yang sama berakhir dengan tiga penutup yang berbeda derajat kepastiannya. Dua di antaranya menyatakan kepastian: ampunan yang diberikan, derajat yang ditinggikan, kemenangan yang disandang. Ayat ini satu-satunya yang berhenti pada harapan.
Harapan yang disebut di sini tidak diikuti jaminan bahwa harapan itu terpenuhi. Ayat berhenti pada kata mengharapkan, lalu berpindah ke pernyataan sifat Allah, pengampun dan penyayang, tanpa menyambungkan keduanya dengan kepastian bahwa sifat itu pasti berlaku bagi yang mengharapkannya. Jarak antara mengharapkan dan menerima dibiarkan terbuka, tidak ditutup oleh ayat ini sendiri.
Dibaca berdampingan dengan 8:74 dan 9:20, ayat ini bukan yang paling meyakinkan tentang hasil perbuatan yang disebutnya. Ia justru yang paling menahan diri, sementara ketiganya sama-sama menyebut tiga perbuatan yang sama. Keteguhan sebuah perbuatan, menurut susunan ini, tidak dengan sendirinya menghasilkan bahasa yang paling pasti tentang balasannya.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini tidak melebur beriman ke dalam satu daftar bersama berpindah dan berjuang. Ia memisahkannya sebagai kelompok tersendiri lebih dulu, baru menyandingkannya dengan kelompok kedua. Susunan itu menahan sebuah kesimpulan yang mudah diambil tergesa, bahwa iman baru dianggap lengkap kalau disertai tindakan yang kelihatan. Ayat ini menempatkan iman sebagai sesuatu yang berdiri lebih dulu atas haknya sendiri, sebelum tindakan apa pun disandingkan dengannya.
- Dua ayat lain yang menyebut perbuatan serupa berhenti pada kepastian, ampunan yang diberikan, derajat yang ditinggikan. Ayat ini berhenti pada kata mengharapkan. Perbedaan itu bukan soal siapa yang perbuatannya lebih berat, sebab ketiganya menyebut perbuatan yang sama. Yang berbeda adalah bahasa yang dipilih untuk menutupnya. Pembaca yang mencari jaminan mutlak atas perbuatannya sendiri menemukan di sini contoh bahwa kesungguhan tidak selalu dijawab dengan bahasa kepastian, kadang ia dijawab dengan bahasa harapan yang tetap terbuka.
- Ayat ini menyebut harapan, lalu menyebut sifat Allah, tanpa menyambungkan keduanya secara langsung. Ada jarak yang dibiarkan berdiri di antara berharap dan menerima, dan ayat ini tidak buru-buru menutupnya. Pembaca yang menuntut jaminan sebelum bersedia berharap tidak akan menemukannya di sini. Yang tersedia hanyalah harapan itu sendiri, berdiri berdampingan dengan pengakuan bahwa Allah pengampun dan penyayang, tanpa satu pun kata yang menjembatani keduanya menjadi kepastian.
- Perbuatan yang sama, disebut dengan kata yang sama persis, muncul di tiga ayat berbeda dengan tiga nada penutup yang berbeda. Kalau perbuatannya sama, dan yang berubah hanya nadanya, maka nada itu sendiri bukan penilaian atas besar-kecilnya perbuatan. Pembaca yang mengukur seberapa dihargai perbuatannya dari seberapa pasti bahasa yang menyertainya bisa saja keliru; kepastian bahasa dan besar perbuatan ternyata dua hal yang tidak selalu berjalan beriringan.
- Penutup ayat ini menyebut dua sifat Allah tanpa menjanjikan secara eksplisit bahwa keduanya akan berlaku bagi yang baru disebut mengharapkan rahmat. Sifat itu dinyatakan berdiri sendiri, bukan sebagai kesimpulan logis dari kalimat sebelumnya. Ada perbedaan antara menyebut sebuah sifat dan menjanjikan penerapannya pada seseorang, dan ayat ini memilih yang pertama, membiarkan pembaca sendiri yang menghubungkannya dengan harapan yang baru saja ia baca.
- Ayat ini menyebut berpindah dan berjuang tanpa merincikan ke mana, kapan, atau melawan siapa. Yang tercatat hanya tindakannya, bukan latar peristiwanya. Pembaca yang mencari rincian sejarah di balik dua kata itu tidak akan menemukannya di sini; yang tersedia hanya pola tindakannya, dipertemukan dengan iman sebagai kelompok yang berdiri sendiri lebih dulu, dan itu sudah menjadi seluruh keterangan yang diberikan ayat ini tentang keduanya.