يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya ada dosa besar dan manfaat-manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaat keduanya.” Dan mereka bertanya kepadamu, apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Kelebihan.” Demikianlah Allah menjelaskan tanda-tanda bagi kalian, agar kalian berpikir.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِyas'aluunaka 'ani l-khamri wa-l-maysirimereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi
- قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَاqul fiihimaa itsmun kabiirun wa-manaafi'u li-n-naasi wa-itsmuhumaa akbaru min naf'ihimaakatakanlah, pada keduanya ada dosa besar dan manfaat-manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaat keduanya
- وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَwa-yas'aluunaka maadzaa yunfiquuna quli l-'afwadan mereka bertanya kepadamu, apa yang harus mereka infakkan, katakanlah, kelebihan
- كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَka-dzaalika yubayyinu llaahu lakumu l-aayaati la'allakum tatafakkaruunademikianlah Allah menjelaskan tanda-tanda bagi kalian, agar kalian berpikir
Terjemahan per kata (26 kata)
- يَسْأَلُونَكَyas'aluunakamereka bertanya kepadamu
- عَنِ'anitentang
- الْخَمْرِl-khamrikhamar
- وَالْمَيْسِرِwa-l-maysiridan judi
- قُلْqulkatakanlah
- فِيهِمَاfiihimaapada keduanya
- إِثْمٌitsmundosa
- كَبِيرٌkabiirunyang besar
- وَمَنَافِعُwa-manaafi'udan manfaat
- لِلنَّاسِli-n-naasikepada manusia
- وَإِثْمُهُمَاwa-itsmuhumaadan dosa keduanya
- أَكْبَرُakbarulebih besar
- مِنْmindari
- نَفْعِهِمَاnaf'ihimaamanfaat keduanya
- وَيَسْأَلُونَكَwa-yas'aluunakadan mereka bertanya kepadamu
- مَاذَاmaadzaaapa
- يُنْفِقُونَyunfiquunamenginfakkan
- قُلِqulikatakanlah
- الْعَفْوَl-'afwamaaf
- كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
- يُبَيِّنُyubayyinumenjelaskan
- اللَّهُllaahuAllah
- لَكُمُlakumubagi kalian
- الْآيَاتِl-aayaatitanda-tanda
- لَعَلَّكُمْla'allakumagar kalian
- تَتَفَكَّرُونَtatafakkaruunakalian merenungkan
Inti bacaan
Prinsip timbang untung-rugi diperkenalkan eksplisit untuk khamar dan judi: 'ada manfaat, tapi dosanya lebih besar dari manfaatnya', sebuah kerangka analisis yang mengakui kompleksitas (bukan hitam-putih sederhana) sambil tetap sampai pada kesimpulan jelas. Konkretnya: menilai kebiasaan atau kebijakan yang punya sisi manfaat dan mudarat sekaligus perlu perbandingan jujur skala keduanya, pengakuan adanya manfaat tidak menghalangi kesimpulan bahwa mudaratnya lebih besar.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka pola pertanyaan yang ketiga kalinya muncul di rangkaian ini, sesudah 2:215 dan 2:217, (يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ, yas'aluunaka 'ani l-khamri wa-l-maysiri) "mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi". Bentuk (الْخَمْرِ, al-khamri) dengan harakat kasrah ini, sesudah kata depan, muncul 2 kali di mushaf: di sini dan di 5:91. (الْمَيْسِرِ, al-maysiri) dengan harakat yang sama juga 2 kali, di tempat yang sama. Kedua ayat itulah satu-satunya tempat mushaf membicarakan dua perkara ini berdampingan.
Jawabannya, (قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ, qul fiihimaa itsmun kabiirun wa-manaafi'u li-n-naasi) "katakanlah, pada keduanya ada dosa besar dan manfaat bagi manusia". (إِثْمٌ كَبِيرٌ, itsmun kabiirun) satu-satunya kemunculan rangkaian ini di seluruh mushaf. Ayat tidak menyangkal adanya manfaat; ia mengakuinya sejajar dengan dosa, lalu menimbang keduanya, (وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا, wa-itsmuhumaa akbaru min naf'ihimaa) "dan dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya". Timbangan ini tidak meniadakan salah satu sisi; ia menyatakan yang satu lebih besar, bukan yang lain sama sekali tidak ada.
Perbandingan dengan 5:90 dan 5:91 memperlihatkan pilihan kata yang berbeda derajat. 5:90 memakai (رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ, rijsun min 'amali sy-syaythaani) "kotoran dari perbuatan setan", lalu perintah langsung (فَاجْتَنِبُوهُ, fa-jtanibuuhu) "maka jauhilah ia". 5:91 menutup dengan pertanyaan, (فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ, fa-hal antum muntahuuna) "maka tidakkah kalian mau berhenti". Ayat ini sendiri tidak memakai sebutan "kotoran" maupun perintah "jauhilah"; ia memakai bahasa penimbangan, dosa dan manfaat yang ditimbang, bukan sebutan yang langsung menolak salah satu sisi.
Pertanyaan kedua, (وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ, wa-yas'aluunaka maadzaa yunfiquuna) "dan mereka bertanya kepadamu apa yang harus mereka infakkan", sudah dijawab dengan pola berbeda di 2:215, (فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ, fa-li-l-waalidayni wa-l-aqrabiina) "maka bagi kedua orang tua dan kerabat terdekat", jawaban tentang arah. Ayat ini menjawab pertanyaan yang sama dengan jawaban berbeda, (قُلِ الْعَفْوَ, quli l-'afwa) "katakanlah, kelebihan", jawaban tentang ukuran. (الْعَفْوَ, al-'afwa) di sini bukan berarti "maaf", melainkan "yang berlebih", sesuatu yang tersisa sesudah kebutuhan tercukupi.
Penutupnya, (كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ, kadzaalika yubayyinu llaahu lakumu l-aayaati la'allakum tatafakkaruuna) "demikianlah Allah menjelaskan tanda-tanda bagi kalian agar kalian berpikir", rangkaian yang muncul persis sama di 2:266, ayat yang bukan tentang khamar atau infak, melainkan perumpamaan sebuah kebun yang terbakar tepat ketika pemiliknya sudah tua dan anak-anaknya masih lemah. Rumus penutup yang sama dipakai untuk dua perkara yang jauh berbeda isinya.
Tafsiran
Ayat ini menjawab dua pertanyaan yang berurutan dengan cara berpikir yang sama: menimbang, bukan sekadar melarang atau mengizinkan secara mutlak. Pada pertanyaan pertama, dua sisi diakui berdiri berdampingan, dosa dan manfaat, lalu ditimbang. Pada pertanyaan kedua, bukan soal boleh-tidaknya berinfak yang dijawab, melainkan ukurannya.
Perbandingan dengan 5:90 dan 5:91 memperlihatkan bahwa mushaf menyimpan lebih dari satu cara berbicara tentang perkara yang sama. Di satu tempat bahasanya penimbangan; di tempat lain bahasanya penolakan langsung disertai perintah menjauh. Ayat ini menempati posisinya sendiri di dalam rangkaian penyampaian itu, dan posisi itu berbeda dari posisi ayat lain yang membahas hal yang sama.
Jawaban tentang infak di sini tidak menyebutkan kepada siapa, seperti jawaban yang menyusul 2:215 tentang arahnya. Ia menyebutkan berapa, dan jawabannya bukan angka melainkan sebuah ukuran relatif, kelebihan sesudah kebutuhan. Dua jawaban atas pertanyaan yang serupa, satu tentang arah dan satu tentang ukuran, saling melengkapi tanpa satu pun menyebut angka pasti.
Penutup ayat ini, bahwa Allah menjelaskan tanda-tanda agar manusia berpikir, dipakai lagi persis sama pada sebuah perumpamaan yang jauh berbeda temanya di 2:266. Rumus yang berulang itu menunjukkan bahwa yang dituntut dari pembaca bukan hafalan atas kesimpulan yang sudah jadi, melainkan kesediaan berpikir pada setiap perkara yang dijelaskan, apa pun temanya.
Renungan dan Hikmah
- Jawaban ayat ini tidak menyangkal bahwa ada manfaat pada dua perkara yang ditanyakan. Ia mengakuinya, lalu meletakkannya di sisi timbangan yang sama dengan dosa, dan menyatakan salah satu sisi lebih berat. Cara menjawab seperti ini berbeda dari menjawab dengan menyangkal salah satu sisi sama sekali. Pembaca yang terbiasa dengan jawaban yang menghapus satu sisi demi meyakinkan menemukan di sini pola yang lebih jujur secara timbangan, mengakui dua sisinya, baru menyatakan yang mana lebih berat.
- Ayat lain di mushaf yang membahas perkara sama memakai bahasa yang lebih tegas, sebutan kotoran dan perintah menjauhi langsung. Ayat ini memakai bahasa penimbangan. Dua cara bicara itu berdiri berdampingan dalam mushaf yang sama, bukan saling meniadakan. Pembaca yang mencari satu nada tunggal untuk memahami sebuah perkara menemukan bahwa mushaf ini kadang memilih menimbang lebih dulu sebelum menegaskan, dan kadang menegaskan langsung, tergantung tempat dan susunannya.
- Pertanyaan yang sama, apa yang diinfakkan, mendapat dua jawaban berbeda di dua tempat, satu tentang kepada siapa, satu tentang berapa banyak. Ayat ini memberi jawaban kedua, sebuah ukuran relatif yang bergantung pada kebutuhan masing-masing orang, bukan angka tetap yang berlaku sama bagi semua. Pembaca yang mencari patokan pasti tidak akan menemukannya di sini; yang tersedia adalah prinsip yang bentuknya berbeda pada tiap orang, kelebihan sesudah kebutuhan tercukupi. Kata yang menjadi jawaban itu (الْعَفْوَ) muncul di dua ayat dalam bentuk ini, di sini dan di 7:199. Di ayat kedua ia diperintahkan sebagai sikap terhadap manusia, yaitu mengambil sikap memaafkan. Jadi satu kata menjadi ukuran harta yang diinfakkan dan menjadi sikap terhadap kesalahan orang. Apa yang menyatukan keduanya? Keduanya berarti mengambil yang lebih dari kebutuhan lalu melepaskannya.
- Kalimat penutup ayat ini, tentang penjelasan yang diberikan agar manusia berpikir, muncul lagi persis sama pada sebuah perumpamaan yang temanya sama sekali berbeda. Rumus itu bukan rumus khusus untuk perkara yang baru dibahas, ia sebuah pola umum yang menyertai penjelasan apa pun. Bagi pembaca, itu berarti ajakan berpikir yang menyertai ayat ini bukan pengecualian untuk topik yang berat, melainkan cara mushaf ini biasa menutup penjelasannya.
- Ayat ini menyatakan ada dosa besar tanpa merinci bentuknya, dan menyatakan ada manfaat tanpa merinci wujudnya. Kedua sisi disebut sebagai kategori, bukan daftar. Pembaca yang mencari rincian konkret tentang apa saja yang termasuk dosa itu atau apa saja yang termasuk manfaatnya tidak akan menemukannya di ayat ini; yang diberikan hanya hasil penimbangannya, bukan isi lengkap dari kedua sisi yang ditimbang.
- Penutup ayat ini tidak berkata 'demikianlah Allah menetapkan hukum bagi kalian', ia berkata 'menjelaskan tanda-tanda agar kalian berpikir'. Pilihan kata itu menaruh pembaca pada posisi yang aktif, bukan penerima pasif sebuah kesimpulan. Seseorang yang membaca ayat ini hanya untuk menghafal hasil akhirnya, dosa lebih besar dari manfaat, tanpa mengikuti cara ayat ini sampai pada kesimpulan itu, melewatkan justru apa yang diminta penutupnya sendiri.