فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۗ وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ ۖ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak-anak yatim. Katakanlah, “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik. Dan jika kalian bercampur dengan mereka, mereka adalah saudara-saudara kalian.” Dan Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dari orang yang berbuat perbaikan. Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia mendatangkan kesulitan kepada kalian. Sesungguhnya Allah digdaya lagi penuh hikmah.
Terjemahan bertahap (7 jeda)
- فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِfii d-dunyaa wa-l-aakhiratitentang dunia dan akhirat
- وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَىٰwa-yas'aluunaka 'ani l-yataamaadan mereka bertanya kepadamu tentang anak-anak yatim
- قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌqul ishlaahun lahum khayrunkatakanlah, memperbaiki keadaan mereka adalah baik
- وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْwa-in tukhaalithuuhum fa-ikhwaanukumdan jika kalian bercampur dengan mereka, mereka adalah saudara-saudara kalian
- وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِwa-llaahu ya'lamu l-mufsida mina l-mushlihidan Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dari orang yang berbuat perbaikan
- وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْwa-law syaa'a llaahu la-a'natakumdan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia mendatangkan kesulitan kepada kalian
- إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌinna llaaha 'aziizun hakiimunsesungguhnya Allah digdaya lagi penuh hikmah
Terjemahan per kata (26 kata)
- فِيfiitentang
- الدُّنْيَاd-dunyaadunia
- وَالْآخِرَةِwa-l-aakhiratidan akhirat
- وَيَسْأَلُونَكَwa-yas'aluunakadan mereka bertanya kepadamu
- عَنِ'anitentang
- الْيَتَامَىٰl-yataamaaanak-anak yatim
- قُلْqulkatakanlah
- إِصْلَاحٌishlaahunperbaikan
- لَهُمْlahumbagi mereka
- خَيْرٌkhayrunlebih baik
- وَإِنْwa-indan jika
- تُخَالِطُوهُمْtukhaalithuuhumkalian bergaul dengan mereka
- فَإِخْوَانُكُمْfa-ikhwaanukummaka saudara-saudara kalian
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- يَعْلَمُya'lamumengetahui
- الْمُفْسِدَl-mufsidayang berbuat kerusakan
- مِنَminadari
- الْمُصْلِحِl-mushlihiyang berbuat baik
- وَلَوْwa-lawdan sekiranya
- شَاءَsyaa'amenghendaki
- اللَّهُllaahuAllah
- لَأَعْنَتَكُمْla-a'natakumsungguh Dia akan menyulitkan kalian
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- عَزِيزٌ'aziizunMahaperkasa
- حَكِيمٌhakiimunbijaksana
Inti bacaan
Soal mengurus yatim, jawabannya sederhana: 'memperbaiki keadaan mereka adalah baik' dan mereka adalah 'saudara' jika dipergauli, bukan aturan rumit, melainkan prinsip hubungan yang manusiawi. Konkretnya: mengurus anak yatim (atau siapa pun yang rentan) sebaiknya didekati dengan semangat persaudaraan yang tulus, bukan sekadar kewajiban administratif berjarak.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka lanjutan dari penutup 2:219, (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ, fii d-dunyaa wa-l-aakhirati) "tentang dunia dan akhirat", sebelum berpindah ke pertanyaan baru, (وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَىٰ, wa-yas'aluunaka 'ani l-yataamaa) "dan mereka bertanya kepadamu tentang anak-anak yatim", pertanyaan keempat berturut-turut sesudah 2:215, 2:217, dan 2:219. Rangkaian (فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ) sendiri muncul 13 kali di 7 surah, termasuk di 2:217 sebelumnya di rangkaian yang sama, tentang amal yang batal.
Jawabannya, (قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ, qul ishlaahun lahum khayrun) "katakanlah, memperbaiki keadaan mereka itu baik", satu-satunya kemunculan rangkaian ini di seluruh mushaf. (إِصْلَاحٌ, ishlaahun) berakar pada akar yang berarti baik dan pantas, akar yang muncul lagi dalam bentuk berbeda tiga kata sesudahnya.
(وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ, wa-in tukhaalithuuhum fa-ikhwaanukum) "dan jika kalian mencampuri urusan mereka, maka mereka saudara kalian", satu-satunya kemunculan (تُخَالِطُوهُمْ, tukhaalithuuhum) di seluruh mushaf. Sebutan (إِخْوَانُكُمْ, ikhwaanukum) "saudara kalian" muncul dalam bentuk ini di 3 ayat: di sini, 9:11, dan 33:5, dan pada dua tempat lain sebutan itu diberikan atas dasar keimanan yang sama, (فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ, fa-ikhwaanukum fi d-diini) "maka mereka saudara kalian seagama" di 9:11. Hanya di sini sebutan saudara diberikan sebagai jawaban atas kekhawatiran mencampuri harta anak yatim, bukan atas dasar keimanan yang sama.
(وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ, wa-llaahu ya'lamu l-mufsida mina l-mushlihi) "dan Allah mengetahui yang merusak dari yang memperbaiki", satu-satunya kemunculan rangkaian ini. Kedua kata itu berasal dari akar yang sama, yang berarti baik dan pantas, satu berbentuk pelaku kerusakan dan satu berbentuk pelaku perbaikan; hanya perbedaan awalan yang memisahkan keduanya secara tertulis, dan hanya Allah yang dinyatakan mengetahui pembedaan itu.
(وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ, wa-law syaa'a llaahu la-a'natakum) "dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan menyulitkan kalian", satu-satunya kemunculan (لَأَعْنَتَكُمْ, la-a'natakum) di seluruh mushaf. Rangkaian pembuka (وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ, wa-law syaa'a llaahu) sendiri muncul 11 kali di 7 surah: 2:20, 2:220, 2:253, 4:90, 5:48, 6:35, 6:107, 6:137, 16:93, 23:24, dan 42:8. Penutupnya, (إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ, inna llaaha 'aziizun hakiimun) "sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana", pasangan tanpa kata sandang yang sudah dijumpai di 2:209 dengan susunan berbeda, (فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ, fa-'lamuu anna llaaha 'aziizun hakiimun).
Tafsiran
Ayat ini menyusun kekhawatiran dan jawabannya dalam urutan yang tidak biasa. Kekhawatiran yang mendasari pertanyaan tentang anak yatim biasanya soal mencampuri urusan mereka; ayat ini menjawabnya bukan dengan larangan mencampuri, melainkan dengan mengizinkan pencampuran itu sekaligus menamai ulang hubungannya, saudara.
Sebutan saudara yang diberikan di sini berbeda dasarnya dari dua tempat lain yang memakai sebutan sama persis. Di 9:11 sebutan itu berdiri di atas keimanan yang sama. Di sini ia berdiri di atas urusan yang dicampur bersama. Dasar yang berbeda menghasilkan sebutan yang sama, dan itu memperlihatkan bahwa mushaf ini tidak menyimpan sebutan saudara hanya untuk satu jenis ikatan.
Dua kata yang berasal dari akar yang sama, memperbaiki dan merusak, disandingkan dalam satu kalimat yang menyatakan hanya Allah yang mengetahui pembedaannya. Ayat tidak memberikan tanda lahiriah untuk membedakan siapa yang benar-benar memperbaiki dan siapa yang menyamar sebagai pemerbaik. Ketidaktahuan itu dibiarkan berdiri, tidak ditutup dengan kriteria yang bisa diperiksa dari luar oleh sesama manusia.
Ayat ini mengakui bahwa aturan yang lebih ketat bisa saja diberlakukan. Ungkapan bahwa Allah bisa saja menyulitkan jika Dia menghendaki menempatkan kelonggaran yang baru saja diberikan sebagai pilihan, bukan keharusan yang tidak bisa lain. Kelonggaran itu bersanding dengan dua sifat penutup, kekuatan dan kebijaksanaan, seolah kelonggaran ini sendiri wujud dari keduanya, bukan kelemahan dalam menegakkan aturan.
Renungan dan Hikmah
- Kekhawatiran yang biasa muncul saat mengurus harta orang lain adalah kekhawatiran mencampurinya terlalu jauh. Ayat ini tidak menjawab kekhawatiran itu dengan menjaga jarak yang lebih ketat. Ia menjawabnya dengan mengizinkan urusan itu dicampur, lalu menamai ulang hubungannya menjadi saudara. Pembaca yang menduga jawaban yang lebih aman selalu berupa pembatasan yang lebih ketat menemukan di sini arah yang berlawanan, kedekatan yang diizinkan, bukan jarak yang dipertahankan.
- Sebutan saudara di ayat ini tidak berdiri di atas dasar yang sama dengan sebutan saudara di dua tempat lain, yang berdiri di atas keimanan bersama. Di sini dasarnya adalah urusan yang dicampur bersama, sebuah kedekatan yang lahir dari keterlibatan, bukan dari kesamaan keyakinan. Sebutan yang sama bisa berdiri di atas dasar yang berbeda-beda, dan itu berarti kedekatan semacam persaudaraan tidak selalu menuntut kesamaan yang biasanya dianggap syarat utamanya.
- Dua kata yang menamai perusak dan pemerbaik berasal dari akar yang sama, hanya berbeda pada awalannya. Ayat ini menyatakan hanya Allah yang mengetahui pembedaan itu, bukan siapa pun yang mengamati dari luar. Kedekatan bentuk kedua kata itu menjadi cermin dari kedekatan wujudnya di dunia nyata: niat memperbaiki dan tindakan yang justru merusak bisa tampil dengan wajah yang nyaris sama, dan ayat ini tidak menjanjikan pembaca kemampuan membedakannya dengan pasti.
- Ayat ini menyebutkan secara terbuka bahwa aturan yang lebih menyulitkan bisa saja diberlakukan. Kelonggaran yang diberikan karena itu bukan satu-satunya jalan yang tersedia, melainkan jalan yang dipilih. Penutupnya menyandingkan kelonggaran itu dengan sifat kekuatan dan kebijaksanaan, bukan dengan sifat pengasih semata. Pembaca yang mengira kelonggaran selalu tanda kelunakan menemukan di sini kelonggaran yang justru disandingkan dengan kekuatan, sebuah pilihan dari posisi yang mampu memilih sebaliknya.
- Kata saudara di ayat ini muncul sebagai akibat dari sebuah tindakan, mencampuri urusan bersama, bukan sebagai status yang sudah ada sebelumnya. Hubungan semacam ini tumbuh dari keterlibatan yang dijalani, bukan dari garis keturunan atau pengakuan yang diucapkan lebih dulu. Pembaca yang mengira ikatan persaudaraan hanya bisa datang dari asal-usul yang sama menemukan di sini contoh ikatan yang lahir dari keterlibatan sehari-hari dalam urusan yang sama.
- Ayat ini tidak menutup celah antara niat baik dan niat buruk dengan sebuah ujian yang bisa dilakukan siapa saja. Ia membiarkan celah itu terbuka, dan menempatkan pengetahuan atasnya hanya pada Allah. Pembaca yang berharap ada cara pasti memeriksa niat orang lain sebelum mempercayakan sesuatu kepadanya tidak akan menemukan cara itu di sini. Yang tersedia hanyalah kesadaran bahwa perbedaan itu ada, dan bahwa pembedaannya bukan wewenang manusia.