وَلَا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمَانِكُمْ أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Dan janganlah kalian jadikan Allah sebagai penghalang bagi sumpah-sumpah kalian untuk berbuat baik, bertakwa, dan mendamaikan di antara manusia. Dan Allah Yang Mendengar lagi Sang Berilmu.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمَانِكُمْ أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِwa-laa taj'aluu llaaha 'urdhatan li-aymaanikum an tabarruu wa-tattaquu wa-tushlihuu bayna n-naasidan janganlah kalian jadikan Allah sebagai penghalang bagi sumpah-sumpah kalian untuk berbuat baik, bertakwa, dan mendamaikan di antara manusia
- وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌwa-llaahu samii'un 'aliimundan Allah Yang Mendengar lagi Sang Berilmu
Terjemahan per kata (14 kata)
- وَلَاwa-laadan janganlah
- تَجْعَلُواtaj'aluukalian menjadikan
- اللَّهَllaahaAllah
- عُرْضَةً'urdhatanpenghalang
- لِأَيْمَانِكُمْli-aymaanikumbagi sumpah kalian
- أَنْanuntuk
- تَبَرُّواtabarruukalian berbuat baik
- وَتَتَّقُواwa-tattaquudan kalian bertakwa
- وَتُصْلِحُواwa-tushlihuudan kalian mendamaikan
- بَيْنَbaynadi antara
- النَّاسِn-naasimanusia
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- سَمِيعٌsamii'unmendengar
- عَلِيمٌ'aliimunberilmu
Inti bacaan
Larangan menjadikan nama Allah 'sebagai penghalang' dari berbuat baik, sumpah yang dipakai untuk menghindari kebaikan (bukan untuk menegaskan komitmen) adalah penyalahgunaan nama Ilahi. Konkretnya: menggunakan alasan agama/prinsip untuk menghindari kewajiban berbuat baik (misalnya 'aku sudah bersumpah tidak akan membantu dia lagi') adalah penyalahgunaan nilai spiritual, sumpah seharusnya memperkuat kebaikan, bukan jadi tameng menghindarinya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka (وَلَا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمَانِكُمْ, wa-laa taj'aluu llaaha 'urdhatan li-aymaanikum) "dan janganlah kalian jadikan Allah sasaran sumpah kalian". (عُرْضَةً, 'urdhatan) satu-satunya kemunculannya di seluruh mushaf, dari akar yang berarti menghadapkan dan melintang. Akar yang sama, dalam bentuk lain, dipakai untuk barang duniawi yang bersifat sementara, (عَرَضَ هَٰذَا الْأَدْنَىٰ, 'aradha haadzaa l-adnaa) "barang dunia yang rendah ini" di 7:169. Bentuk yang dipakai ayat ini sendiri, عُرْضَةً, menunjuk pada sesuatu yang dijadikan penghalang di jalan, bukan pada barang yang dikejar. Sumpah yang dimaksud, (لِأَيْمَانِكُمْ, li-aymaanikum) "bagi sumpah-sumpah kalian", ditunjuk lewat kata ganti kepemilikan, tanpa dijelaskan isinya di dalam ayat ini sendiri. Perincian tentang sumpah sendiri berdiri di ayat lain, 5:89, yang membedakan sumpah yang terucap tanpa sengaja dari sumpah yang benar-benar diteguhkan, dan menetapkan tebusan bagi yang terakhir, (فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ, fa-kaffaaratuhu ith'aamu 'asyarati masaakiina) "maka tebusannya memberi makan sepuluh orang miskin". Ayat ini sendiri tidak membahas tebusan; ia membahas arah sumpah itu dipakai. Bentuk (أَيْمَانِكُمْ, aymaanikum) tanpa huruf ل di depannya muncul 4 kali di mushaf: di sini, 2:225 tepat sesudah ayat ini, 5:89, dan 66:2, dan 2:225 melanjutkan topik yang sama, membedakan sumpah yang terucap tanpa sengaja dari sumpah yang disengaja hati.
Yang dihalangi oleh sumpah semacam itu disebut tiga hal: (أَنْ تَبَرُّوا, an tabarruu) "berbuat kebajikan", dari akar yang berarti berbuat baik dan berbakti. Akar itu sama dengan (الْبِرَّ, al-birra) di 2:177 sebelumnya, ayat yang merincikan panjang lebar apa saja isi kebajikan itu, keimanan, pemberian, salat, kesabaran, dan juga di 2:189, (وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ, wa-laakinna l-birra mani ttaqaa) "tetapi kebajikan itu ialah orang yang bertakwa", ayat tentang memasuki rumah dari pintunya, bukan dari belakangnya. (وَتَتَّقُوا, wa-tattaquu) "dan bertakwa", akar yang sudah berulang kali dijumpai sepanjang rangkaian ayat-ayat ini. (وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ, wa-tushlihuu bayna n-naasi) "dan mendamaikan di antara manusia", satu-satunya kemunculan rangkaian ini, dari akar yang berarti baik dan pantas. Akar itu sama dengan (الْمُصْلِحِ, al-mushlihi) di 2:220 sebelumnya.
Penutupnya, (وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ, wa-llaahu samii'un 'aliimun) "dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui", pasangan tanpa kata sandang yang muncul 16 kali di 7 surah, termasuk 2:181, 2:227, 2:244, dan 2:256 di surah ini sendiri. Kata (سَمِيعٌ, samii'un) "mendengar" cocok dengan topik ayat ini, sumpah yang diucapkan, sebuah perkataan yang bisa didengar.
Tafsiran
Ayat ini tidak melarang bersumpah demi Allah; ia melarang menjadikan sumpah itu sebagai penghalang bagi perbuatan baik. Sebuah sumpah yang sudah terlanjur diucapkan bisa terasa mengikat lebih kuat daripada kebaikan yang seharusnya dikerjakan, dan ayat ini menahan kekeliruan itu sebelum terjadi.
Tiga hal yang disebut sebagai yang terhalangi bukan tiga hal yang berdiri sendiri-sendiri di ayat ini. Yang pertama sudah dirincikan panjang lebar di 2:177, yang kedua sudah berulang kali disebut sepanjang rangkaian ayat sebelumnya, dan yang ketiga memakai akar yang sama dengan yang dipakai untuk membedakan perusak dari pemerbaik di 2:220. Ayat ini tidak memperkenalkan tiga kebaikan baru; ia memanggil kembali tiga hal yang sudah dibangun maknanya di tempat lain, lalu menyatakan sumpah tidak boleh menghalangi ketiganya.
Penutup ayat ini memasangkan mendengar dengan mengetahui, dan mendengar cocok dengan topik yang baru dibicarakan, sebuah ucapan sumpah yang keluar dari mulut. Sifat yang dipilih untuk menutup ayat ini bukan sifat acak; ia sifat yang paling relevan dengan perkara yang sedang ditimbang, kata-kata yang diucapkan dan niat di baliknya.
Ayat ini juga tidak menyendiri dalam membahas sumpah. 5:89 memberi jalan keluar bagi sumpah yang terlanjur diucapkan lalu ingin dibatalkan, lengkap dengan tebusannya. Ayat ini membahas sisi yang berbeda, bukan bagaimana melepaskan diri dari sumpah, melainkan bagaimana sebuah sumpah semestinya tidak pernah dipakai sebagai alasan sejak awal. Dua ayat itu menjawab dua pertanyaan yang berbeda tentang perkara yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini tidak melarang mengucapkan sumpah demi Allah. Yang dilarangnya lebih sempit dan lebih halus: menjadikan sumpah itu sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik. Seseorang bisa saja pernah bersumpah tidak akan melakukan sesuatu, lalu ketika kesempatan berbuat baik justru muncul lewat hal itu, ia berpegang pada sumpahnya sebagai alasan untuk tidak bergerak. Ayat ini menutup celah itu, bukan dengan membatalkan sumpah, melainkan dengan menolak sumpah dijadikan tameng untuk mangkir dari kebaikan.
- Tiga hal yang disebut ayat ini bukan tiga gagasan baru yang muncul tiba-tiba. Satu di antaranya sudah dijelaskan panjang lebar beberapa ayat sebelumnya, dan satu lagi memakai akar kata yang sama dengan yang dipakai untuk membedakan perusak dari pemerbaik tidak lama sebelumnya. Ayat ini bekerja seperti sebuah rangkuman, memanggil kembali tiga hal yang maknanya sudah dibangun di tempat lain, lalu menegaskan bahwa tidak ada sumpah yang berhak menghalangi ketiganya.
- Dari tiga hal yang disebut, dua yang pertama bisa dijalani seorang diri, tapi yang ketiga menuntut kehadiran orang lain yang sedang berselisih. Mendamaikan tidak bisa dikerjakan tanpa ada pihak-pihak yang perlu didamaikan. Ayat ini menaruh kebaikan yang menuntut keterlibatan dengan orang lain sejajar dengan kebaikan yang bisa dijalani secara pribadi, tanpa membedakan mana yang lebih utama di antara keduanya.
- Sifat yang dipilih untuk menutup ayat ini adalah mendengar, dan pilihan itu tidak sembarangan mengingat topik ayat ini adalah sumpah yang diucapkan. Sebuah kalimat yang keluar dari mulut adalah sesuatu yang didengar, dan ayat ini menutup dengan sifat yang paling langsung berkaitan dengan bentuk perbuatan yang sedang dibahasnya. Kecocokan semacam ini mengingatkan bahwa penutup sebuah ayat sering kali dipilih bukan sebagai rumus umum, melainkan sebagai sifat yang paling pas dengan isi ayat itu sendiri.
- Kata yang dipakai ayat ini untuk sumpah yang keliru menyiratkan sesuatu yang dipajang atau dijadikan penghalang di jalan, bukan sesuatu yang berdiri sebagai tujuan sendiri. Nama Allah semestinya menjadi arah yang dituju lewat perbuatan baik, bukan rintangan yang menghalangi jalan menuju kebaikan itu. Ayat ini menjaga posisi itu tetap pada tempatnya, mengingatkan bahwa sesuatu yang seharusnya menjadi tujuan tidak boleh berubah menjadi penghalang bagi tujuan itu sendiri.
- Ayat ini menempatkan tiga kebaikan sebagai sesuatu yang harus tetap dikerjakan, apa pun sumpah yang pernah diucapkan sebelumnya. Sebuah janji kepada diri sendiri, betapa pun seriusnya, tidak diberi kekuatan untuk mengalahkan kewajiban berbuat baik yang sudah berdiri lebih dulu. Pembaca yang pernah merasa terjebak oleh kata-katanya sendiri, terikat pada sesuatu yang pernah diucapkan sampai tak bisa lagi berbuat yang lebih baik, menemukan di ayat ini jalan keluar yang tidak menuntutnya mengingkari sumpahnya, hanya menuntutnya tidak menjadikan sumpah itu alasan berhenti.