وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ ۚ وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۚ وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan jika kalian menceraikan mereka sebelum kalian sentuh, padahal kalian telah menentukan mahar bagi mereka, maka separuh dari apa yang telah kalian tentukan, kecuali jika mereka membebaskannya, atau yang di tangannya ada akad nikah membebaskannya. Dan pembebasan kalian lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kalian melupakan kebaikan di antara kalian. Sesungguhnya Allah melihat apa yang kalian kerjakan.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِwa-in thallaqtumuuhunna min qabli an tamassuuhunna wa-qad faradhtum lahunna fariidhatan fa-nishfu maa faradhtum illaa an ya'fuuna aw ya'fuwa lladzii bi-yadihi 'uqdatu n-nikaahidan jika kalian menceraikan mereka sebelum kalian sentuh, padahal kalian telah menentukan mahar bagi mereka, maka separuh dari apa yang telah kalian tentukan
  2. وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰwa-an ta'fuu aqrabu li-t-taqwaakecuali jika mereka membebaskannya, atau yang di tangannya ada akad nikah membebaskannya
  3. وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْwa-laa tansawu l-fadhla baynakumdan pembebasan kalian lebih dekat kepada takwa; dan janganlah kalian melupakan kebaikan di antara kalian
  4. إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌinna llaaha bi-maa ta'maluuna bashiirunsesungguhnya Allah melihat apa yang kalian kerjakan

Terjemahan per kata (35 kata)

  1. وَإِنْwa-indan jika
  2. طَلَّقْتُمُوهُنَّthallaqtumuuhunnakalian menceraikan mereka
  3. مِنْmindari
  4. قَبْلِqablisebelum
  5. أَنْanbahwa
  6. تَمَسُّوهُنَّtamassuuhunnakalian menyentuh mereka
  7. وَقَدْwa-qadpadahal sungguh
  8. فَرَضْتُمْfaradhtumkalian tentukan
  9. لَهُنَّlahunnabagi mereka
  10. فَرِيضَةًfariidhatanketetapan
  11. فَنِصْفُfa-nishfumaka seperdua
  12. مَاmaaapa yang
  13. فَرَضْتُمْfaradhtumkalian tentukan
  14. إِلَّاillaakecuali
  15. أَنْanbahwa
  16. يَعْفُونَya'fuunamemaafkan
  17. أَوْawatau
  18. يَعْفُوَya'fuwamemaafkan
  19. الَّذِيlladziiyang
  20. بِيَدِهِbi-yadihidi tangan-Nya
  21. عُقْدَةُ'uqdatusimpul
  22. النِّكَاحِn-nikaahinikah
  23. وَأَنْwa-andan untuk
  24. تَعْفُواta'fuukalian memaafkan
  25. أَقْرَبُaqrabulebih dekat
  26. لِلتَّقْوَىٰli-t-taqwaakepada ketakwaan
  27. وَلَاwa-laadan janganlah
  28. تَنْسَوُاtansawukalian melupakan
  29. الْفَضْلَl-fadhlakarunia
  30. بَيْنَكُمْbaynakumdi antara kalian
  31. إِنَّinnasesungguhnya
  32. اللَّهَllaahaAllah
  33. بِمَاbi-maapada apa yang
  34. تَعْمَلُونَta'maluunakalian kerjakan
  35. بَصِيرٌbashiirunmelihat

Inti bacaan

Anjuran memaafkan setengah mahar 'lebih dekat pada ketakwaan', hukum memberi hak penuh, tapi spiritualitas mendorong kemurahan hati melampaui hak minimum. Konkretnya: memiliki hak penuh atas sesuatu (kompensasi, klaim, tuntutan) tidak berarti harus selalu dituntut habis, kemurahan hati melampaui hak minimal adalah tanda kedewasaan spiritual yang lebih tinggi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka (وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ, wa-in thallaqtumuuhunna min qabli an tamassuuhunna) "dan jika kalian menceraikan mereka sebelum kalian menyentuh mereka", rangkaian yang hampir sama persis dengan pembuka 33:49, (إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ, idzaa nakahtumu l-mu'minaati tsumma thallaqtumuuhunna min qabli an tamassuuhunna) "apabila kalian menikahi perempuan-perempuan mukmin lalu menceraikan mereka sebelum kalian menyentuh mereka". Kedua ayat membicarakan perceraian sebelum sentuhan, tapi 33:49 melanjutkan dengan meniadakan idah dan menyuruh memberi mut'ah serta melepas dengan cara yang baik, (فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا, fa-matti'uuhunna wa-sarrihuuhunna saraahan jamiilan), sementara ayat ini melanjutkan ke arah berbeda, mahar yang sudah ditetapkan.

(وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً, wa-qad faradhtum lahunna faridhatan) "dan sungguh kalian telah menetapkan bagi mereka suatu ketetapan". (فَرِيضَةً, faridhatan) muncul 5 kali di 3 surah: di sini, 2:236, 4:11, 4:24, dan 9:60. Ayat ini berpasangan langsung dengan 2:236 sebelumnya, keduanya membahas perceraian sebelum sentuhan, tapi 2:236 untuk keadaan mahar belum ditetapkan, ayat ini untuk keadaan mahar sudah ditetapkan, dua cabang dari satu persoalan yang sama.

(فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ, fa-nishfu maa faradhtum) "maka separuh dari apa yang telah kalian tetapkan", satu-satunya kemunculan rangkaian ini. (إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ, illaa an ya'fuuna) "kecuali jika mereka (para perempuan) memaafkan", satu-satunya kemunculan bentuk ini, (أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ, aw ya'fuwa lladzii bi-yadihi 'uqdatu n-nikaahi) "atau yang di tangannya ada ikatan nikah itu memaafkan", satu-satunya kemunculan (عُقْدَةُ النِّكَاحِ, 'uqdatu n-nikaahi) di seluruh mushaf. Ayat ini tidak menyebut secara langsung siapa yang dimaksud "yang di tangannya ada ikatan nikah"; teksnya berhenti pada frasa itu sendiri.

Akar yang sama, yang berarti memaafkan dan menghapus bekasnya, dipakai di 2:178 untuk memaafkan qishash, (فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ, fa-man 'ufiya lahu min akhiihi syay'un) "maka siapa yang dimaafkan oleh saudaranya", akar yang menandai pelepasan hak dalam dua keadaan yang jauh berbeda, nyawa dan mahar.

(وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ, wa-an ta'fuu aqrabu li-t-taqwaa) "dan bahwa kalian memaafkan lebih dekat kepada takwa". (أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ, aqrabu li-t-taqwaa) muncul juga di 5:8, tapi di sana menggambarkan sikap adil, (اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ, i'diluu huwa aqrabu li-t-taqwaa) "berlaku adillah, itu lebih dekat kepada takwa"; rumus superlatif yang sama dipakai untuk dua sikap berbeda, memaafkan dan berlaku adil.

(وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ, wa-laa tansawu l-fadhla baynakum) "dan janganlah kalian melupakan keutamaan di antara kalian", satu-satunya kemunculan rangkaian ini. Penutupnya, (إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ, inna llaaha bimaa ta'maluuna bashiirun) "sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan", rangkaian (بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ, bimaa ta'maluuna bashiirun) yang muncul 12 kali di 9 surah, termasuk persis sama di 2:233 sebelumnya, dan dengan awalan berbeda (وَاللَّهُ, wa-llaahu) "dan Allah" alih-alih (إِنَّ اللَّهَ, inna llaaha) di 2:110, 2:265, dan 3:156.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan pasangannya di 2:236 dengan cabang berbeda dari persoalan yang sama, perceraian sebelum sentuhan. Ketika mahar belum ditetapkan, kewajibannya mut'ah menurut kemampuan; ketika mahar sudah ditetapkan, kewajibannya separuh dari jumlah yang sudah disepakati. Dua ayat berdampingan ini menunjukkan bahwa mushaf memilah keadaan berdasarkan rincian yang sudah terjadi, bukan menyamaratakan seluruh perceraian sebelum sentuhan dalam satu aturan tunggal.

Pengecualian dari separuh mahar itu terbuka dari dua arah, pihak perempuan bisa memaafkan haknya, atau pihak yang disebut "yang di tangannya ada ikatan nikah" bisa memaafkan. Ayat ini tidak menjelaskan lebih jauh siapa yang dimaksud frasa kedua itu; ia berhenti pada penyebutan posisi, bukan identitas pastinya. Keterbukaan pengecualian dari dua arah ini menempatkan pemaafan sebagai pilihan yang bisa muncul dari lebih dari satu pihak, bukan hak yang hanya bisa dilepaskan sepihak.

Akar kata yang sama untuk memaafkan dipakai di ayat lain bagi pelepasan hak menuntut qishash atas pembunuhan, sebuah keadaan yang jauh lebih berat daripada mahar. Kesamaan akar ini menghubungkan dua situasi yang jaraknya sangat jauh, nyawa dan harta, dengan satu kosakata yang sama untuk tindakan melepaskan hak yang sah dimiliki.

Rumus "lebih dekat kepada takwa" dipakai di sini untuk memaafkan, dan di ayat lain untuk berlaku adil. Dua sikap yang berbeda arah, satu melepaskan hak, satu menegakkan hak, sama-sama digambarkan dengan rumus kedekatan pada takwa yang identik. Kedekatan pada takwa dengan begitu bukan ditentukan oleh melepas atau menuntut, melainkan oleh kesungguhan menjalankan yang benar dalam masing-masing keadaan.

Ayat ini ditutup dengan ajakan tidak melupakan keutamaan di antara sesama, sebuah penutup yang mengangkat persoalan pembagian mahar menjadi persoalan yang lebih luas, bagaimana orang memperlakukan satu sama lain sesudah sebuah hubungan berakhir.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini berpasangan dengan ayat sebelumnya, keduanya membahas perceraian sebelum sentuhan, tapi dari dua keadaan mahar yang berbeda, belum ditetapkan dan sudah ditetapkan. Mushaf tidak menyamaratakan seluruh perceraian sebelum sentuhan dalam satu aturan; ia memilah berdasarkan rincian yang sudah terjadi sebelumnya. Pembaca yang mengira satu aturan berlaku rata untuk semua keadaan serupa keliru membaca; kedua ayat ini justru menunjukkan sebaliknya, kepedulian pada perbedaan kecil yang mengubah kewajiban yang berlaku.
  • Pengecualian dari kewajiban separuh mahar bisa datang dari pihak perempuan atau dari pihak yang disebut memegang ikatan nikah, tanpa ayat ini menjelaskan lebih jauh siapa persisnya pihak kedua itu. Keterbukaan dari dua arah ini menempatkan pemaafan sebagai kemungkinan yang bisa muncul dari lebih dari satu sisi, bukan hak yang tertutup rapat hanya bisa dilepaskan oleh satu pihak saja. Ayat ini memilih berhenti pada penyebutan posisi, yang di tangannya ada ikatan nikah, bukan menuntaskan identitasnya; ruang yang dibiarkan terbuka ini sendiri sebuah rincian yang layak diperhatikan pembaca, bukan celah yang perlu buru-buru ditutup dengan tafsiran dari luar teks.
  • Kata yang dipakai untuk memaafkan separuh mahar di sini adalah akar kata yang sama dipakai di ayat lain untuk memaafkan hak menuntut qishash atas pembunuhan. Satu kosakata menjangkau dua keadaan yang jaraknya sangat jauh dalam berat perkaranya, harta dan nyawa. Kesamaan ini mengingatkan bahwa tindakan melepaskan hak yang sah dimiliki, betapapun kecil atau besar hak itu, digambarkan mushaf dengan bahasa yang sama. Satu akar kata yang menjangkau ujung teringan dan ujung terberat dari hak yang bisa dilepaskan seseorang menunjukkan bahwa yang ditekankan bukan besar-kecilnya hak, melainkan tindakan melepaskannya itu sendiri.
  • Rumus lebih dekat kepada takwa dipakai di sini untuk mendorong memaafkan, sementara di ayat lain rumus yang sama persis dipakai untuk mendorong berlaku adil, sebuah sikap yang justru menegakkan hak, bukan melepaskannya. Ayat ini menunjukkan bahwa takwa tidak selalu berarti mengalah, dan tidak selalu berarti menuntut; kedekatan padanya diukur dari kesungguhan menjalankan yang benar sesuai keadaan yang dihadapi, bukan dari satu arah sikap yang tetap.
  • Ayat yang membahas rincian pembagian separuh mahar ini ditutup bukan dengan penegasan hak, melainkan dengan ajakan tidak melupakan keutamaan di antara sesama. Penutup ini mengangkat sebuah persoalan yang tampak teknis, pembagian harta sesudah perceraian, menjadi persoalan yang lebih luas, bagaimana orang memperlakukan satu sama lain ketika sebuah hubungan berakhir dan tak ada lagi ikatan yang memaksa kebaikan itu diberikan.
  • Ayat ini ditutup dengan pernyataan bahwa Allah Maha Melihat apa yang dikerjakan, rangkaian kata yang sama persis menutup ayat sebelumnya yang membahas penyusuan. Dua persoalan yang sama-sama berpotensi diselesaikan diam-diam di ranah privat, pembagian mahar dan pengasuhan anak, ditutup dengan pengingat yang sama, bahwa keduanya tetap berada dalam pengawasan, betapapun kecil kemungkinan orang lain mengetahuinya.