حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
Peliharalah salat-salat, dan salat yang seimbang, dan berdirilah karena Allah dengan taat.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَhaafizhuu alaa s-salawaati wa-s-salaati l-wustaa wa-quumuu lillaahi qaanitiinapeliharalah salat-salat, dan salat yang seimbang, dan berdirilah karena Allah dengan taat
Catatan pilihan kata (ringkas)
terjemahan lain: “Peliharalah semua salat (fardu) dan salat Wustaa. Berdirilah karena Allah (dalam salat) dengan khusyuk.” Perubahan terjemahan ini: gloss “(fardu)” DIBUANG; “salat Wustaa” diterjemahkan “salat yang di tengah”; gloss “(dalam salat)” DIBUANG. Nomina jamak salawaat di sini makna ritual jelas (dipasangkan 'salaat al-wustaa', salat spesifik yg dijaga). Konsisten dgn terjemahan lain, tak perlu penyesuaian. sebagian penerjemah: 'Preserve the duties, and the median duty, and stand up for God, humbly obedient;' as-salawaat (jamak, TAKRIF) & as-salaat al-wustaa.: salaah diterjemahkan 'salat'. wustaa (akar w-s-t) = elatif 'yang paling tengah' diterjemahkan diterjemahkan 'yang di tengah', BUKAN dibiarkan jadi nama ritual ('salat Wustaa') yang menyiratkan kategori fikih tersendiri. *qaanitiin* (akar q-n-t) diterjemahkan '', 'dengan khusyuk'. Alasan: 'khusyuk' adalah serapan dari (*khushuu'*), yang di DB dipakai untuk 2:45 & 23:2 (*khaashi'iin*)., dan di sana DB sudah membedakannya benar ('yang '=*qaanitiin*; 'yang '=*khaashi'iin*), jadi 2:238 satu-satunya penyimpangan, dan ia mengambil kata milik akar lain. Rendering dominan akar q-n-t di DB memang 'taat' (3:17, 4:34, 33:31, 33:35, 66:5). Juga *lillaahi* diterjemahkan 'Allah' (preposisi *li-*, selaras putusan *sallaa li-* 108:2 'bersalat bagi Tuhanmu'). ⟶, dua butir. **(1) *as-salawaat* diterjemahkan 'salat-salat'** (sebelumnya 'semua salat'): tambahan 'semua' dibuang (tak ada di Arab; jamak takrif sudah cukup), dan bentuk jamak diseragamkan dgn 2:157/9:99/23:9, satu bentuk-lema (`Salaw`p`, FP) sebelumnya diterjemahkan TIGA cara. 'Salat-salat' dipilih atas 'salawat' karena: KBBI menandai 'salawat' TIDAK BAKU & entri 'selawat' turunan-tradisi; 'salat-salat' transparan sebagai jamak kata yang sama; dan ia menampakkan sambungan verba⟷nomina (33:43 'Allah kalian' ⟷ 2:157 'atas mereka dari Tuhan mereka'). **(2) *al-wustaa* diterjemahkan 'yang seimbang'** (sebelumnya 'yang di tengah'): dibaca KUALITATIF. bacaan 'yang di tengah', padahal; enumerasi berasal dari fikih. Pembaca dipersilakan menimbang. ⟶ akar q-w-m *quumuu lillaahi* diterjemahkan 'bagi Allah', BUKAN 'berdirilah' (putusan Pak FD 19 Jul). Corpus: `quwmu` = (bentuk I) + *li-llaahi*. Selaras konteks 2:228-240 (kewajiban keluarga diametral yang menuntut keseimbangan diterjemahkan 'salat yang seimbang' + 'tegaklah bagi Allah'). *lillaahi* diterjemahkan 'bagi Allah' (preposisi *li-*).
Aplikasi
Perintah 'peliharalah salat-salat, dan salat yang seimbang' muncul di tengah pasal-pasal rumah tangga yang penuh tekanan (perceraian, idah, mahar), salat sebagai jangkar yang tetap harus dijaga bahkan saat hidup sedang berantakan. Konkretnya: momen-momen kehidupan yang paling kacau dan penuh tekanan (perpisahan, konflik keluarga) justru saat paling penting untuk menjaga jangkar spiritual, bukan saat untuk ditinggalkan karena 'sedang sibuk mengurus masalah'.