مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Siapakah yang memberi pinjaman yang baik kepada Allah, lalu Dia melipatgandakannya baginya berlipat-lipat banyaknya? Dan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةًman dzaa lladzii yuqridhu llaaha qardhan hasanan fa-yudhaa'ifahu lahu adh'aafan katsiiratansiapakah yang memberi pinjaman yang baik kepada Allah, lalu Dia melipatgandakannya baginya berlipat-lipat banyaknya
- وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَwa-llaahu yaqbidhu wa-yabsuthu wa-ilayhi turja'uunadan Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya kalian dikembalikan
Terjemahan per kata (16 kata)
- مَنْmanorang yang
- ذَاdzaayang
- الَّذِيlladziiyang
- يُقْرِضُyuqridhumeminjamkan
- اللَّهَllaahaAllah
- قَرْضًاqardhanpinjaman
- حَسَنًاhasananyang baik
- فَيُضَاعِفَهُfa-yudhaa'ifahumaka Dia melipatgandakannya
- لَهُlahubaginya
- أَضْعَافًاadh'aafanberlipat ganda
- كَثِيرَةًkatsiiratanyang banyak
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- يَقْبِضُyaqbidhumenyempitkan
- وَيَبْسُطُwa-yabsuthudan Dia melapangkan
- وَإِلَيْهِwa-ilayhidan kepada-Nya
- تُرْجَعُونَturja'uunakalian dikembalikan
Inti bacaan
Metafora 'meminjamkan kepada Allah' untuk sedekah/infak menggeser kerangka pemberian dari 'kehilangan' menjadi 'investasi yang dilipatgandakan', perubahan perspektif tentang makna memberi. Konkretnya: memandang kedermawanan sebagai investasi (bukan kerugian) mengubah motivasi memberi, dari keterpaksaan menjadi kesediaan, karena kerangka yang ditawarkan adalah pertumbuhan, bukan pengurangan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka (مَنْ ذَا الَّذِي, man dzaa lladzii) "siapakah yang", rumus tanya retoris yang muncul 5 kali di 4 surah: di sini, 2:255, 3:160, 33:17, dan 57:11. Di 3:160 dan 33:17 rumus yang sama dipakai untuk pertanyaan yang menantang, siapa yang bisa menolong atau melindungi selain Allah, sementara di 2:255, ayat berikutnya sesudah rangkaian ini dalam surah yang sama, rumus itu dipakai untuk pertanyaan tentang syafaat. Di sini dan di 57:11, rumus yang sama dipakai untuk mengajak, bukan menantang, siapa yang bersedia memberi pinjaman kepada Allah.
(يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا, yuqridhu llaaha qardhan hasanan) "memberi pinjaman yang baik kepada Allah", rangkaian yang muncul persis sama hanya di 2:245 dan 57:11. Di 57:11 kelanjutannya sedikit berbeda, (فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ, fa-yudhaa'ifahu lahu wa-lahu ajrun kariimun) "lalu Dia melipatgandakannya baginya, dan baginya pahala yang mulia", sementara ayat ini melanjutkan dengan (فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً, fa-yudhaa'ifahu lahu adh'aafan katsiiratan) "lalu Dia melipatgandakannya baginya berlipat-lipat banyaknya", satu-satunya kemunculan (أَضْعَافًا كَثِيرَةً) di seluruh mushaf.
(وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ, wa-llaahu yaqbidhu wa-yabsuthu) "dan Allah menyempitkan dan melapangkan", dua kata kerja yang di sini berdiri tanpa objek langsung. Bentuk (يَبْسُطُ, yabsuthu) muncul 13 kali di 11 surah, dan 9 di antaranya diikuti objek eksplisit (الرِّزْقَ, ar-rizqa) "rezeki", seperti di 13:26, (اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ, allaahu yabsuthu r-rizqa li-man yasyaa'u) "Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki"; hanya di ayat ini kata kerja itu berdiri sendiri tanpa objek yang disebutkan. Bentuk (يَقْبِضُ, yaqbidhu) untuk Allah sebagai pelaku hanya muncul di sini; kemunculan lain akar ini, di 9:67, memakai bentuk berbeda untuk manusia, (يَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ, yaqbidhuuna aydiyahum) "mereka menggenggam tangan mereka", menggambarkan kekikiran orang munafik.
Penutupnya, (وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ, wa-ilayhi turja'uuna) "dan kepada-Nya kalian dikembalikan", rangkaian yang muncul 9 kali di 7 surah, termasuk di 10:56, 28:70, dan 36:83. Di 10:56 rangkaian ini didahului (هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ, huwa yuhyii wa-yumiitu) "Dialah yang menghidupkan dan mematikan", pasangan kuasa yang menggemakan kembali tema kematian dan kehidupan yang sudah muncul di 2:243 sebelumnya dalam surah ini; di 28:70 rangkaian ini didahului penegasan bahwa segala pujian dan segala keputusan adalah milik-Nya.
Tafsiran
Ayat ini memakai rumus tanya retoris yang sama dipakai di tempat lain untuk pertanyaan yang menantang, siapa yang mampu menolong selain Allah, tapi di sini rumus itu berbalik arah, menjadi ajakan, bukan tantangan. Siapa yang bersedia memberi pinjaman kepada Allah adalah pertanyaan yang membuka ruang partisipasi, bukan pertanyaan yang menutup kemungkinan jawaban selain "tidak ada".
Gagasan meminjamkan sesuatu kepada Allah, yang secara harfiah tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya, adalah cara menggambarkan pemberian di jalan Allah dengan bahasa transaksi yang akrab bagi manusia, lengkap dengan janji pelipatgandaan yang jauh melampaui jumlah aslinya. Bahasa pinjaman ini muncul lagi di 57:11 dengan kelanjutan yang sedikit berbeda, menegaskan bahwa gagasan ini bukan kiasan sesaat, melainkan cara yang dipakai berulang untuk menggambarkan hubungan pemberian antara manusia dan Allah.
Dua kata kerja menyempitkan dan melapangkan disebut berdampingan tanpa objek yang jelas, berbeda dari kebanyakan kemunculan kata melapangkan di 13:26 dan ayat-ayat lain yang selalu diikuti kata rezeki. Ketiadaan objek di sini membuat kedua kata kerja itu terbaca lebih luas daripada sekadar urusan harta, mencakup segala bentuk kelapangan dan kesempitan yang dialami manusia, bukan dibatasi pada satu jenis pemberian saja.
Ayat ini ditutup dengan pengingat bahwa semua orang akan dikembalikan kepada Allah, sebuah penutup yang menempatkan ajakan meminjamkan harta ini dalam bingkai yang lebih besar, kefanaan kepemilikan dan kepastian kembali kepada Allah pada akhirnya.
Renungan dan Hikmah
- Rumus tanya siapakah yang di ayat ini adalah rumus yang sama dipakai di tempat lain untuk pertanyaan menantang, siapa yang bisa menolong selain Allah, sebuah pertanyaan yang tidak menyediakan jawaban selain penolakan. Di ayat ini, rumus yang sama berbalik arah menjadi ajakan terbuka, siapa yang bersedia. Perbedaan fungsi rumus yang identik ini menunjukkan bahwa satu bentuk kalimat bisa membawa nada yang sangat berbeda tergantung isi yang mengikutinya, menantang di satu tempat, mengundang di tempat lain.
- Menggambarkan pemberian di jalan Allah sebagai pinjaman kepada Allah adalah pilihan bahasa yang meminjam istilah transaksi yang akrab bagi manusia, lengkap dengan janji pelipatgandaan. Allah, yang secara harfiah tidak membutuhkan pinjaman dari siapa pun, digambarkan dengan bahasa yang biasa dipakai antara sesama manusia yang saling membutuhkan. Pilihan bahasa ini membuat gagasan abstrak tentang pemberian di jalan Allah menjadi konkret dan mudah dibayangkan, tanpa mengubah hakikat bahwa yang sesungguhnya diuntungkan adalah pemberi, bukan penerima.
- Dua kata kerja menyempitkan dan melapangkan disebut di ayat ini tanpa objek yang jelas, berbeda dari kebanyakan kemunculan kata melapangkan di tempat lain yang selalu diikuti kata rezeki secara eksplisit. Ketiadaan objek ini melebarkan cakupan kedua kata kerja itu, tidak terbatas pada harta saja, melainkan mencakup segala bentuk kelapangan dan kesempitan yang mungkin dialami manusia dalam hidupnya.
- Kata kerja menyempitkan yang dipakai Allah di ayat ini berakar sama dengan kata yang dipakai di ayat lain untuk menggambarkan orang munafik yang menggenggam tangan mereka, enggan memberi. Satu akar kata menjangkau dua subjek yang sangat berbeda maknanya, penyempitan yang berasal dari kehendak Allah yang menyeluruh, dan penggenggaman yang berasal dari kekikiran manusia yang sempit. Kesamaan akar ini mengingatkan bahwa sikap kikir manusia adalah cerminan yang jauh lebih kecil dan lebih tercela dari kuasa menyempitkan yang sepenuhnya milik Allah.
- Ayat ini menutup ajakan memberi pinjaman dengan pengingat bahwa semua orang pada akhirnya dikembalikan kepada Allah. Penutup ini menempatkan seluruh harta yang dipinjamkan atau ditahan dalam bingkai kefanaan; apa pun yang dipegang erat oleh manusia hari ini pada akhirnya akan ditinggalkan, sementara apa yang dipinjamkan di jalan Allah dijanjikan kembali berlipat ganda. Kesadaran akan kepastian kembali ini mengubah perhitungan untung rugi yang biasa dipakai manusia dalam soal harta.
- Janji pelipatgandaan di ayat ini disebut dengan kata berlipat-lipat banyaknya, sebuah ungkapan yang satu-satunya muncul di seluruh mushaf dan tidak menyebut angka pasti berapa kali lipat. Ketiadaan angka pasti ini berbeda dari kebiasaan menyebut kelipatan dengan bilangan tertentu di tempat lain; di sini pelipatgandaan dibiarkan terbuka, tidak dibatasi oleh angka yang bisa dihitung, seolah menegaskan bahwa balasan atas pemberian di jalan Allah melampaui perhitungan matematis biasa.