أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا ۖ قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

Tidakkah engkau memperhatikan para pemuka Bani Israil setelah Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah.” Ia berkata, “Jangan-jangan jika diwajibkan atas kalian berperang, kalian tidak akan berperang.” Mereka berkata, “Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, padahal sungguh kami telah diusir dari kampung halaman kami dan anak-anak kami?” Maka ketika perang diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِa-lam tara ilaa l-mala'i min banii israa'iila min ba'di muusaa idz qaaluu li-nabiyyin lahumu b'ats lanaa malikan nuqaatil fii sabiili llaahitidakkah engkau memperhatikan para pemuka Bani Israil setelah Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah
  2. قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُواqaala hal 'asaytum in kutiba 'alaykumu l-qitaalu allaa tuqaatiluuia berkata, jangan-jangan jika diwajibkan atas kalian berperang, kalian tidak akan berperang
  3. قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَاqaaluu wa-maa lanaa allaa nuqaatila fii sabiili llaahi wa-qad ukhrijnaa min diyaarinaa wa-abnaa'inaamereka berkata, mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, padahal sungguh kami telah diusir dari kampung halaman kami dan anak-anak kami
  4. فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْfa-lammaa kutiba 'alayhimu l-qitaalu tawallaw illaa qaliilan minhummaka ketika perang diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka
  5. وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَwa-llaahu 'aliimun bi-zh-zhaalimiinadan Allah mengetahui orang-orang yang zalim

Terjemahan per kata (54 kata)

  1. أَلَمْa-lamtidakkah
  2. تَرَtaraengkau memperhatikan
  3. إِلَىilaakepada
  4. الْمَلَإِl-mala'ipara pemuka
  5. مِنْmindari
  6. بَنِيbaniiBani
  7. إِسْرَائِيلَisraa'iilaIsrail
  8. مِنْmindari
  9. بَعْدِba'disesudah
  10. مُوسَىٰmuusaaMusa
  11. إِذْidzketika
  12. قَالُواqaaluumereka berkata
  13. لِنَبِيٍّli-nabiyyinbagi seorang nabi
  14. لَهُمُlahumubagi mereka
  15. ابْعَثْb'atsutuslah
  16. لَنَاlanaabagi kami
  17. مَلِكًاmalikanraja
  18. نُقَاتِلْnuqaatilkami berperang
  19. فِيfiidi
  20. سَبِيلِsabiilijalan
  21. اللَّهِllaahiAllah
  22. قَالَqaalaberkata
  23. هَلْhalapakah
  24. عَسَيْتُمْ'asaytumboleh jadi kalian
  25. إِنْinjika
  26. كُتِبَkutibadiwajibkan
  27. عَلَيْكُمُ'alaykumuatas kalian
  28. الْقِتَالُl-qitaalupeperangan
  29. أَلَّاallaabahwa tidak
  30. تُقَاتِلُواtuqaatiluukalian memerangi
  31. قَالُواqaaluumereka berkata
  32. وَمَاwa-maadan mengapa
  33. لَنَاlanaabagi kami
  34. أَلَّاallaatidak
  35. نُقَاتِلَnuqaatilakami berperang
  36. فِيfiidi
  37. سَبِيلِsabiilijalan
  38. اللَّهِllaahiAllah
  39. وَقَدْwa-qadpadahal sungguh
  40. أُخْرِجْنَاukhrijnaakami diusir
  41. مِنْmindari
  42. دِيَارِنَاdiyaarinaakampung halaman kami
  43. وَأَبْنَائِنَاwa-abnaa'inaadan anak-anak kami
  44. فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
  45. كُتِبَkutibadiwajibkan
  46. عَلَيْهِمُ'alayhimuatas mereka
  47. الْقِتَالُl-qitaalupeperangan
  48. تَوَلَّوْاtawallawmereka berpaling
  49. إِلَّاillaakecuali
  50. قَلِيلًاqaliilansedikit
  51. مِنْهُمْminhumdari mereka
  52. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  53. عَلِيمٌ'aliimunberilmu
  54. بِالظَّالِمِينَbi-zh-zhaalimiinaakan orang-orang yang zalim

Inti bacaan

Permintaan Bani Israil akan raja untuk berperang, namun ketika perang benar-benar diwajibkan mereka 'berpaling kecuali sedikit', kesenjangan antara permintaan/klaim dan kesediaan bertindak nyata saat momennya tiba. Konkretnya: waspadai kesenjangan antara apa yang diminta/dijanjikan dengan kesediaan sebenarnya untuk menanggung konsekuensinya, banyak yang menuntut perubahan tapi sedikit yang benar-benar siap membayar harganya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan rumus tanya retoris yang sama membuka 2:243 sebelumnya, (أَلَمْ تَرَ, a-lam tara) "tidakkah engkau memperhatikan", kali ini diarahkan kepada (الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ, al-mala'i min banii israa'iila min ba'di muusaa) "para pemuka Bani Israil sesudah Musa". Ayat ini tidak menyebut nama nabi yang mereka mintai, hanya (لِنَبِيٍّ لَهُمُ, li-nabiyyin lahum) "kepada seorang nabi mereka", dan permintaan mereka, (ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ, ib'ats lanaa malikan nuqaatil fii sabiili llaahi) "angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah", satu-satunya kemunculan permintaan spesifik ini di seluruh mushaf.

Sang nabi menjawab dengan pertanyaan balik, (هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا, hal 'asaytum in kutiba 'alaykumu l-qitaalu allaa tuqaatiluu) "jangan-jangan jika diwajibkan atas kalian berperang, kalian tidak akan berperang". Rumus (هَلْ عَسَيْتُمْ, hal 'asaytum) "jangan-jangan kalian" muncul juga di 47:22, di sana melanjutkan pertanyaan tentang kemungkinan berbuat kerusakan dan memutus tali kekerabatan jika berpaling, sebuah pertanyaan retoris yang sama-sama meragukan kesungguhan sebuah janji.

(كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ, kutiba 'alaykumu l-qitaalu) "diwajibkan atas kalian berperang" adalah rangkaian yang sama persis membuka 2:216, (كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ, kutiba 'alaykumu l-qitaalu wa-huwa kurhun lakum) "diwajibkan atas kalian berperang, sedangkan ia dibenci oleh kalian". Ayat itu ditujukan langsung kepada audiens yang menerima Al-Qur'an, dan ayat ini menceritakan kisah sebuah kaum yang mengalami kewajiban serupa, sebuah gema yang menghubungkan perintah langsung dengan kisah masa lalu tentang perintah yang sama.

Kaum itu menjawab yakin, (وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا, wa-maa lanaa allaa nuqaatila fii sabiili llaahi wa-qad ukhrijnaa min diyaarinaa wa-abnaa'inaa) "mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari kampung halaman kami dan anak-anak kami". Tapi (فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ, fa-lammaa kutiba 'alayhimu l-qitaalu tawallaw illaa qaliilan minhum) "maka ketika perang diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka", satu-satunya kemunculan rangkaian (تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ) di seluruh mushaf.

Penutupnya, (وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ, wa-llaahu 'aliimun bi-zh-zhaalimiina) "dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim", rangkaian yang muncul 4 kali di 3 surah: di sini, 2:95, 9:47, dan 62:7. Di 2:95, masih dalam surah yang sama, rangkaian yang sama menutup ayat tentang Bani Israil yang tidak akan pernah mengharapkan kematian karena perbuatan tangan mereka sendiri, dua tempat yang sama-sama membicarakan Bani Israil dan ditutup dengan pengetahuan Allah atas kezaliman.

Tafsiran

Ayat ini menceritakan sebuah permintaan yang diajukan dengan penuh keyakinan, angkatlah raja untuk kami, niscaya kami berperang, tapi sang nabi meragukan kesungguhan keyakinan itu dengan pertanyaan balik. Keraguan sang nabi bukan tanpa alasan; kelanjutan kisah membuktikan keraguannya beralasan, sebagian besar dari mereka justru berpaling ketika kewajiban itu benar-benar datang.

Rumus diwajibkan atas kalian berperang yang muncul dalam kisah ini adalah rumus yang sama persis membuka 2:216, ayat yang ditujukan langsung kepada audiens Al-Qur'an tentang kewajiban yang sama. Kesamaan rumus ini menempatkan kisah Bani Israil bukan sebagai cerita masa lalu yang terpisah, melainkan sebagai cermin peringatan bagi audiens yang menerima kewajiban serupa; apa yang terjadi pada kaum itu, keyakinan awal yang runtuh ketika kewajiban benar-benar tiba, adalah risiko yang sama mengintai siapa pun yang menerima kewajiban ini.

Alasan yang mereka kemukakan untuk keyakinan mereka, telah diusir dari kampung halaman dan dipisahkan dari anak-anak mereka, adalah alasan yang kuat dan tampak meyakinkan. Tapi kekuatan alasan di atas kertas tidak menjamin kekuatan tindakan ketika kewajiban itu benar-benar tiba; jarak antara keyakinan yang diucapkan dan kesetiaan yang dijalankan menjadi inti dari kisah ini.

Penutup ayat ini, Allah mengetahui orang-orang yang zalim, menutup kisah tentang kaum yang berpaling dari kewajiban yang mereka minta sendiri, sama seperti penutup yang sama menutup ayat lain dalam surah ini tentang Bani Israil yang tidak berani mengharapkan kematian karena perbuatan tangan mereka. Dua penutup identik pada dua kisah tentang kaum yang sama menandai bahwa pengetahuan Allah atas kezaliman menjadi ancaman yang berulang dihadirkan bagi kaum ini sepanjang surah.

Renungan dan Hikmah

  • Kaum ini meminta sendiri agar diberi raja supaya bisa berperang, penuh keyakinan bahwa mereka akan berperang. Tapi ketika kewajiban itu benar-benar datang, sebagian besar dari mereka berpaling. Jarak antara keyakinan yang diucapkan dengan penuh semangat dan kesetiaan yang dijalankan ketika saatnya tiba adalah inti peringatan kisah ini; permintaan yang diajukan sendiri tidak menjamin kesiapan menanggung konsekuensinya.
  • Sang nabi meragukan kesungguhan permintaan kaumnya dengan pertanyaan balik sebelum mengabulkannya, dan kelanjutan kisah membuktikan keraguannya beralasan. Kesediaan meragukan keyakinan orang lain, bahkan ketika keyakinan itu diucapkan dengan penuh semangat, adalah sikap yang divalidasi oleh apa yang terjadi kemudian; keraguan yang berdasar bukan sikap negatif, melainkan kewaspadaan yang terbukti tepat. Rumus tanya balik yang sama, jangan-jangan kalian, muncul juga di ayat lain untuk meragukan kesungguhan orang yang mungkin berpaling, menunjukkan bahwa pertanyaan menguji kesungguhan semacam ini adalah pola retoris yang dipakai lebih dari sekali dalam mushaf, bukan sekali pakai untuk kisah ini saja.
  • Rumus diwajibkan atas kalian berperang dalam kisah kaum terdahulu ini adalah rumus yang sama persis dipakai untuk kewajiban yang ditujukan langsung kepada audiens Al-Qur'an di ayat lain. Kesamaan rumus ini mengubah kisah ini dari sekadar cerita masa lalu menjadi cermin peringatan; apa yang menimpa kaum itu, runtuhnya keyakinan awal ketika kewajiban sungguh tiba, menjadi risiko yang relevan bagi siapa pun yang kini menerima kewajiban serupa.
  • Alasan yang dikemukakan kaum ini, telah diusir dari kampung halaman dan dipisahkan dari anak-anak mereka, adalah alasan yang kuat dan sepenuhnya masuk akal untuk sebuah keyakinan berperang. Tapi kekuatan sebuah alasan yang diucapkan tidak otomatis berubah menjadi kekuatan tindakan ketika saatnya tiba; kisah ini menunjukkan bahwa argumen yang meyakinkan di atas kata-kata bisa runtuh di hadapan kewajiban yang nyata.
  • Ayat ini tidak mengatakan seluruh kaum itu berpaling; ia mencatat kecuali sebagian kecil dari mereka tetap teguh. Pencatatan pengecualian ini, betapapun kecil jumlahnya, menandai bahwa mushaf tidak menggeneralisasi seluruh kaum tanpa membedakan; selalu ada yang bertahan meski mayoritas berpaling, dan keteguhan minoritas ini tetap dicatat, tidak dilebur begitu saja ke dalam kegagalan mayoritas. Ketelitian mencatat pengecualian sekecil apa pun ini menjadi pengingat bahwa penilaian atas sebuah kaum tidak pernah benar-benar seragam; selalu ada individu yang berbeda dari kecenderungan umum kelompoknya, dan perbedaan itu layak dicatat, bukan diabaikan demi kesederhanaan narasi.
  • Penutup ayat ini, Allah mengetahui orang-orang yang zalim, adalah penutup yang sama persis menutup ayat lain dalam surah ini yang juga membicarakan Bani Israil dan sikap mereka terhadap kematian. Pengulangan penutup yang identik pada dua kisah berbeda tentang kaum yang sama menandai sebuah pola yang berulang, bukan kejadian tunggal; pengetahuan Allah atas kezaliman dihadirkan berkali-kali sepanjang surah sebagai pengingat yang tidak berhenti pada satu peristiwa saja.