فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

Maka mereka mengalahkan pasukan itu dengan izin Allah, dan Daud membunuh Jalut, dan Allah memberinya kerajaan dan hikmah, dan mengajarinya sebagian dari apa yang Dia kehendaki. Dan seandainya bukan karena Allah menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini, tetapi Allah mempunyai karunia atas seisi alam.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُfa-hazamuuhum bi-idzni llaahi wa-qatala daawuudu jaaluuta wa-aataahu llaahu l-mulka wa-l-hikmata wa-'allamahu mimmaa yasyaa'umaka mereka mengalahkan pasukan itu dengan izin Allah, dan Daud membunuh Jalut, dan Allah memberinya kerajaan dan hikmah, dan mengajarinya sebagian dari apa yang Dia kehendaki
  2. وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَwa-lawlaa daf'u llaahi n-naasa ba'dhahum bi-ba'dhin la-fasadati l-ardhu wa-laakinna llaaha dzuu fadhlin 'alaa l-'aalamiinadan seandainya bukan karena Allah menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini, tetapi Allah mempunyai karunia atas seisi alam

Terjemahan per kata (27 kata)

  1. فَهَزَمُوهُمْfa-hazamuuhummaka mereka mengalahkan mereka
  2. بِإِذْنِbi-idznidengan izin
  3. اللَّهِllaahiAllah
  4. وَقَتَلَwa-qataladan membunuh
  5. دَاوُودُdaawuuduDawud
  6. جَالُوتَjaaluutaJalut
  7. وَآتَاهُwa-aataahudan memberinya
  8. اللَّهُllaahuAllah
  9. الْمُلْكَl-mulkakerajaan
  10. وَالْحِكْمَةَwa-l-hikmatadan hikmah
  11. وَعَلَّمَهُwa-'allamahudan Dia mengajarinya
  12. مِمَّاmimmaadari apa yang
  13. يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
  14. وَلَوْلَاwa-lawlaadan sekiranya tidak
  15. دَفْعُdaf'umenolak
  16. اللَّهِllaahiAllah
  17. النَّاسَn-naasamanusia
  18. بَعْضَهُمْba'dhahumsebagian mereka
  19. بِبَعْضٍbi-ba'dhindengan sebagian
  20. لَفَسَدَتِla-fasadatisungguh akan rusak
  21. الْأَرْضُl-ardhubumi
  22. وَلَٰكِنَّwa-laakinnatetapi
  23. اللَّهَllaahaAllah
  24. ذُوdzuupemilik
  25. فَضْلٍfadhlinkarunia
  26. عَلَى'alaaatas
  27. الْعَالَمِينَl-'aalamiinaseisi alam

Inti bacaan

Kemenangan Daud atas Jalut ditutup dengan prinsip universal: 'seandainya Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi', perimbangan kekuatan (checks and balances) disebut sebagai mekanisme pencegah kerusakan sistemik. Konkretnya: keberadaan kekuatan penyeimbang (oposisi, pengawasan, pluralisme) dalam masyarakat bukan gangguan yang mengganggu stabilitas, melainkan mekanisme yang justru mencegah kerusakan lebih besar, kekuasaan tunggal tanpa penyeimbang adalah risiko, bukan efisiensi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini membuka penyelesaian kisah, (فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ, fa-hazamuuhum bi-idzni llaahi) "maka mereka mengalahkan pasukan itu dengan izin Allah", menggenapi prinsip yang sudah diucapkan di 2:249, kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. (وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ, wa-qatala daawuudu jaaluuta) "dan Daud membunuh Jalut". (دَاوُودُ, daawuudu) dalam bentuk nominatif ini muncul 3 kali di seluruh mushaf: di sini, 38:24, dan 38:26; bentuk akusatif (دَاوُودَ, daawuuda) muncul jauh lebih sering, 13 kali di 8 surah, termasuk di 38:17, (وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ, wa-dzkur 'abdanaa daawuuda dzaa l-aydi) "dan ingatlah hamba Kami, Daud, yang memiliki kekuatan".

(وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ, wa-aataahu llaahu l-mulka wa-l-hikmata wa-'allamahu mimmaa yasyaa'u) "dan Allah memberinya kerajaan dan hikmah, dan mengajarinya sebagian dari apa yang Dia kehendaki", satu-satunya kemunculan rangkaian (آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ) ini di seluruh mushaf. Di 38:26 Daud disebut lagi, (إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ, innaa ja'alnaaka khaliifatan fii l-ardhi fa-hkum bayna n-naasi bi-l-haqqi) "sesungguhnya Kami telah menjadikanmu khalifah di bumi, maka putuskanlah perkara di antara manusia dengan benar", menghubungkan kerajaan dan hikmah yang disebut di ayat ini dengan tugas menegakkan keputusan yang adil.

Ayat ini ditutup dengan prinsip umum, (وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ, wa-lawlaa daf'u llaahi n-naasa ba'dhahum bi-ba'dhin la-fasadati l-ardhu) "dan seandainya bukan karena Allah menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini". Rangkaian (دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ) muncul lagi di 22:40, tapi dengan akibat berbeda yang disebutkan, (لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا, la-huddimat shawaami'u wa-biya'un wa-shalawaatun wa-masaajidu yudzkaru fiihaa smu llaahi katsiiran) "niscaya dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, tempat ibadah, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah", sebuah rincian yang lebih spesifik daripada kerusakan bumi secara umum yang disebut di ayat ini. Penutupnya, (وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ, wa-laakinna llaaha dzuu fadhlin 'alaa l-'aalamiina) "tetapi Allah mempunyai karunia atas seisi alam", berbeda dari (لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ, la-dzuu fadhlin 'alaa n-naasi) di 2:243 sebelumnya dalam surah yang sama, yang menyebut karunia atas manusia, bukan atas seisi alam.

Tafsiran

Ayat ini menuntaskan kisah panjang tentang Thalut dengan kemenangan yang menggenapi prinsip yang sudah diucapkan sebelumnya, kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Penuntasan ini tidak berhenti pada kemenangan militer saja; ia melanjutkan dengan pemberian kerajaan dan hikmah kepada Daud, sosok yang di ayat lain disebut sebagai khalifah yang diperintahkan memutuskan perkara manusia dengan benar, menghubungkan kemenangan di medan perang dengan tanggung jawab menegakkan keadilan sesudahnya.

Prinsip penutup ayat ini, penolakan sebagian manusia oleh sebagian yang lain sebagai penjaga dari kerusakan bumi, muncul lagi di 22:40 dengan akibat yang dirincikan lebih spesifik, robohnya berbagai tempat ibadah jika prinsip ini tidak berlaku. Dua kemunculan prinsip yang sama dengan tingkat kekhususan berbeda ini, kerusakan bumi secara umum dan robohnya tempat ibadah secara spesifik, menunjukkan bahwa prinsip keseimbangan kekuatan ini berlaku luas, mencakup baik kerusakan besar yang tidak dirinci maupun kerusakan spesifik yang disebutkan jelas di tempat lain.

Ayat ini menutup dengan karunia Allah yang disebut meliputi seisi alam, berbeda dari penyebutan karunia atas manusia saja di 2:243 dalam surah yang sama. Perluasan cakupan karunia dari manusia menjadi seisi alam ini menempatkan kisah kemenangan Thalut dan Daud, yang tampak seperti peristiwa lokal satu kaum, dalam bingkai yang jauh lebih besar, bagian dari karunia yang menjangkau seluruh ciptaan, bukan hanya kaum yang terlibat langsung dalam kisah itu.

Renungan dan Hikmah

  • Kemenangan yang diraih pasukan kecil ini menggenapi persis prinsip yang sudah diucapkan sebelumnya, kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Keselarasan antara prinsip yang diucapkan dan hasil yang benar-benar terjadi ini menegaskan bahwa keyakinan yang diucapkan orang-orang yang meyakini pertemuan dengan Allah bukan sekadar kata-kata penghibur, melainkan keyakinan yang terbukti benar dalam kejadian nyata yang menyusul.
  • Sesudah kemenangan, Daud diberi kerajaan dan hikmah, dan di ayat lain ia disebut sebagai khalifah yang diperintahkan memutuskan perkara manusia dengan benar. Rangkaian dari kemenangan militer menuju tanggung jawab menegakkan keadilan ini menunjukkan bahwa kemenangan dalam pertempuran bukan tujuan akhir; ia menjadi pintu menuju tanggung jawab yang lebih besar, memimpin dan mengadili dengan benar, bukan sekadar merayakan kemenangan yang sudah diraih.
  • Prinsip penolakan sebagian manusia oleh sebagian yang lain sebagai penjaga dari kerusakan disebut di sini secara umum, kerusakan bumi, tapi di ayat lain dirincikan lebih spesifik, robohnya berbagai tempat ibadah dari berbagai kalangan. Dua tingkat kekhususan pada prinsip yang sama ini menunjukkan bahwa keseimbangan kekuatan yang dijaga Allah mencegah kerusakan dalam skala luas maupun dalam bentuk-bentuk kerusakan spesifik yang bisa disebutkan satu per satu.
  • Ayat ini menutup dengan karunia Allah atas seisi alam, cakupan yang lebih luas daripada penyebutan karunia atas manusia saja di ayat lain dalam surah yang sama. Perluasan cakupan ini menempatkan kisah kemenangan satu kaum kecil melawan musuh besar dalam bingkai yang jauh melampaui kaum itu sendiri; apa yang tampak sebagai peristiwa lokal ternyata bagian dari karunia yang menjangkau seluruh ciptaan. Pembaca yang membaca kisah ini semata sebagai riwayat sebuah kaum tertentu kehilangan penutup yang justru menariknya keluar dari batas satu kaum, menempatkannya sebagai contoh dari pola karunia yang berlaku bagi seisi alam.
  • Ayat ini menyiratkan bahwa tanpa mekanisme saling menolak antara sebagian manusia dan sebagian yang lain, bumi akan rusak; kekuatan yang dibiarkan tanpa penyeimbang cenderung mengarah pada kehancuran, bukan ketertiban. Prinsip ini menempatkan pertentangan dan persaingan antarmanusia, yang sering dipandang semata sebagai sumber masalah, justru sebagai bagian dari mekanisme yang mencegah kerusakan yang lebih besar terjadi. Kemenangan Thalut atas Jalut yang baru saja diceritakan menjadi contoh konkret dari prinsip abstrak ini; satu kekuatan menahan kekuatan lain, dan dari penahanan itulah kerusakan yang lebih besar dicegah terjadi.
  • Kisah yang dimulai dengan permintaan raja dari kaum Bani Israil ini berakhir dengan disebutnya dua nama secara eksplisit, Thalut yang diangkat menjadi raja dan Daud yang membunuh Jalut serta diberi kerajaan dan hikmah. Penyebutan nama yang eksplisit di titik penutup ini, berbeda dari bagian awal kisah yang hanya menyebut jabatan tanpa nama, seorang nabi tanpa nama yang berbicara kepada kaumnya, menandai bahwa kisah ini bergerak dari yang umum menuju yang spesifik seiring perkembangannya.