تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ ۚ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ
Itulah para rasul, Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berbicara dengannya, dan Dia angkat sebagian mereka beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam keterangan-keterangan nyata, dan Kami kuatkan ia dengan Ruh Kudus. Dan sekiranya Allah menghendaki, tidaklah orang-orang setelah mereka saling membunuh setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan nyata itu, tetapi mereka berselisih, maka di antara mereka ada yang beriman dan ada yang kufur. Dan sekiranya Allah menghendaki, tidaklah mereka saling membunuh, tetapi Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.
Terjemahan bertahap (6 jeda)
- تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍtilka r-rusulu fadhdhalnaa ba'dhahum 'alaa ba'dhinitulah para rasul, Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain
- مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُminhum man kallama llaahudi antara mereka ada yang Allah berbicara dengannya
- وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍwa-rafa'a ba'dhahum darajaatindan Dia angkat sebagian mereka beberapa derajat
- وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِwa-aataynaa 'iisaa bna maryama l-bayyinaati wa-ayyadnaahu bi-ruuhi l-qudusidan Kami berikan kepada Isa putra Maryam keterangan-keterangan nyata, dan Kami kuatkan ia dengan Ruh Kudus
- وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَwa-law syaa'a llaahu maa qtatala lladziina min ba'dihim min ba'di maa jaa'atsumu l-bayyinaatu wa-laakini khtalafuu fa-minhum man aamana wa-minhum man kafaradan sekiranya Allah menghendaki, tidaklah orang-orang setelah mereka saling membunuh setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan nyata itu, tetapi mereka berselisih, maka di antara mereka ada yang beriman dan ada yang kufur
- وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُwa-law syaa'a llaahu maa qtataluu wa-laakinna llaaha yaf'alu maa yuriidudan sekiranya Allah menghendaki, tidaklah mereka saling membunuh, tetapi Allah melakukan apa yang Dia kehendaki
Terjemahan per kata (52 kata)
- تِلْكَtilkaitulah
- الرُّسُلُr-rusulupara rasul
- فَضَّلْنَاfadhdhalnaaKami melebihkan
- بَعْضَهُمْba'dhahumsebagian mereka
- عَلَىٰ'alaaatas
- بَعْضٍba'dhinsebagian
- مِنْهُمْminhumdari mereka
- مَنْmanorang yang
- كَلَّمَkallamaberbicara
- اللَّهُllaahuAllah
- وَرَفَعَwa-rafa'adan Dia meninggikan
- بَعْضَهُمْba'dhahumsebagian mereka
- دَرَجَاتٍdarajaatinderajat
- وَآتَيْنَاwa-aataynaadan Kami berikan
- عِيسَى'iisaaIsa
- ابْنَbnaputra
- مَرْيَمَmaryamaMaryam
- الْبَيِّنَاتِl-bayyinaatibukti-bukti yang nyata
- وَأَيَّدْنَاهُwa-ayyadnaahudan Kami kuatkan dia
- بِرُوحِbi-ruuhidengan Ruh
- الْقُدُسِl-qudusiKudus
- وَلَوْwa-lawdan sekiranya
- شَاءَsyaa'amenghendaki
- اللَّهُllaahuAllah
- مَاmaatidaklah
- اقْتَتَلَqtatalaberperang
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- مِنْmindari
- بَعْدِهِمْba'dihimsesudah mereka
- مِنْmindari
- بَعْدِba'disesudah
- مَاmaaapa yang
- جَاءَتْهُمُjaa'atsumudatang kepada mereka
- الْبَيِّنَاتُl-bayyinaatubukti-bukti nyata
- وَلَٰكِنِwa-laakinitetapi
- اخْتَلَفُواkhtalafuuberselisih
- فَمِنْهُمْfa-minhummaka di antara mereka
- مَنْmanorang yang
- آمَنَaamanaberiman
- وَمِنْهُمْwa-minhumdan di antara mereka
- مَنْmanorang yang
- كَفَرَkafarakufur
- وَلَوْwa-lawdan sekiranya
- شَاءَsyaa'amenghendaki
- اللَّهُllaahuAllah
- مَاmaatidaklah
- اقْتَتَلُواqtataluumereka berperang
- وَلَٰكِنَّwa-laakinnatetapi
- اللَّهَllaahaAllah
- يَفْعَلُyaf'alumelakukan
- مَاmaaapa yang
- يُرِيدُyuriiduDia kehendaki
Inti bacaan
Perbedaan derajat antar-rasul ('Kami lebihkan sebagian atas sebagian lain') diikuti pengakuan bahwa perselisihan pengikut mereka bukan karena Allah menghendaki konflik, melainkan karena manusia 'berselisih' meski bukti sudah jelas. Konkretnya: keberagaman kapasitas/karunia antar-individu adalah given yang wajar (bahkan di antara para nabi sekalipun), konflik yang muncul kemudian lebih sering berasal dari pilihan manusia untuk berselisih, bukan dari perbedaan itu sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka (تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ, tilka r-rusulu fadhdhalnaa ba'dhahum 'alaa ba'dhin) "itulah para rasul, Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain". Rangkaian (فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ) muncul lagi di 17:21, tapi dalam konteks berbeda, (انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ, unzhur kayfa fadhdhalnaa ba'dhahum 'alaa ba'dhin) "lihatlah bagaimana Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain", di sana menggambarkan perbedaan pemberian di dunia secara umum, bukan khusus perbedaan derajat antar-rasul seperti di ayat ini.
(مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ, minhum man kallama llaahu) "di antara mereka ada yang diajak bicara langsung oleh Allah", satu-satunya kemunculan rangkaian ini, tanpa menyebut nama. Akar yang berarti berbicara itu dengan pola serupa muncul di 4:164, (وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا, wa-kallama llaahu muusaa takliiman) "dan Allah berbicara kepada Musa dengan sebenar-benarnya berbicara", satu-satunya tempat di seluruh mushaf yang secara eksplisit menyebut nama penerima pembicaraan langsung dari Allah dengan akar kata yang sama.
(وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ, wa-rafa'a ba'dhahum darajaatin) "dan Dia angkat sebagian mereka beberapa derajat". Kata (دَرَجَاتٍ, darajaatin) "derajat-derajat" muncul 8 kali di 7 surah: di sini, 4:96, 6:83, 6:165, 12:76, 17:21, 43:32, dan 58:11, dan di 17:21, (وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ, wa-la-l-aakhiratu akbaru darajaatin) "dan sungguh akhirat lebih besar derajat-derajatnya", ayat yang sama yang juga memuat rumus pelebihan di atas.
(وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ, wa-aataynaa 'iisaa bna maryama l-bayyinaati wa-ayyadnaahu bi-ruuhi l-qudusi) "dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam keterangan-keterangan nyata, dan Kami kuatkan ia dengan Ruh Kudus", rangkaian yang muncul persis sama di 2:87, masih dalam surah yang sama. (بِرُوحِ الْقُدُسِ, bi-ruuhi l-qudusi) "dengan Ruh Kudus" muncul 3 kali: di sini, 2:87, dan 5:110; morfologi kata ini sendiri tidak menandai identitas tertentu, dan mushaf tidak merincinya lebih jauh di ketiga tempat itu.
Ayat ini ditutup dua kali dengan rumus (وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ, wa-law syaa'a llaahu maa qtatala) "dan sekiranya Allah menghendaki, tidaklah mereka saling membunuh", dan (وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ, wa-laakinna llaaha yaf'alu maa yuriidu) "tetapi Allah melakukan apa yang Dia kehendaki", rangkaian penutup yang muncul lagi di 22:14 dalam konteks yang sama sekali berbeda, tentang orang-orang beriman dimasukkan ke dalam surga.
Tafsiran
Ayat ini menyusun sebuah daftar perbedaan di antara para rasul, sebuah pengakuan eksplisit bahwa meski semuanya menyandang status yang sama sebagai rasul, mereka tidak diperlakukan seragam dalam hal keistimewaan yang diberikan kepada masing-masing. Salah satu diajak bicara langsung, sebagian diangkat derajatnya, dan Isa secara khusus disebut diberi keterangan nyata serta dikuatkan dengan Ruh Kudus, tiga jenis keistimewaan berbeda yang disebutkan tanpa merinci lebih jauh perbandingan lengkap di antara seluruh rasul.
Rangkaian yang menggambarkan Isa di ayat ini muncul persis sama di 2:87 sebelumnya dalam surah yang sama, sebuah pengulangan yang menegaskan penekanan khusus mushaf terhadap keistimewaan yang diberikan kepadanya. Mushaf tidak merinci identitas di balik istilah Ruh Kudus yang menyertainya; ia berhenti pada penyebutan istilah itu sendiri, tanpa penjelasan lebih lanjut tentang siapa atau apa yang dimaksud secara pasti.
Ayat ini kemudian beralih dari daftar keistimewaan para rasul menuju sebuah kenyataan pahit, perpecahan dan saling membunuh yang terjadi di antara umat-umat sesudah mereka, meski keterangan nyata sudah datang kepada semuanya. Pergeseran dari kemuliaan para rasul menuju perpecahan umat sesudahnya ini menunjukkan bahwa kehadiran bukti dan keterangan yang jelas tidak otomatis mencegah perselisihan; perselisihan tetap terjadi meski keterangan yang sama telah diterima semua pihak.
Penutup ayat ini menegaskan dua kali bahwa jika Allah menghendaki, perselisihan itu tidak akan terjadi, tetapi Allah melakukan apa yang Dia kehendaki. Rumus penutup ini muncul lagi di ayat lain dalam konteks yang sama sekali berbeda, menunjukkan bahwa penegasan kehendak Allah yang berlaku mutlak ini bukan penjelasan yang dicadangkan khusus untuk soal perselisihan dan pertumpahan darah saja, melainkan prinsip yang berlaku luas atas segala sesuatu yang terjadi.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini mengakui secara eksplisit bahwa para rasul dilebihkan satu atas yang lain dalam hal keistimewaan yang diberikan kepada mereka, meski status kerasulan yang mereka sandang sama. Pengakuan ini menunjukkan bahwa memiliki status yang sama tidak berarti menerima perlakuan yang seragam dalam segala hal; perbedaan keistimewaan bisa hadir berdampingan dengan kesetaraan status, tanpa yang satu meniadakan yang lain.
- Rangkaian yang menggambarkan Isa diberi keterangan nyata dan dikuatkan dengan Ruh Kudus muncul persis sama di ayat lain dalam surah yang sama. Pengulangan rumusan yang identik ini menegaskan penekanan khusus terhadap keistimewaan yang diberikan kepadanya, tanpa mushaf merinci lebih jauh identitas di balik istilah yang menyertainya; ia membiarkan istilah itu berdiri tanpa penjelasan tambahan di kedua tempat. Ketiadaan rincian ini bukan kelalaian; ia menempatkan istilah tersebut sebagai bagian dari kosakata yang maknanya dianggap cukup jelas bagi pembaca tanpa perlu penjelasan tambahan di dalam teks itu sendiri.
- Ayat ini menyatakan bahwa perselisihan dan pertumpahan darah tetap terjadi di antara umat sesudah para rasul, meski keterangan nyata sudah datang kepada mereka semua. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kehadiran bukti yang jelas tidak otomatis menyatukan pandangan atau mencegah konflik; manusia tetap bisa berselisih bahkan ketika informasi yang sama tersedia bagi semua pihak yang terlibat. Perselisihan itu sendiri disebut sebagai sebab langsung dari pertumpahan darah, bukan ketiadaan keterangan; pembaca yang menganggap konflik selalu berakar dari kekurangan informasi menemukan di sini gambaran yang berbeda, konflik yang tetap muncul justru sesudah keterangan yang sama diterima semua pihak.
- Ayat ini menutup dengan penegasan bahwa Allah bisa saja mencegah seluruh perselisihan jika menghendaki, tetapi Dia melakukan apa yang Dia kehendaki. Penegasan ini menempatkan seluruh perselisihan yang terjadi dalam bingkai kehendak yang lebih besar, bukan sebagai sesuatu yang lolos dari jangkauan pengetahuan atau kendali-Nya, melainkan sesuatu yang terjadi dalam kerangka kehendak yang tidak dijelaskan lebih lanjut alasannya.
- Rumus penutup tentang Allah melakukan apa yang Dia kehendaki muncul lagi di ayat lain dalam konteks yang sama sekali berbeda, tentang orang-orang beriman dimasukkan ke dalam surga. Kemunculan rumus yang sama pada dua konteks yang sangat berbeda, perselisihan dan pahala, menunjukkan bahwa penegasan ini bukan penjelasan yang dicadangkan khusus untuk hal-hal buruk saja; ia berlaku sama luasnya atas peristiwa yang menyenangkan maupun yang menyedihkan.
- Rumus sekiranya Allah menghendaki, tidaklah mereka saling membunuh diucapkan dua kali berturut-turut dalam ayat ini, sekali untuk umat sesudah para rasul secara umum, sekali menutup ayat secara keseluruhan. Pengulangan rumus yang hampir identik dalam satu ayat yang sama ini menegaskan betapa pentingnya prinsip kehendak Allah bagi keseluruhan pesan ayat, diulang bukan karena kekurangan kata, melainkan untuk menegaskan penekanannya sebelum ayat ini benar-benar berakhir.