يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian, sebelum datang suatu hari yang padanya tidak ada jual beli, tidak ada persahabatan, dan tidak ada syafaat. Dan orang-orang yang kafir, merekalah orang-orang yang zalim.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌyaa ayyuhaa lladziina aamanuu anfiquu mimmaa razaqnaakum min qabli an ya'tiya yawmun laa bay'un fiihi wa-laa khullatun wa-laa syafaa'atunwahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian, sebelum datang suatu hari yang padanya tidak ada jual beli, tidak ada persahabatan, dan tidak ada syafaat
  2. وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَwa-l-kaafiruuna humu zh-zhaalimuunadan orang-orang yang kafir, merekalah orang-orang yang zalim

Terjemahan per kata (22 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. آمَنُواaamanuuberiman
  5. أَنْفِقُواanfiquunafkahkanlah kalian
  6. مِمَّاmimmaadari apa yang
  7. رَزَقْنَاكُمْrazaqnaakumKami rezekikan kepada kalian
  8. مِنْmindari
  9. قَبْلِqablisebelum
  10. أَنْanbahwa
  11. يَأْتِيَya'tiyamendatangkan
  12. يَوْمٌyawmunhari
  13. لَاlaatidak ada
  14. بَيْعٌbay'unjual beli
  15. فِيهِfiihidi dalamnya
  16. وَلَاwa-laadan tidak ada
  17. خُلَّةٌkhullatunpersahabatan
  18. وَلَاwa-laadan tidak ada
  19. شَفَاعَةٌsyafaa'atunsyafaat
  20. وَالْكَافِرُونَwa-l-kaafiruunadan orang-orang kafir
  21. هُمُhumumerekalah
  22. الظَّالِمُونَzh-zhaalimuunaorang-orang zalim

Inti bacaan

Perintah berinfak 'sebelum datang hari yang tidak ada jual beli, persahabatan, atau syafaat' menegaskan bahwa kesempatan berbuat baik memiliki jendela waktu terbatas, sistem transaksi dan relasi yang berlaku di dunia (tawar-menawar, koneksi, perantara) tidak berlaku lagi di titik itu. Konkretnya: bertindak baik selagi ada kesempatan (bukan menunda dengan asumsi akan selalu ada waktu atau cara lain nanti) adalah kesadaran yang didorong ayat ini, momentum kebaikan tidak bisa 'dibeli kembali' setelah jendela waktunya tertutup.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ, yaa ayyuhaa lladziina aamanuu anfiquu mimmaa razaqnaakum) "wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian", satu-satunya kemunculan rangkaian persis ini di seluruh mushaf. Rangkaian yang sangat mirip muncul di 14:31, (وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً, wa-yunfiquu mimmaa razaqnaahum sirran wa-'alaaniyatan) "dan menafkahkan sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka secara diam-diam dan terang-terangan", di sana kata ganti orang ketiga menggantikan sapaan langsung kepada orang beriman, dan disertai keterangan cara, diam-diam atau terang-terangan, yang tidak disebut di ayat ini.

(مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ, min qabli an ya'tiya yawmun laa bay'un fiihi) "sebelum datang suatu hari yang padanya tidak ada jual beli". Rangkaian (لَا بَيْعٌ فِيهِ, laa bay'un fiihi) muncul lagi persis sama di 14:31, tapi kelanjutannya sedikit berbeda, (وَلَا خِلَالٌ, wa-laa khilaalun) "dan tidak ada persahabatan", memakai bentuk kata yang berbeda dari (وَلَا خُلَّةٌ, wa-laa khullatun) di ayat ini, meski dari akar yang sama, yang berarti persahabatan yang karib. Ayat ini menambahkan satu penafian lagi yang tidak ada di 14:31, (وَلَا شَفَاعَةٌ, wa-laa syafaa'atun) "dan tidak ada syafaat". Kata (شَفَاعَةٌ, syafaa'atun) dalam bentuk tak-berimbuhan alif-lam ini muncul 3 kali, seluruhnya di surah ini: di sini, 2:48, dan 2:123. Kedua ayat lain itu memakai rumus yang hampir sama, (وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا, wa-ttaquu yawman laa tajzii nafsun 'an nafsin syay'an) "dan takutlah kepada suatu hari yang padanya seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun", dengan urutan penyebutan syafaat dan keadilan yang saling bertukar tempat di antara keduanya, 2:48 menyebut syafaat lebih dulu baru keadilan, 2:123 menyebut keadilan lebih dulu baru syafaat. Tiga kemunculan kata yang sama, tersebar di tiga titik berbeda sepanjang surah, sama-sama menggambarkan hari yang meniadakan syafaat sebagai jalan pertolongan, dan ayat ini menjadi kemunculan ketiga sekaligus yang terakhir, kali ini bukan sebagai peringatan pasif melainkan sebagai alasan mendesak untuk bertindak sekarang.

Penutupnya, (وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ, wa-l-kaafiruuna humu zh-zhaalimuuna) "dan orang-orang yang kafir, merekalah orang-orang yang zalim", satu-satunya kemunculan rangkaian ini di seluruh mushaf, menyamakan dua kelompok kata yang di ayat-ayat lain sering muncul terpisah, kufur dan zalim, dalam satu penegasan identitas.

Tafsiran

Ayat ini mengajak berinfak dengan menyebut batas waktu yang tegas, sebelum datang sebuah hari yang menutup seluruh mekanisme pertolongan yang biasa diandalkan manusia, jual beli, persahabatan, dan syafaat. Tiga hal yang disebutkan ditiadakan ini mewakili tiga cara berbeda manusia biasa saling menolong, transaksi, hubungan personal, dan permohonan lewat pihak ketiga; ketiganya disebutkan tidak berlaku lagi pada hari itu.

Rangkaian pembuka ayat ini sangat mirip dengan 14:31 yang juga mengajak berinfak sebelum hari yang sama, tapi ayat itu menyebutkan cara berinfak, diam-diam atau terang-terangan, dan hanya meniadakan dua hal, bukan tiga. Ayat ini menambahkan penafian ketiga, syafaat, yang tidak disebut di 14:31, sebuah tambahan yang memperluas cakupan penafian sekaligus menegaskan bahwa bahkan jalan pertolongan lewat perantara pun tidak lagi tersedia pada hari itu. Kata syafaat sendiri sudah dipakai dua kali sebelumnya di surah ini, di 2:48 dan 2:123, keduanya sebagai peringatan pasif; ayat ini menjadi kemunculan ketiga yang mengubah peringatan itu menjadi alasan bertindak.

Penutup ayat ini menyamakan dua kelompok kata yang biasanya menandai dua pelanggaran berbeda, kekafiran dan kezaliman, dalam satu pernyataan identitas yang tegas. Penyamaan ini menempatkan kekafiran bukan sekadar penolakan keyakinan yang berdiri sendiri, melainkan sebuah bentuk kezaliman, sebuah kata yang di tempat lain sering dipakai untuk menggambarkan ketidakadilan terhadap pihak lain, termasuk terhadap diri sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Hari yang disebutkan ayat ini meniadakan tiga mekanisme pertolongan yang biasa diandalkan manusia, jual beli, persahabatan, dan syafaat. Ketiganya mewakili tiga cara manusia biasa saling menolong, lewat transaksi, lewat hubungan personal, dan lewat permohonan pihak ketiga. Ketiadaan ketiganya pada hari itu menempatkan setiap orang sepenuhnya bergantung pada apa yang telah diperbuatnya sendiri sebelumnya, tanpa jalan pintas apa pun yang tersisa.
  • Ajakan berinfak di ayat ini disertai batas waktu yang tegas, sebelum datang hari yang meniadakan seluruh mekanisme pertolongan itu. Penyebutan batas waktu ini mengubah ajakan berinfak dari sekadar anjuran umum menjadi sesuatu yang mendesak; kesempatan berinfak bukan sesuatu yang tersedia tanpa batas, ia memiliki tenggat yang jelas, sesudahnya kesempatan itu sama sekali tertutup. Kata syafaat yang menutup daftar penafian ini sudah dua kali disebut sebelumnya di surah yang sama sebagai bagian dari peringatan tentang hari itu; kemunculan ketiganya di sini mengubah peringatan yang sama menjadi dorongan bertindak sebelum tenggat itu tiba.
  • Rangkaian ayat ini sangat mirip dengan ayat lain yang juga mengajak berinfak sebelum hari yang sama, tapi ayat lain itu hanya meniadakan dua hal, jual beli dan persahabatan, tanpa menyebut syafaat. Tambahan penafian ketiga di ayat ini memperluas cakupan ketiadaan pertolongan pada hari itu, menegaskan bahwa bahkan jalan pertolongan lewat perantara, yang mungkin masih diharapkan sebagian orang, juga tidak lagi tersedia.
  • Penutup ayat ini menyamakan orang-orang kafir dengan orang-orang yang zalim dalam satu pernyataan identitas yang tegas, dua kata yang biasanya menandai dua jenis pelanggaran yang berbeda. Penyamaan ini menempatkan kekafiran bukan semata penolakan keyakinan yang berdiri sendiri tanpa dampak pada pihak lain, melainkan sebuah bentuk ketidakadilan, sebuah kata yang lebih sering dipakai untuk menggambarkan kerugian yang ditimbulkan terhadap sesuatu di luar diri sendiri.
  • Ayat serupa yang mengajak berinfak sebelum hari yang sama menyertakan keterangan cara, secara diam-diam atau terang-terangan, sementara ayat ini tidak menyertakan keterangan cara sama sekali. Ketiadaan keterangan cara ini membuat ajakan di ayat ini terbaca lebih terbuka, tidak membatasi cara berinfak yang dianggap sah; yang ditekankan justru kesegeraan bertindak sebelum batas waktu itu tiba, bukan cara spesifik menjalankannya.
  • Ayat ini menyapa langsung orang-orang yang beriman dengan kata ganti orang kedua, berbeda dari ayat serupa yang menyampaikan ajakan yang sama lewat kata ganti orang ketiga, sebagai perintah yang disampaikan kepada Nabi untuk diteruskan. Sapaan langsung ini menghilangkan jarak antara pesan dan penerimanya; pembaca yang termasuk golongan yang beriman menerima ajakan ini bukan sebagai berita tentang orang lain, melainkan sebagai seruan yang ditujukan langsung kepadanya.