اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia, Yang Hidup lagi Yang Menegakkan. Tidak mengambil-Nya kantuk dan tidak pula tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit-langit dan apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya? Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Dan mereka tidak meliputi sesuatu apa pun dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit-langit dan bumi, dan tidak memberatkan-Nya memelihara keduanya. Dan Dialah Sang Tinggi, Sang Agung.
Terjemahan bertahap (9 jeda)
- اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُallaahu laa ilaaha illaa huwa l-hayyu l-qayyuumuAllah, tidak ada tuhan kecuali Dia, Yang Hidup lagi Yang Menegakkan
- لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌlaa ta'khudzuhu sinatun wa-laa nawmuntidak mengambil-Nya kantuk dan tidak pula tidur
- لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِlahu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhimilik-Nya apa yang ada di langit-langit dan apa yang ada di bumi
- مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِman dzaa lladzii yasyfa'u 'indahu illaa bi-idznihisiapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya
- يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْya'lamu maa bayna aydiihim wa-maa khalfahumDia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka
- وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَwa-laa yuhiithuuna bi-syay'in min 'ilmihi illaa bi-maa syaa'adan mereka tidak meliputi sesuatu apa pun dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki
- وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَwasi'a kursiyyuhu s-samaawaati wa-l-ardhaKursi-Nya meliputi langit-langit dan bumi
- وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَاwa-laa ya'uuduhu hifzhuhumaadan tidak memberatkan-Nya memelihara keduanya
- وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُwa-huwa l-'aliyyu l-'azhiimudan Dialah Sang Tinggi, Sang Agung
Terjemahan per kata (50 kata)
- اللَّهُallaahuAllah
- لَاlaatidak ada
- إِلَٰهَilaahatuhan
- إِلَّاillaakecuali
- هُوَhuwaDia
- الْحَيُّl-hayyuYang Mahahidup
- الْقَيُّومُl-qayyuumuYang Maha Berdiri Sendiri
- لَاlaatidak
- تَأْخُذُهُta'khudzuhumenimpa-Nya
- سِنَةٌsinatunkantuk
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- نَوْمٌnawmuntidur
- لَهُlahubaginya
- مَاmaaapa yang
- فِيfiidi
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَمَاwa-maadan apa yang
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- مَنْmanorang yang
- ذَاdzaayang
- الَّذِيlladziiyang
- يَشْفَعُyasyfa'umemberi syafaat
- عِنْدَهُ'indahudi sisi-Nya
- إِلَّاillaakecuali
- بِإِذْنِهِbi-idznihidengan izin-Nya
- يَعْلَمُya'lamumengetahui
- مَاmaaapa yang
- بَيْنَbaynadi antara
- أَيْدِيهِمْaydiihimtangan mereka
- وَمَاwa-maadan apa yang
- خَلْفَهُمْkhalfahumdi belakang mereka
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يُحِيطُونَyuhiithuunamereka meliputi
- بِشَيْءٍbi-syay'indengan sesuatu
- مِنْmindari
- عِلْمِهِ'ilmihipengetahuan-Nya
- إِلَّاillaakecuali
- بِمَاbi-maadengan apa yang
- شَاءَsyaa'amenghendaki
- وَسِعَwasi'ameliputi
- كُرْسِيُّهُkursiyyuhukursi-Nya
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يَئُودُهُya'uuduhumemberatkan-Nya
- حِفْظُهُمَاhifzhuhumaamemelihara keduanya
- وَهُوَwa-huwadan Dialah
- الْعَلِيُّl-'aliyyuMahatinggi
- الْعَظِيمُl-'azhiimuMahaagung
Inti bacaan
Ayat Kursi menggambarkan Allah sebagai yang 'tidak dilanda kantuk atau tidur' dan 'tidak merasa berat memelihara' langit-bumi, pengawasan dan pemeliharaan yang konstan tanpa jeda maupun kelelahan. Konkretnya: kesadaran bahwa tidak ada momen kehidupan yang luput dari perhatian/pemeliharaan Ilahi bisa menjadi sumber ketenangan di saat sendirian atau merasa terlupakan, sekaligus pengingat bahwa tak ada tindakan yang benar-benar tersembunyi dari akuntabilitas.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka (اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ, allaahu laa ilaaha illaa huwa l-hayyu l-qayyuumu) "Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia, Yang Hidup lagi Yang Menegakkan". Rangkaian ini muncul persis sama di 3:2, ayat kedua yang membuka Surah Ali Imran, sehingga rumusan yang sama yang berhenti di tengah surah ini justru menjadi pembuka bagi surah berikutnya. (الْحَيُّ, al-hayyu) "Yang Hidup" berakar pada akar yang berarti hidup, dan akar itu di tempat lain, seperti 6:95 dan 10:31, selalu dipasangkan berlawanan dengan akar yang berarti "mati", (يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ, yukhriju l-hayya mina l-mayyiti) "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati". Ayat ini sendiri menjelaskan kualitas "Hidup" itu lewat kalimat berikutnya, bukan lewat kata tambahan.
(لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ, laa ta'khudzuhu sinatun wa-laa nawmun) "tidak mengambil-Nya kantuk dan tidak pula tidur", satu-satunya kemunculan rangkaian ini di seluruh mushaf. (لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, lahu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi) "milik-Nya apa yang ada di langit-langit dan apa yang ada di bumi", rangkaian yang muncul lagi persis sama di 42:4, langsung disusul (وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ, wa-huwa l-'aliyyu l-'azhiimu) "dan Dialah Sang Tinggi, Sang Agung", dua frasa yang di ayat ini terpisah jauh, satu di awal dan satu di akhir, tapi berdampingan langsung di 42:4.
(مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ, man dzaa lladzii yasyfa'u 'indahu illaa bi-idznihi) "siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya", memakai rumus tanya (مَنْ ذَا الَّذِي) yang sama dipakai 2:245 sebelumnya, di sana untuk mengajak, di sini untuk mempertanyakan kemungkinan syafaat tanpa izin.
(يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ, ya'lamu maa bayna aydiihim wa-maa khalfahum) "Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka", rangkaian yang muncul 6 kali di 6 surah: di sini, 20:110, 21:28, 22:76, 34:9, dan 41:25, termasuk hampir sama persis di 20:110, (يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا, ya'lamu maa bayna aydiihim wa-maa khalfahum wa-laa yuhiithuuna bihi 'ilman) "Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan mereka tidak meliputi-Nya dengan pengetahuan", struktur kalimat yang sangat dekat dengan (وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ, wa-laa yuhiithuuna bi-syay'in min 'ilmihi illaa bimaa syaa'a) "dan mereka tidak meliputi sesuatu apa pun dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki" di ayat ini.
(وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, wasi'a kursiyyuhu s-samaawaati wa-l-ardha) "Kursi-Nya meliputi langit-langit dan bumi". (كُرْسِيُّهُ, kursiyyuhu) "Kursi-Nya" satu-satunya kemunculan kata ini merujuk Allah di seluruh mushaf; kata dari akar yang sama, yang berarti kursi yang menopang, muncul juga di 38:34, (وَأَلْقَيْنَا عَلَىٰ كُرْسِيِّهِ جَسَدًا, wa-alqaynaa 'alaa kursiyyihi jasadan) "dan Kami letakkan di atas Kursinya sesosok tubuh", di sana merujuk Sulaiman. Ayat ini tidak merinci lebih jauh sifat Kursi yang disebutkan; kata ini dipertahankan transliterasinya, konsisten dengan perlakuan istilah historis-spesifik lain di database ini.
Penutupnya, (وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا, wa-laa ya'uuduhu hifzhuhumaa) "dan tidak memberatkan-Nya memelihara keduanya", satu-satunya kemunculan (يَئُودُهُ) di seluruh mushaf, (وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ, wa-huwa l-'aliyyu l-'azhiimu) "dan Dialah Sang Tinggi, Sang Agung", rangkaian yang muncul lagi hanya di 42:4.
Tafsiran
Ayat ini menyusun rangkaian pernyataan tentang Allah tanpa kalimat perintah maupun ajakan, berbeda dari kebanyakan ayat lain dalam rangkaian ini yang berisi instruksi atau kisah. Setiap kalimat berdiri sebagai pernyataan langsung, dan mushaf membiarkan kalimat-kalimat itu berbicara sendiri tanpa penjelasan tambahan di dalamnya.
Kualitas "Hidup" yang disebut di awal ayat dijelaskan lewat kalimat berikutnya, bukan lewat kata sifat tambahan, tidak mengantuk dan tidak tidur. Pola menjelaskan sebuah sifat lewat kalimat susulan, bukan lewat kata tunggal, konsisten dengan akar yang sama di ayat lain yang selalu memasangkan "hidup" berlawanan dengan "mati" tanpa nuansa tambahan yang perlu disisipkan sebagai kata.
Pertanyaan tentang syafaat di tengah ayat ini memakai rumus tanya yang sama dipakai untuk mengajak berinfak di 2:245, tapi di sini fungsinya berbeda, mempertanyakan kemungkinan syafaat tanpa izin. Kesamaan rumus pada dua fungsi berbeda ini menunjukkan bahwa satu bentuk kalimat bisa membawa nada yang sangat berbeda tergantung isi yang mengikutinya.
Dua frasa yang di ayat ini terpisah jauh, di awal tentang kepemilikan atas langit dan bumi, di akhir tentang sifat Tinggi dan Agung, muncul berdampingan langsung di 42:4. Kedekatan keduanya di tempat lain menunjukkan bahwa dua gagasan ini, kepemilikan menyeluruh dan ketinggian mutlak, berkaitan erat meski di ayat ini dipisahkan oleh serangkaian pernyataan lain di antara keduanya.
Kata yang menyebut Kursi di ayat ini adalah kata yang sama, dari akar yang sama, juga dipakai untuk menyebut kursi seorang raja di 38:34. Ayat ini tidak merinci lebih jauh sifat Kursi yang disebutkan; ia berhenti pada penyebutan kata itu sendiri, membiarkan cakupannya, langit-langit dan bumi, berbicara tentang keluasannya tanpa penjelasan tambahan tentang wujudnya.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyusun serangkaian pernyataan tentang Allah tanpa satu pun kalimat perintah atau ajakan bertindak, berbeda dari kebanyakan ayat lain dalam rangkaian panjang ini yang berisi instruksi atau kisah. Setiap kalimat dibiarkan berdiri sebagai pernyataan yang lengkap dengan sendirinya. Pembaca yang mencari perintah konkret untuk dijalankan tidak menemukannya di sini; yang disediakan ayat ini adalah rangkaian pernyataan untuk direnungkan.
- Sifat Hidup yang disebut di awal ayat dijelaskan lewat kalimat berikutnya, tidak mengantuk dan tidak tidur, bukan lewat tambahan kata sifat lain. Cara menjelaskan sebuah sifat lewat kalimat susulan, bukan lewat kata tunggal, sejalan dengan akar kata yang sama di ayat lain yang selalu memasangkan hidup berlawanan dengan mati tanpa memerlukan kata tambahan untuk menegaskan nuansanya. Pembaca yang mencari kata sifat tunggal untuk memahami makna penuh dari Hidup di sini perlu memperhatikan kalimat yang menyertainya; mushaf memilih menjelaskan lewat konteks, bukan lewat kosakata tambahan yang berdiri sendiri.
- Pertanyaan tentang syafaat di ayat ini memakai rumus tanya yang sama dipakai di ayat lain untuk mengajak orang berinfak kepada Allah, tapi fungsinya di sini justru berlawanan arah, mempertanyakan kemungkinan syafaat tanpa izin-Nya. Kesamaan bentuk kalimat pada dua fungsi yang berbeda ini menunjukkan bahwa memahami sebuah rumus membutuhkan memperhatikan kelanjutan kalimatnya, bukan cukup mengenali bentuk pembukanya saja.
- Frasa tentang kepemilikan atas langit dan bumi di awal ayat ini, dan frasa tentang sifat Tinggi dan Agung di akhirnya, muncul berdampingan langsung tanpa jarak di ayat lain. Kedekatan keduanya di tempat lain, meski di ayat ini dipisahkan oleh serangkaian pernyataan lain, menunjukkan bahwa dua gagasan ini saling berkaitan erat, kepemilikan yang menyeluruh dan ketinggian yang mutlak, meski di sini disusun berjauhan.
- Kata yang menyebut Kursi bagi Allah di ayat ini berakar sama dengan kata yang menyebut kursi seorang raja di ayat lain. Kesamaan kata pada dua pemilik yang sangat berbeda derajatnya ini adalah fakta kebahasaan yang dicatat mushaf sendiri; ayat ini tidak merinci lebih jauh perbandingan atau perbedaan antara keduanya, ia berhenti pada penyebutan kata itu sendiri, membiarkan konteks masing-masing ayat menjelaskan sendiri jangkauannya.
- Ayat ini menyandingkan dua arah pengetahuan yang berlawanan, Allah mengetahui apa yang ada di hadapan dan di belakang makhluk-Nya, sementara makhluk itu sendiri tidak meliputi apa pun dari ilmu-Nya kecuali yang Dia kehendaki. Susunan berlawanan arah ini, mengetahui secara penuh dari satu sisi dan mengetahui secara terbatas dari sisi lain, digambarkan dengan struktur kalimat yang hampir sama persis di ayat lain, menegaskan bahwa pola pembagian pengetahuan semacam ini bukan penyebutan sekali saja.