يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dia menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal sehat.

Terjemahan bertahap (3 jeda)
  1. يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُyu'tii l-hikmata man yashaa'uDia menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki
  2. وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًاwa-man yu'ta l-hikmata fa-qad uutiya khayran katsiirandan siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak
  3. وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِwa-maa yadzdzakkaru illaa uluu l-albaabidan tidak ada yang mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal sehat
Catatan pilihan kata (ringkas)

Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain di ayat ini: tidak menyentuh kata kunci akar (hukm/hikmah/verba mengikuti profil terjemahan lain yang sudah selaras); pasangan sebutan lain (aliim/khabiir dst.) belum dibedah, dipertahankan sementara. Konvensi hkm: hakiim diterjemahkan 'penuh hikmah' (SATU rendering: Allah 91 + KITAB 5 + amr 1; takrif diterjemahkan 'Sang Penuh Hikmah', indefinit kecil tanpa Maha); hikmah diterjemahkan 'hikmah' (gloss '(sunah)' dibuang); muhkam diterjemahkan 'dikukuhkan' (11:1, 22:52); verba diterjemahkan 'memutuskan'; keluarga hakim (hakam/haakimiin/hukkaam) tetap 'hakim/penengah'. ⚠ hukm = passthrough terjemahan lain, sub-putusan MENUNGGU (6:5712:4012:67 tiga rendering). Lih.. Glos kitab (618): adh-dhikr al-hakiim = 'decides judicially' / 'FREE FROM DEFECT; no incongruity' ( diterjemahkan QS 4:82, uji metodologi kita).

Aplikasi

Hikmah disebut sebagai 'kebaikan yang banyak' yang dianugerahkan Allah kepada siapa yang Dia kehendaki, namun hanya diambil pelajaran oleh 'ululalbab' (orang berakal), hikmah tersedia, tapi kemampuan mengambil manfaatnya menuntut kualitas kesiapan tertentu. Konkretnya: kebijaksanaan/wawasan berharga bisa hadir di sekitar kita, tapi memanfaatkannya menuntut kesiapan intelektual dan reflektif, sekadar mendengar tidak cukup tanpa kemauan untuk benar-benar merenungkan dan menyerapnya.