فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ
Maka jika kalian tidak melakukannya, maka ketahuilah tentang perang dari Allah dan Rasul-Nya. Dan jika kalian bertobat, maka bagi kalian pokok harta kalian; kalian tidak berbuat zalim dan tidak pula dizalimi.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِfa-in lam taf'aluu fa-dzanuu bi-harbin mina llaahi wa-rasuulihimaka jika kalian tidak melakukannya, maka ketahuilah tentang perang dari Allah dan Rasul-Nya
- وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَwa-in tubtum fa-lakum ru'uusu amwaalikum laa tazhlimuuna wa-laa tuzhlamuunadan jika kalian bertobat, maka bagi kalian pokok harta kalian; kalian tidak berbuat zalim dan tidak pula dizalimi
Terjemahan per kata (17 kata)
- فَإِنْfa-inmaka jika
- لَمْlamtidak
- تَفْعَلُواtaf'aluukalian melakukan
- فَأْذَنُواfa-dzanuumaka ketahuilah kalian
- بِحَرْبٍbi-harbindengan perang
- مِنَminadari
- اللَّهِllaahiAllah
- وَرَسُولِهِwa-rasuulihidan Rasul-Nya
- وَإِنْwa-indan jika
- تُبْتُمْtubtumkalian bertobat
- فَلَكُمْfa-lakummaka bagi kalian
- رُءُوسُru'uusukepala
- أَمْوَالِكُمْamwaalikumharta kalian
- لَاlaatidak
- تَظْلِمُونَtazhlimuunakalian dizalimi
- وَلَاwa-laadan janganlah
- تُظْلَمُونَtuzhlamuunakalian dizalimi
Inti bacaan
Konsekuensi tegas ('perang dari Allah dan Rasul-Nya') bagi yang menolak meninggalkan riba menunjukkan keseriusan pelanggaran ini, namun ditutup dengan opsi adil: pokok harta tetap hak, sekadar bunga berlebih yang ditolak. Konkretnya: menuntut keadilan ekonomi tidak berarti menolak hak dasar sepenuhnya (di sini: pokok modal tetap dihormati), reformasi sistem yang eksploitatif idealnya membedakan antara hak dasar yang sah dan keuntungan berlebih yang eksploitatif.
Tafsiran
Peringatan ini menaikkan taruhan dari sekadar larangan menjadi konfrontasi langsung: penolakan meninggalkan riba disamakan dengan menyatakan perang terhadap Allah dan Rasul-Nya, bahasa paling keras yang dipakai untuk pelanggaran ekonomi mana pun dalam teks ini. Namun ayat ini segera menawarkan jalan keluar: pertobatan mengembalikan hak penuh atas modal pokok, tanpa lebih dan tanpa kurang, keseimbangan yang eksplisit disebut sebagai keadilan dua arah.
Renungan dan Hikmah
- Kata perang dari Allah dan Rasul-Nya dipakai bukan untuk penyembahan berhala atau pembunuhan, melainkan untuk riba. Bahasa paling keras di seluruh pengaturan ekonomi diletakkan di sini. Yang menentukan beratnya sebuah pelanggaran ternyata bukan seberapa keras ia terdengar bagi manusia.
- Sesudah ancaman seberat itu, Allah menyebut 'bagi kalian pokok harta kalian'. Yang dituntut cuma tambahannya. Penuntutan keadilan yang benar tidak berubah menjadi perampasan atas pihak yang bersalah, dan batas itu ditulis di kalimat yang sama dengan ancamannya.
- Penutupnya menyebut dua arah sekaligus: kalian tidak berbuat zalim dan tidak pula dizalimi. Keadilan yang ditawarkan menjaga kedua belah pihak. Penyelesaian yang cuma melindungi satu sisi biasanya sedang memindahkan kezalimannya, bukan menghentikannya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
Perubahan terjemahan ini: “kamu” diterjemahkan “kalian”; gloss “(dahsyat)” DIBUANG; gloss “(merugikan)/(dirugikan)” dibuang, zh-l-m sudah punya terjemahan tetap 'zalim'. 'Laa tazhlimuuna wa laa tuzhlamuun' (tidak berbuat zalim, tidak pula dizalimi), kalimat penutup ini menegaskan prinsip TIMBAL BALIK/keadilan sbg alasan larangan riba, terlepas dari perdebatan cakupan (lih. entri 2:275): baik pemberi maupun penerima pinjaman sama-sama dilindungi dari kezaliman. fa-'dhanuu bi-harbin = 'ketahuilah (akan ada) perang' (adhina = diberi tahu/izin); ru'uusu amwaalikum = 'pokok harta kalian' (ra's = kepala/pokok, modal tanpa tambahan). laa tazhlimuuna wa-laa tuzhlamuun (akar zh-l-m): aktif & pasif berdampingan, 'tidak menzalimi dan tidak dizalimi'.