مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ ۗ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ
sebelumnya sebagai petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap tanda-tanda Allah, bagi mereka azab yang keras. Dan Allah digdaya, memiliki pembalasan.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَmin qablu hudan li-n-naasi wa-anzala l-furqaanasebelumnya sebagai petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan al-Furqan
- إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌinna lladziina kafaruu bi-aayaati llaahi lahum adzaabun shadiidunsesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap tanda-tanda Allah, bagi mereka azab yang keras
- وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍwallaahu aziizun dzuu ntiqaamindan Allah digdaya, memiliki pembalasan
Catatan pilihan kata (ringkas)
sebagian penerjemah: 'Before as guidance for mankind; and He sent down the Division. Those who deny the proofs of God, they have a severe punishment; and God is exalted in might and vengeful.' Akar akar a-y (aayah), 353 ayat / 382 kemunculan, SATU lema, tak ada dasar morfologis utk memecahnya. alaamah); 'verse of the Kur-án' cuma sense turunan KE-8, di-hedge Lane sendiri: ''. Bukti internal: satu kata menampung manusia (Isa 19:21), hewan (unta 7:73), benda (tongkat 7:106), bahasa & warna kulit (30:22), kisah (26:8), monumen (26:128), DAN satuan teks, hanya 'tanda' yang menampung semuanya. Keputusan Pak FD 16 Jul: 'tanda' TANPA pengecualian (diuji: 'tanda' tak mustahil bahkan di 2:252/10:1/24:1/41:3). tambahan terjemahan lain '(kebesaran)/(kekuasaan)' dibuang, TIDAK ADA di teks Arab. Lih.
Aplikasi
Al-Furqan (pembeda hak-batil) disebut diturunkan untuk 'petunjuk bagi manusia', kapasitas membedakan benar-salah dianggap sebagai anugerah yang harus terus diasah, bukan given otomatis. Konkretnya: kemampuan membedakan yang benar dari yang salah dalam situasi kompleks adalah keterampilan yang perlu terus dikembangkan lewat wahyu/pembelajaran, bukan insting yang datang otomatis, belajar dan refleksi terus-menerus penting untuk menjaga ketajaman moral ini.