هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah yang membentuk kalian dalam rahim sebagaimana Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia, yang digdaya lagi penuh hikmah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُhuwa lladzii yushawwirukum fii l-arhaami kayfa yasyaa'uDialah yang membentuk kalian dalam rahim sebagaimana Dia kehendaki
  2. لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُlaa ilaaha illaa huwa l-'aziizu l-hakiimutidak ada tuhan selain Dia, yang digdaya lagi penuh hikmah

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. هُوَhuwaDia
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. يُصَوِّرُكُمْyushawwirukummembentuk kalian
  4. فِيfiidi
  5. الْأَرْحَامِl-arhaamirahim
  6. كَيْفَkayfabagaimana
  7. يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
  8. لَاlaatidak ada
  9. إِلَٰهَilaahatuhan
  10. إِلَّاillaakecuali
  11. هُوَhuwaDia
  12. الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya
  13. الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah

Inti bacaan

Pembentukan manusia 'dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki' menegaskan bahwa keragaman fisik/karakteristik bawaan (bentuk tubuh, kondisi kesehatan, bahkan gender) adalah hasil kehendak Ilahi, bukan kebetulan atau kesalahan. Konkretnya: menerima keragaman bentuk fisik manusia (termasuk disabilitas atau kondisi bawaan) sebagai bagian dari desain yang disengaja, bukan cacat yang perlu disesali, adalah sikap yang selaras ayat ini, dasar untuk menghormati martabat setiap bentuk ciptaan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menyebut satu pekerjaan yang berlangsung di tempat yang tak seorang pun bisa menyaksikannya, lalu menutupnya dengan dua nama.

Kata yang dipakai untuk tempat itu adalah “rahim” (الْأَرْحَامِ, l-arhaam), dan kata itu berasal dari akar yang sama dengan kata “rahmat”. Bahasa Indonesia kebetulan meminjam kedua sisinya sekaligus: rahim sebagai kandungan, dan rahim sebagai sifat belas kasih. Akar yang di banyak ayat terdengar sebagai perasaan, di sini menunjuk sebuah organ yang memberi penghidupan. Sisi yang bisa diraba itu bukan makna turunan yang jauh; ia jangkar kata tersebut.

Ungkapan “dalam rahim” muncul tiga kali di dalam Al-Qur'an (3:6, 22:5, 31:34). Yang terakhir menaruhnya di dalam daftar hal yang hanya diketahui Allah, bersanding dengan hujan yang dicurahkan. Dua hal yang paling menentukan kehidupan disebut berdampingan, dan keduanya berlangsung di luar jangkauan penglihatan siapa pun.

Cara pembentukannya disebut “sebagaimana Dia kehendaki” (كَيْفَ يَشَاءُ, kayfa yasyaa'u). Yang dibawa seseorang sejak lahir, bentuk tubuhnya dan keadaan yang menyertainya, tidak pernah menjadi hasil permintaannya sendiri. Penutup ayat menyebut dua nama sekaligus, “yang digdaya lagi penuh hikmah” (الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, l-'aziizu l-hakiimu): kekuatan disandingkan dengan pertimbangan, sehingga yang membentuk tanpa diminta itu disebut juga sebagai Yang menimbang.

Kata kerjanya sendiri tak terulang di mana pun. Bentuk “membentuk kalian” (يُصَوِّرُكُمْ, yushawwirukum) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berkaitan dengan rupa dan bentuk yang tampak, bukan dengan penciptaan dari ketiadaan. Yang dibicarakan karena itu bukan asal-usul manusia secara umum, melainkan wujud khusus yang membedakan seseorang dari yang lain.

Bentuk kata kerjanya pun menyatakan perbuatan yang berlangsung, bukan yang sudah selesai. Pembentukan itu tidak digambarkan sebagai peristiwa yang terjadi sekali di masa lalu, melainkan sebagai sesuatu yang sedang berjalan. Setiap saat ada yang sedang dibentuk di tempat yang tak terlihat siapa pun, dan ayat ini memakai bentuk kata yang menampung kenyataan itu.

Dua nama penutupnya adalah pasangan yang sering muncul bersama. Sebutan “yang digdaya lagi penuh hikmah” (الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, l-'aziizu l-hakiimu) muncul di banyak tempat di dalam Al-Qur'an, di antaranya 2:129, 3:18, 3:62, 5:118, dan 14:4. Yang perlu diperhatikan pada pemakaiannya di sini adalah letaknya, yaitu tepat sesudah pernyataan bahwa pembentukan berlangsung sebagaimana Dia kehendaki. Kehendak yang tak bisa digugat disandingkan dengan pertimbangan, dan penyandingan itu menutup satu pembacaan yang mudah muncul, yaitu bahwa kehendak tanpa batas berarti kehendak tanpa alasan.

Bacaan itu punya akibat langsung bagi orang yang membawa keadaan yang tidak ia pilih. Kalau yang membentuk disebut Yang menimbang, maka bentuk yang dibawa seseorang bukan hasil kelalaian dan bukan pula hukuman. Ia hasil pertimbangan yang alasannya tidak diberikan kepada yang bersangkutan.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kekuasaan Allah dalam membentuk manusia di dalam rahim sesuai kehendak-Nya, sekaligus penegasan keesaan-Nya sebagai satu-satunya yang digdaya dan penuh hikmah. Yang paling menuntut perhatian adalah tempat berlangsungnya, dan bukan kenyataan bahwa itu berlangsung.

Tempat yang disebut adalah satu-satunya tempat yang sama sekali tertutup dari pengamatan siapa pun, termasuk dari orang yang sedang dibentuk di dalamnya dan dari orang yang mengandungnya. Hal yang paling menentukan wujud seseorang terjadi tanpa saksi. Kenyataan itu tidak bisa diubah oleh kemajuan apa pun, sebab yang tertutup bukan pengamatannya melainkan keputusannya.

Susunan ayatnya menaruh dua nama di ujung, dan pemilihannya bekerja sebagai keseimbangan. Kalau yang disebut hanya kekuasaan, gambaran yang tinggal adalah kehendak yang tak bisa digugat. Kalau yang disebut hanya pertimbangan, yang hilang adalah kenyataan bahwa tak seorang pun bisa menawar. Keduanya disebut, dan keduanya disebut berdampingan.

Yang lahir dari bacaan seperti itu adalah sikap tertentu terhadap tubuh dan keadaan bawaan, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Tak seorang pun pernah dimintai pendapat tentang wujudnya. Kalau yang membentuk disebut Yang menimbang, maka perbedaan yang dibawa orang sejak lahir bukan kekeliruan yang perlu disembunyikan dan bukan pula keunggulan yang layak dibanggakan. Ia hasil pertimbangan yang alasannya tidak diberikan kepada yang bersangkutan, dan menuntut alasan itu berarti menuntut sesuatu yang memang tidak dijanjikan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut Dia membentuk kalian dalam rahim sebagaimana Dia kehendaki. Di tempat yang tak seorang pun melihat. Yang paling menentukan wujud seseorang terjadi tanpa saksi. Bentuk kata kerjanya (يُصَوِّرُكُمْ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya bentuk yang sedang berlangsung, bukan yang sudah selesai. Sedangkan kata untuk rahim dalam bentuk ini (الْأَرْحَامِ) muncul di lima ayat, yaitu 3:6, 8:75, 22:5, 31:34, dan 33:6. Di 31:34 ia berdiri di dalam daftar hal yang tidak diketahui siapa pun kecuali Allah, dan di 22:5 ia menerangkan tahap-tahap pembentukan yang tidak bisa disaksikan dari luar. Jadi tempat yang dipakai untuk menerangkan pekerjaan Allah di ayat ini adalah tempat yang di ayat lain disebut tertutup dari pengetahuan manusia.
  • Cara pembentukannya disebut sebagaimana Dia kehendaki. Bukan menurut pilihan siapa pun. Yang dibawa seseorang sejak lahir bukan hasil permintaannya. Keterangan itu tidak menyebut sebab, tidak menyebut ukuran, dan tidak menyebut pertimbangan apa pun yang bisa diperiksa dari luar. Bagi pembaca yang sedang menimbang wujudnya sendiri, keterangan sependek itu bisa terasa menutup pintu. Tapi ada sisi lain yang jarang dilihat: kalau bentuk seseorang ditentukan oleh kehendak Allah dan bukan oleh aturan yang bisa dihitung, maka tak ada bentuk yang bisa dinyatakan kurang menurut ukuran bentuk yang lain. Ukuran pembandingnya memang tidak pernah ada.
  • Allah menutup dengan dua nama: digdaya lagi penuh hikmah. Kekuatan dan pertimbangan. Yang membentuk tanpa diminta adalah Yang menimbang, bukan yang sewenang-wenang. Dua nama itu ditaruh persis sesudah pernyataan tentang pembentukan di dalam rahim, dan urutannya masuk akal. Kekuatan menjawab pertanyaan apakah pembentukan itu benar-benar terjadi menurut kehendak-Nya, dan hikmah menjawab pertanyaan apakah ada pertimbangan di baliknya. Satu nama saja akan menyisakan separuh kekhawatiran. Kekuatan tanpa pertimbangan menghasilkan gambaran yang menakutkan, dan pertimbangan tanpa kekuatan menghasilkan gambaran yang tidak menenangkan.
  • Tak seorang pun pernah dimintai pendapat tentang wujudnya sendiri, dan Allah menutup ayat ini dengan menyebut diri-Nya Yang penuh hikmah, bukan sekadar Yang berkuasa. Kalau bentuk yang kita bawa datang dari Yang menimbang, bagaimana semestinya kita memperlakukan bentuk itu pada diri sendiri, dan bagaimana pada orang yang bentuknya berbeda dari kita? Kesadaran itu mengubah letak seluruh pertanyaan tentang diri sendiri. Orang yang menganggap dirinya hasil pilihannya sendiri akan menuntut pertanggungjawaban kepada dirinya atas apa yang tidak ia pilih, dan tuntutan itu tak pernah bisa dipenuhi. Ayat ini memindahkan alamat pertanyaannya. Yang menjadi urusan seseorang bukan bentuk yang ia terima, melainkan apa yang ia kerjakan dengannya.
  • Bentuk kata kerja yang dipakai menandai pekerjaan yang sedang berlangsung, bukan yang sudah selesai di masa lampau. Artinya kalimat ini tidak sedang bercerita tentang bagaimana pembaca dahulu dibentuk. Ia menyatakan sesuatu yang masih berjalan sekarang, pada setiap rahim yang sedang berisi. Apa bedanya bagi yang membaca? Sebuah kisah tentang masa lalu bisa dikagumi lalu ditutup. Sebuah pekerjaan yang masih berjalan menempatkan pembacanya di dalam keadaan yang sama dengan yang diceritakan, cuma pada tahap yang berbeda.
  • Susunan ayat ini bergerak dari yang paling dekat ke yang paling besar. Ia mulai dari pembentukan seseorang di dalam rahim, sesuatu yang paling pribadi yang bisa dibayangkan, lalu langsung menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia. Mengapa pernyataan sebesar itu disandarkan pada bukti sekecil itu? Sebab bukti yang besar bisa diperdebatkan dari kejauhan, sedangkan bukti yang ada pada tubuh sendiri tidak bisa ditinggalkan pembacanya di mana pun ia berdiri. Allah memilih tempat yang tidak bisa dihindari untuk menaruh keterangan-Nya.