رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk, dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Sang Pemberi.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةًrabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba'da idz hadaytanaa wa-hab lanaa min ladunka rahmatanwahai Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk, dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu
- إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُinnaka anta l-wahhaabusesungguhnya Engkau, Engkaulah Sang Pemberi
Catatan pilihan kata (ringkas)
terjemahan lain di ayat ini SUDAH selaras dgn konvensi, teks terjemahan ini identik (tanpa perubahan): “…ugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungg…”. sebagian penerjemah: '“Our Lord: make Thou not our hearts to deviate after Thou hast guided us; and bestow Thou upon us mercy from Thyself; Thou art the Bestower.' Corpus ayat ini: «raHomapF, INDEFINIT».
Aplikasi
Doa 'janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk' mengakui bahwa petunjuk yang sudah diterima tetap rentan hilang, kestabilan spiritual bukan pencapaian permanen, melainkan sesuatu yang perlu terus dijaga dan dimohonkan. Konkretnya: setelah mencapai pemahaman atau komitmen yang baik, tetap perlu kewaspadaan aktif dan doa agar tidak tergelincir kembali, pencapaian spiritual bukan jaminan otomatis untuk selamanya.