قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, “Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Dan Allah pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْqul in kuntum tuhibbuuna llaaha fa-ttabi'uunii yuhbibkumu llaahu wa-yaghfir lakum dzunuubakumkatakanlah, jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian
  2. وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌwa-llaahu ghafuurun rahiimundan Allah pengampun lagi pengasih

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. إِنْinjika
  3. كُنْتُمْkuntumkalian adalah
  4. تُحِبُّونَtuhibbuunakalian mencintai
  5. اللَّهَllaahaAllah
  6. فَاتَّبِعُونِيfa-ttabi'uuniimaka ikutilah aku
  7. يُحْبِبْكُمُyuhbibkumumencintai kalian
  8. اللَّهُllaahuAllah
  9. وَيَغْفِرْwa-yaghfirdan Dia mengampuni
  10. لَكُمْlakumbagi kalian
  11. ذُنُوبَكُمْdzunuubakumdosa-dosa kalian
  12. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  13. غَفُورٌghafuurunpengampun
  14. رَحِيمٌrahiimunpengasih

Inti bacaan

Kriteria cinta kepada Allah diukur konkret: 'jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku (Nabi)', cinta yang klaim verbal saja tidak cukup, harus dibuktikan lewat kesediaan mengikuti teladan nyata. Konkretnya: klaim cinta atau kekaguman (pada nilai, tokoh, prinsip) yang tidak disertai kesediaan mengikuti/menerapkannya dalam tindakan adalah klaim kosong, cinta sejati terbukti lewat pengikutan nyata, bukan sekadar pernyataan.

Tafsiran

Ayat ini menjadikan pengikutan kepada Rasul sebagai bukti kecintaan sejati kepada Allah: jalan yang berbuah kecintaan dan ampunan Allah, karena Dia pengampun lagi pengasih.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menaruh syarat sebelum janji: jika kalian mencintai, maka ikutilah. Ada yang harus dikerjakan. Klaim cinta diminta buktinya lebih dahulu.
  • Arah cintanya berbalik di tengah kalimat: dari kalian mencintai jadi Dia mencintai kalian. Berbalas. Yang memulai manusia, yang menjawab Dia.
  • Allah menyebut ampunan menyusul kecintaan. Bukan mendahului. Yang dihapus disebut sesudah hubungannya dipulihkan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaanrahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Kata dari akar r-h-m (indefinit). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.