إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran atas seisi alam.

Terjemahan bertahap (15 jeda)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. اللَّهَAllaahaAllah
  3. اصْطَفَىٰishthafaamemilih
  4. آدَمَAadamaAdam
  5. وَwa-dan
  6. نُوحًاNuuhanNuh
  7. وَwa-dan
  8. آلَaalakeluarga
  9. إِبْرَاهِيمَIbraahiimaIbrahim
  10. وَwa-dan
  11. آلَaalakeluarga
  12. عِمْرَانَ'ImraanaImran
  13. عَلَى'alaaatas
  14. الْal-
  15. عَالَمِينَ'aalamiinseisi alam

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. اللَّهَAllaahaAllah
  3. اصْطَفَىٰishthafaamemilih
  4. آدَمَAadamakepada Adam
  5. وَنُوحًاwa-Nuuhandan Nuh
  6. وَآلَwa-aaladan keluarga
  7. إِبْرَاهِيمَIbraahiimaIbrahim
  8. وَآلَwa-aaladan keluarga
  9. عِمْرَانَ'ImraanaImran
  10. عَلَى'alaaatas
  11. الْعَالَمِينَl-'aalamiinaseisi alam

Inti bacaan

Pemilihan Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran 'atas seisi alam' menunjukkan pola pemilihan lintas generasi dan garis keturunan berbeda, keistimewaan spiritual tidak terbatas pada satu bangsa/masa tunggal. Konkretnya: pengakuan bahwa kebaikan dan keistimewaan spiritual muncul lintas berbagai kelompok dan zaman (bukan monopoli satu golongan) mendukung sikap inklusif terhadap kebaikan di mana pun ditemukan.

Penjelasan pilihan kata

Kata 'memilih' berasal dari akar yang bermakna dasar menyaring atau mengambil yang murni dan terbaik dari sesuatu: pemilihan di sini bukan sekadar preferensi acak, melainkan penyaringan atas dasar kualitas. Frasa yang diterjemahkan 'seisi alam' dipertahankan konsisten di seluruh Al-Qur'an sebagai rujukan pada seluruh penghuni semesta, bukan 'alam' sebagai ruang fisik semata.

Tafsiran

Ayat ini membuka rangkaian kisah yang berlanjut hingga 3:41 dengan menetapkan sebuah pola: pemilihan Ilahi tidak terjadi sekali, melainkan berulang sepanjang sejarah manusia, melintasi individu (Adam), penyintas bencana yang memulai kembali (Nuh), dan dua garis keluarga (Ibrahim, Imran). Keempatnya berfungsi sebagai penanda bahwa kisah keluarga Imran yang segera menyusul (kelahiran Maryam, pengasuhan oleh Zakaria, kelahiran Yahya), bukan peristiwa terisolasi, melainkan mata rantai lanjutan dari pola yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Menyandingkan keluarga Imran dengan Adam, Nuh, dan Ibrahim di satu kalimat menegaskan bahwa kisah luar biasa yang mengikutinya bukan anomali berdiri sendiri, melainkan bagian dari pola berulang.
  • Rangkaian ini dimulai dari Adam, leluhur seluruh manusia, bukan pendiri satu bangsa atau kelompok tertentu, sebelum berlanjut ke garis keluarga Ibrahim dan Imran. Titik mula yang mencakup semua manusia ini membingkai kisah yang menyusul: apa yang terjadi pada keluarga Imran bukan keistimewaan yang berdiri sendiri di luar sejarah bersama, melainkan kelanjutan dari sesuatu yang berakar pada asal-usul yang sama bagi semua.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

sebutan pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi lm-C2: aalamiin diterjemahkan 'seisi alam' (73 ayat, SATU terjemahan; KBBI seisi = 'seluruh penghuni'; 'alam' = kata serapan aalam). Bandingkan 26:165/15:70/29:10 (aalamiin=orang); definisi internal 26:23-24; tambalan '(pada masa itu)' 6 ayat faddala dibuang. naas diterjemahkan 'manusia', khalq diterjemahkan 'makhluk', ummah diterjemahkan 'umat', wilayah lain, tak dilebur. jamak aalamuun = 'jenis-jenis makhluk yang diciptakan… bentuk jamak ini dipakai justru karena mencakup manusia'.