ذَٰلِكَ نَتْلُوهُ عَلَيْكَ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ

Itu Kami bacakan kepadamu, sebagian dari tanda-tanda dan peringatan yang penuh hikmah.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. ذَٰلِكَ نَتْلُوهُ عَلَيْكَ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِdzaalika natluuhu alayka mina l-aayaati wa-dz-dzikri l-hakiimiitu Kami bacakan kepadamu, sebagian dari tanda-tanda dan peringatan yang penuh hikmah
Catatan pilihan kata (ringkas)

Akar akar a-y (aayah) diterjemahkan 'tanda' (keputusan Pak FD 16 Jul, tanpa pengecualian; lih.). Ayat ini termasuk 55 yang SENGAJA ditunda di rollout pertama karena terjemahan lain memakai 'bukti/mukjizat/keterangan', kata yang bisa menerjemahkan bayyinah/sultaan, bukan aayah. Diselesaikan setelah pemilahan per-LEMA (bukan akar: akar byn mencakup bayyinah/bayna/mubiin yang beda-beda) dan pembacaan teks per-ayat. Padanan pesaing (bayyinah/sultaan) SENGAJA dipertahankan, hanya aayah yang diganti. sebagian penerjemah: 'That do We recite to thee of the proofs and the wise remembrance.'

Aplikasi

Kisah Isa disebut sebagai bagian dari 'peringatan yang penuh hikmah', narasi bukan sekadar informasi historis, melainkan pembawa pelajaran yang harus diserap secara reflektif. Konkretnya: membaca kisah-kisah (dalam teks suci maupun sejarah umum) dengan mencari hikmah/pelajaran di baliknya, bukan sekadar mengonsumsi sebagai fakta, adalah cara yang dianjurkan untuk mendekati narasi.