مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, melainkan ia adalah seorang yang hanif lagi berserah diri, dan ia bukan pula termasuk orang-orang musyrik.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَmaa kaana ibraahiimu yahuudiyyan wa-laa nasraaniyyan wa-laakin kaana haniifan musliman wa-maa kaana mina l-mushrikiinaIbrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, melainkan ia adalah seorang yang hanif lagi berserah diri, dan ia bukan pula termasuk orang-orang musyrik
Catatan pilihan kata (ringkas)

terjemahan lain merender s-l-m di sini via 'muslim'. terjemahan ini menyeragamkan DALAM cabang keberserahan; sisi-keadaan (salaam/saliim) = 'keselamatan/damai', TIDAK diseragamkan lintas cabang. Rollout cabang keberserahan akar akar s-l-m. 'muslim' diterjemahkan 'orang yang berserah diri' meng-universalkan istilah (bdk QS 3:83: seluruh ciptaan 'aslama'), konsisten dgn sikap keberserahan=orientasi hati, bukan keanggotaan institusi (FDI_FRAMEWORK_DIIN -2). PASS: retrofit kau/engkau/kalian menyusul. sebagian penerjemah: 'Abraham was neither one who holds to Judaism, nor a Christian, but was inclining to truth as one submitting; and he was not of the idolaters.' Akar akar s-l-m (slm), cabang KEBERSERAHAN (aslama/islaam/muslim/mustaslim). Diverifikasi corpus Leeds (127 ayat slm; cabang keberserahan 66). Konvensi terjemahan ini (Pak FD 2026-07-15): islaam diterjemahkan 'keberserahan(-diri)', aslama diterjemahkan 'berserah diri', muslim diterjemahkan 'orang yang berserah diri'. Lih. Versi lama catatan ini keliru di kedua titik itu; lih. C1).

Aplikasi

Ibrahim didefinisikan bukan lewat label kelompok (Yahudi/Nasrani) melainkan lewat kualitas karakter: 'hanif' (lurus mencari kebenaran) dan berserah diri, identitas sejati diukur dari orientasi hati, bukan afiliasi institusional. Konkretnya: menilai keteladanan seseorang dari kualitas karakter dan pencarian kebenaran yang tulus, bukan semata dari label kelompok/afiliasi yang mereka sandang, adalah kerangka yang dicontohkan lewat Ibrahim.