إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka, tidak akan memperhatikan mereka pada hari kiamat, dan tidak akan menyucitumbuhkan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌinna lladziina yasytaruuna bi-'ahdi llaahi wa-aymaanihim tsamanan qaliilan ulaa'ika laa khalaaqa lahum fii l-aakhirati wa-laa yukallimuhumu llaahu wa-laa yanzhuru ilayhim yawma l-qiyaamati wa-laa yuzakkiihim wa-lahum 'adzaabun aliimunsesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka, tidak akan memperhatikan mereka pada hari kiamat, dan tidak akan menyucitumbuhkan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih

Terjemahan per kata (27 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. يَشْتَرُونَyasytaruunamereka membeli
  4. بِعَهْدِbi-'ahdidengan janji
  5. اللَّهِllaahiAllah
  6. وَأَيْمَانِهِمْwa-aymaanihimdan sumpah-sumpah mereka
  7. ثَمَنًاtsamananharga
  8. قَلِيلًاqaliilansedikit
  9. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  10. لَاlaatidak ada
  11. خَلَاقَkhalaaqabagian
  12. لَهُمْlahumbagi mereka
  13. فِيfiidi
  14. الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
  15. وَلَاwa-laadan tidak pula
  16. يُكَلِّمُهُمُyukallimuhumumenyapa mereka
  17. اللَّهُllaahuAllah
  18. وَلَاwa-laadan tidak pula
  19. يَنْظُرُyanzhurumemperhatikan
  20. إِلَيْهِمْilayhimkepada mereka
  21. يَوْمَyawmahari
  22. الْقِيَامَةِl-qiyaamatiKiamat
  23. وَلَاwa-laadan tidak pula
  24. يُزَكِّيهِمْyuzakkiihimmenyucitumbuhkan mereka
  25. وَلَهُمْwa-lahumdan bagi mereka
  26. عَذَابٌ'adzaabunazab
  27. أَلِيمٌaliimunyang pedih

Inti bacaan

Konsekuensi berat bagi yang 'memperjualbelikan janji Allah dengan harga murah', komitmen suci yang dikorbankan demi keuntungan kecil dianggap pelanggaran serius dengan konsekuensi menyeluruh. Konkretnya: mengorbankan prinsip/komitmen besar demi keuntungan kecil dan sesaat (uang, kenyamanan, popularitas) adalah pertukaran yang secara fundamental merugikan, perhitungan nilai sejati perlu mempertimbangkan skala pengorbanan versus keuntungan yang didapat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menggambarkan sebuah tukar-menukar, lalu menyebut satu per satu apa yang hilang karena tukar-menukar itu.

Harganya disebut “murah” (ثَمَنًا قَلِيلًا, tsamanan qaliilan). Ungkapan itu bukan milik ayat ini saja. Ia muncul sembilan kali di dalam Al-Qur'an (2:41, 2:79, 2:174, 3:77, 3:187, 3:199, 5:44, 9:9, 16:95), dan bentuknya selalu sama: sesuatu yang berasal dari Allah dilepas, dan yang diterima sebagai gantinya sedikit. Yang berganti-ganti hanyalah barang yang dijual, sedangkan harganya tak pernah berubah sebutannya.

Yang dicabut disebut berurutan, dan tiga di antaranya bukan barang melainkan hubungan: tidak disapa, tidak diperhatikan, tidak disucitumbuhkan. Kerugiannya tidak digambarkan sebagai kehilangan milik, melainkan sebagai putusnya perhubungan.

Kata “menyucitumbuhkan” (يُزَكِّيهِمْ, yuzakkiihim) muncul lima kali di dalam Al-Qur'an (2:129, 2:174, 3:77, 3:164, 62:2), dan pembagiannya menerangkan banyak hal. Di tiga tempat ia pekerjaan yang dilakukan seorang rasul bagi manusia (2:129, 3:164, 62:2). Di dua tempat ia justru ditiadakan, dan ayat ini salah satunya, bersama 2:174. Yang menarik, 2:174 adalah juga tempat lain yang memakai ungkapan harga murah. Dua penolakan itu bertemu di dua ayat yang sama, dan keduanya berbicara tentang orang yang menukar sesuatu dari Allah dengan sesuatu yang kecil.

Ungkapan yang dipakai untuk kerugian mereka tak terulang. Rangkaian “tidak memperoleh bagian” (لَا خَلَاقَ لَهُمْ, laa khalaaqa lahum) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata yang dipakai untuk bagian itu menunjuk jatah yang memang disediakan, bukan hadiah yang mungkin diberikan. Yang hilang karena itu bukan kesempatan memperoleh tambahan, melainkan bagian yang semula memang ada.

Susunan daftar kerugiannya bergerak dari yang paling umum ke yang paling pribadi. Mula-mula bagian di akhirat, lalu tidak disapa, lalu tidak diperhatikan, lalu tidak disucitumbuhkan. Tiga yang terakhir seluruhnya tentang hubungan, dan ketiganya digambarkan sebagai ketiadaan, bukan sebagai tindakan. Bukan diusir, bukan dihukum di tempat itu, melainkan tidak diajak bicara. Bentuk kerugian seperti itu tidak menimbulkan keributan, dan justru karena itu ia lebih berat.

Yang diperjualbelikan pun disebut dua hal, yaitu perjanjian dengan Allah dan sumpah mereka sendiri. Keduanya berjenis sama: ucapan yang mengikat. Yang dilepas bukan harta dan bukan kedudukan, melainkan keterikatan pada kata sendiri. Sesudah itu dilepas, tidak ada lagi yang tersisa untuk dijadikan dasar hubungan, dan daftar ketiadaan di paruh kedua ayat ini terbaca sebagai akibat yang wajar dari hal tersebut.

Penutupnya menyebut azab yang pedih sesudah seluruh ketiadaan itu didaftar. Urutannya patut diperhatikan: yang disebut lebih dahulu justru yang tidak terlihat, dan hukuman yang bisa dibayangkan disebut paling akhir. Susunan itu menempatkan putusnya hubungan sebagai kerugian yang lebih pokok daripada penderitaan.

Tafsiran

Ayat ini mengecam mereka yang mengorbankan janji dan sumpah kepada Allah demi keuntungan duniawi yang murah: di akhirat mereka tidak mendapat bagian, tidak disapa, tidak diperhatikan, dan tidak disucitumbuhkan, melainkan azab pedih yang menanti. Susunan kerugiannya yang paling patut dibaca pelan.

Tiga dari empat hal yang disebut bukan hukuman melainkan ketiadaan. Tidak disapa, tidak diperhatikan, tidak disucitumbuhkan. Semuanya berbentuk sangkalan, bukan tindakan. Yang digambarkan bukan seseorang yang dijatuhi sesuatu, melainkan seseorang yang dilewati. Bentuk kerugian seperti itu tidak menimbulkan suara, dan justru itu yang membuatnya berat.

Kalau ditimbang dengan yang mereka terima, perbandingannya menjadi tajam. Yang dilepas keterikatan pada kata sendiri, yaitu perjanjian dan sumpah. Yang diterima disebut harga yang murah, sebuah ungkapan yang berulang sembilan kali di dalam kitab ini (2:41, 2:79, 2:174, 3:77, 3:187, 3:199, 5:44, 9:9, 16:95) dan selalu dengan bentuk yang sama. Yang berganti hanya barang yang dijual; harganya tak pernah berubah sebutannya.

Ada satu hal yang mengikat ayat ini dengan tempat lain secara mengejutkan. Kata yang dipakai untuk menyucitumbuhkan muncul lima kali di dalam Al-Qur'an, dan pembagiannya rapi: di tiga tempat ia pekerjaan yang dilakukan seorang rasul bagi manusia (2:129, 3:164, 62:2), di dua tempat ia justru ditiadakan (2:174, 3:77). Dan yang satu lagi dari dua tempat penolakan itu, yaitu 2:174, juga memakai ungkapan harga murah. Dua penolakan bertemu di dua ayat yang sama, dan keduanya berbicara tentang orang yang menukar sesuatu dari Allah dengan sesuatu yang kecil.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut mereka memperjualbelikan janji-Nya dan sumpah mereka dengan harga murah. Ada transaksinya. Yang dilepas sesuatu yang tak ternilai, dan yang diterima disebut murah. Yang ditukar di sini bukan barang dan bukan jasa, melainkan janji kepada Allah dan sumpah mereka sendiri. Dua-duanya adalah hal yang tidak punya wujud fisik dan tidak bisa diserahkan dengan tangan. Lalu bagaimana sesuatu seperti itu diperjualbelikan? Caranya bukan menyerahkan, melainkan mengingkari, dan yang diterima sebagai gantinya adalah keuntungan yang lahir dari pengingkaran itu. Perdagangan semacam ini tidak memerlukan pembeli yang sadar sedang membeli.
  • Allah menyebut Dia tidak menyapa mereka, tidak memperhatikan mereka, dan tidak menyucitumbuhkan mereka. Tiga-tiganya tentang hubungan. Yang dicabut bukan barang, melainkan perhatian. Ketiganya disebut berurutan dan masing-masing menutup satu harapan yang berbeda. Tidak disapa menutup harapan akan hubungan; tidak diperhatikan menutup harapan akan perhatian meski tanpa kata; tidak disucitumbuhkan menutup harapan akan perbaikan keadaan. Susunan seperti itu bergerak dari yang paling ringan ke yang paling berat, dan tak satu pun di antaranya berupa siksaan. Siksaan baru disebut sesudah ketiganya, sebagai hal keempat.
  • Allah menyebut mereka tidak memperoleh bagian di akhirat. Nol, bukan sedikit. Yang ditukar dengan harga murah ternyata seluruh bagiannya. Kata yang dipakai bukan kata untuk sedikit melainkan kata untuk tiada. Ini berbeda dari gambaran yang lebih sering dibayangkan orang, yaitu timbangan yang berat sebelah tapi masih punya isi di kedua sisinya. Yang dinyatakan di sini bukan timbangan yang miring melainkan sisi yang kosong. Sebabnya masuk akal kalau dibaca dari kalimat sebelumnya: yang mereka tukar adalah seluruh sandaran mereka di sana.
  • Allah memakai ungkapan harga murah untuk setiap penukaran semacam ini, sembilan kali, dengan barang yang berganti-ganti tetapi harga yang tak pernah berubah sebutannya. Kalau ukurannya memang selalu begitu, apa yang selama ini kita anggap setimpal ketika melepaskan sesuatu yang kita janjikan kepada-Nya? Rangkaian itu memang dipakai berulang di sembilan ayat, dan di seluruh kemunculannya yang dilepas selalu berupa perjanjian, kitab, atau kesaksian. Tak sekali pun kata itu dipakai untuk penukaran barang biasa. Kenapa harga yang mungkin besar sekali dalam angka tetap disebut murah? Karena murah di sini bukan ukuran nominal melainkan perbandingan, dan pembandingnya adalah sesuatu yang tidak punya harga sama sekali.
  • Perhatikan dua hal yang disebut ditukar. Yang pertama disebut janji Allah, yang kedua disebut sumpah mereka. Kata gantinya berbeda, dan perbedaan itu disengaja. Janji itu milik Allah karena Dia yang mengambilnya, sedangkan sumpah itu milik mereka karena mereka sendiri yang mengucapkannya tanpa diminta. Jadi yang mereka lepas bukan cuma sesuatu yang dibebankan dari luar, melainkan juga sesuatu yang mereka pasang sendiri di pundak mereka. Melanggar yang pertama sudah berat; melanggar yang kedua berarti membatalkan kesaksian mereka sendiri tentang diri mereka.
  • Dari lima hal yang disebutkan sebagai akibat, empat yang pertama sama sekali bukan siksaan. Tidak memperoleh bagian, tidak disapa, tidak diperhatikan, tidak disucitumbuhkan: keempatnya berupa ketiadaan, bukan penimpaan. Apa yang membuat ketiadaan terasa berat? Ketiadaan cuma terasa oleh orang yang pernah mengharapkan adanya. Susunan ini karena itu berbicara kepada orang yang masih menaruh harap kepada Allah, dan menyebutkan satu per satu pintu yang tertutup sebelum menyebut siksa yang kelima.