وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا ۗ أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Dan tidak pula ia menyuruh kalian menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai tuhan-tuhan. Apakah ia menyuruh kalian kepada kekufuran setelah kalian menjadi orang yang berserah diri?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًاwa-laa ya'murakum an tattakhidzuu l-malaa'ikata wa-n-nabiyyiina arbaabandan tidak pula ia menyuruh kalian menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai tuhan-tuhan
- أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَa-ya'murukum bi-l-kufri ba'da idz antum muslimuunaapakah ia menyuruh kalian kepada kekufuran setelah kalian menjadi orang yang berserah diri
Catatan pilihan kata (ringkas)
terjemahan lain merender s-l-m di sini via 'muslim'. terjemahan ini menyeragamkan DALAM cabang keberserahan; sisi-keadaan (salaam/saliim) = 'keselamatan/damai', TIDAK diseragamkan lintas cabang. Rollout cabang keberserahan akar akar s-l-m. 'muslim' diterjemahkan 'orang yang berserah diri' meng-universalkan istilah (bdk QS 3:83: seluruh ciptaan 'aslama'), konsisten dgn sikap keberserahan=orientasi hati, bukan keanggotaan institusi (FDI_FRAMEWORK_DIIN -2). PASS: retrofit kau/engkau/kalian menyusul. sebagian penerjemah: 'And nor would he command you to take the angels and the prophets as lords; would he command you to denial after you have been submitting?' Akar akar s-l-m (slm), cabang KEBERSERAHAN (aslama/islaam/muslim/mustaslim). Diverifikasi corpus Leeds (127 ayat slm; cabang keberserahan 66). Konvensi terjemahan ini (Pak FD 2026-07-15): islaam diterjemahkan 'keberserahan(-diri)', aslama diterjemahkan 'berserah diri', muslim diterjemahkan 'orang yang berserah diri'. Lih. Versi lama catatan ini keliru di kedua titik itu; lih. C1).
Aplikasi
Penegasan bahwa figur otoritas sejati tidak akan 'menyuruh menjadikan malaikat dan nabi sebagai tuhan', bahkan figur suci tertinggi pun tidak layak dijadikan objek penyembahan yang menggantikan Allah. Konkretnya: menghormati figur teladan (guru, tokoh spiritual, pemimpin) tidak boleh berkembang menjadi pemujaan berlebihan yang menggantikan komitmen pada nilai/prinsip yang lebih besar yang mereka wakili.