إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

kecuali orang-orang yang bertobat setelah itu dan memperbaiki diri; sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌillaa lladziina taabuu min ba'di dzaalika wa-ashlahuu fa-inna llaaha ghafuurun rahiimunkecuali orang-orang yang bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. إِلَّاillaakecuali
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. تَابُواtaabuubertobat
  4. مِنْmindari
  5. بَعْدِba'disesudah
  6. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  7. وَأَصْلَحُواwa-ashlahuudan memperbaiki
  8. فَإِنَّfa-innamaka sesungguhnya
  9. اللَّهَllaahaAllah
  10. غَفُورٌghafuurunpengampun
  11. رَحِيمٌrahiimunpengasih

Inti bacaan

Pengecualian eksplisit bagi yang 'bertobat setelah itu dan memperbaiki diri', pintu pemulihan tetap terbuka bahkan setelah pelanggaran berat sekalipun, asalkan disertai perbaikan nyata (bukan sekadar penyesalan verbal). Konkretnya: tidak ada kesalahan yang terlalu besar untuk ditebus selama disertai tindakan perbaikan konkret, harapan pemulihan tetap tersedia bagi siapa pun yang benar-benar bersedia berubah.

Tafsiran

Ayat ini membuka jalan pengecualian: mereka yang bertobat setelah kekufurannya dan memperbaiki diri akan mendapati Allah sebagai pengampun dan pengasih.

Renungan dan Hikmah

  • Allah membuka kekecualian tepat sesudah laknat disebutkan. Berdempetan. Vonisnya belum selesai dibaca saat pintunya sudah dibuka.
  • Dua syarat disebut: bertobat, dan memperbaiki diri. Sepasang. Menyesal saja tak cukup tanpa yang kedua.
  • Allah menutup dengan pengampun lagi pengasih. Sesudah menyebut syaratnya. Yang menerima kembali disebut dengan dua sifat yang searah.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaanrahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.