إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Ketika dua golongan di antara kalian hendak gentar, padahal Allah pelindung keduanya. Dan hanya kepada Allah hendaklah orang-orang beriman bertawakal.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَاidz hammat taa'ifataani minkum an tafshalaa wallaahu waliyyuhumaaketika dua golongan di antara kalian hendak gentar, padahal Allah pelindung keduanya
  2. وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَwa-alaa llaahi fal-yatawakkali l-mu'minuunadan hanya kepada Allah hendaklah orang-orang beriman bertawakal
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar h-m-m, t-w-f, f-sh-l, a-l-h, w-l-y, w-k-l, a-m-n): tawakkal diterjemahkan 'bertawakal' (akar w-k-l putaran 61); walii diterjemahkan 'pelindung'; tafshalaa diterjemahkan 'mundur karena kecut'..

Aplikasi

Ketika dua golongan 'hendak mundur karena kecut' pada masa genting, ayat ini tidak mencela rasa takut itu sendiri, melainkan menegaskan bahwa Allah tetap pelindung mereka di titik paling goyah itu, sehingga solusinya adalah bertawakal, bukan mundur. Konkretnya: merasa gentar atau ingin menyerah di tengah krisis adalah manusiawi dan bukan aib; yang menentukan adalah apakah kegentaran itu dituruti jadi keputusan mundur, atau dijawab dengan bersandar lebih kuat pada prinsip yang sudah dipegang.