وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhan kalian dan taman yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَwa-saari'uu ilaa maghfiratin min rabbikum wa-jannatin 'ardhuhaa s-samaawaatu wa-l-ardhu u'iddat li-l-muttaqiinadan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhan kalian dan taman yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. وَسَارِعُواwa-saari'uudan bersegeralah kalian
  2. إِلَىٰilaakepada
  3. مَغْفِرَةٍmaghfiratinampunan
  4. مِنْmindari
  5. رَبِّكُمْrabbikumTuhan kalian
  6. وَجَنَّةٍwa-jannatindan taman
  7. عَرْضُهَا'ardhuhaaluasnya
  8. السَّمَاوَاتُs-samaawaatulangit
  9. وَالْأَرْضُwa-l-ardhudan bumi
  10. أُعِدَّتْu'iddatdisediakan
  11. لِلْمُتَّقِينَli-l-muttaqiinabagi orang-orang yang bertakwa

Inti bacaan

'Bersegeralah menuju ampunan' menyandingkan pencarian ampunan dengan kecepatan bertindak, sama seperti 'bersegera dalam kebaikan' di 3:114, pengampunan bukan sesuatu yang ditunda sampai merasa 'siap'. Konkretnya: begitu menyadari kesalahan, jangan menunda proses memperbaikinya lewat introspeksi, minta maaf, atau berubah, penundaan itu sendiri adalah bentuk kelalaian yang dikritik struktur ayat ini.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memerintahkan sebuah kecepatan, lalu menyebut dua hal yang dituju dalam urutan yang tidak bisa dibalik.

Kata perintahnya “bersegeralah” (وَسَارِعُوا, wa-saari'uu). Kecepatannya bagian dari perintah, bukan tambahan. Yang diminta bukan menuju ke sana pada akhirnya, melainkan menuju ke sana dengan bergegas.

Yang disebut lebih dahulu adalah ampunan, baru sesudah itu tamannya. Urutan itu masuk akal kalau dibaca sebagai satu jalan: yang menghalangi dihapus dulu, baru yang dijanjikan bisa dimasuki.

Ukuran tamannya diberi bandingan, “luasnya seluas langit dan bumi” (عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ, 'ardhuhaa s-samaawaatu). Susunan kata itu hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Gambaran serupa memang diulang di tempat lain dengan kata yang sedikit berbeda (57:21), tetapi rumusan persis ini berdiri sendiri. Yang tak terbayangkan diterangkan lewat sesuatu yang paling luas yang sanggup dibayangkan manusia.

Kata “disediakan” (أُعِدَّتْ, u'iddat) di ujung ayat ini sama persis dengan kata yang dipakai dua ayat sebelumnya untuk api (3:131). Kedua tempat kembali disebut dengan satu kata yang sama, dan dua ayat yang berdekatan itu menawarkan keduanya secara berdampingan.

Kata perintahnya tak terulang. Bentuk “dan bersegeralah” (وَسَارِعُوا, wa-saari'uu) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Bentuk kata yang dipakai menyatakan perbuatan yang dilakukan bersama-sama dan saling berkejaran, bukan sekadar bergegas sendirian. Jadi yang diperintahkan bukan hanya cepat, melainkan cepat di antara orang banyak yang juga sedang bergerak.

Gambaran serupa dipakai di tempat lain dengan kata yang lebih kuat lagi, yaitu berlombalah (57:21). Dua tempat memakai dua kata dari medan yang sama untuk hal yang sama, dan di kedua tempat itu yang dituju juga sama, yaitu ampunan lebih dahulu, baru taman. Urutan itu tetap di kedua tempat, dan ketetapannya menunjukkan bahwa ia bukan kebetulan susunan.

Ukuran tamannya diberi pembanding yang paling luas yang bisa dibayangkan manusia. Susunan kata yang dipakai di sini hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an; di tempat lain gambaran yang sama dipakai dengan kata yang sedikit berbeda (57:21). Yang menarik, pembandingnya bukan sesuatu yang berada di luar jangkauan bayangan, melainkan justru dua hal yang paling sering dilihat orang, yaitu langit dan bumi. Yang tak terbayangkan diterangkan lewat yang paling akrab.

Sebutan penerimanya, yaitu orang-orang yang bertakwa, memakai akar yang sama dengan kata perintah dua ayat sebelumnya (3:131). Di sana yang diperintahkan memasang pelindung dari api; di sini yang disediakan taman bagi yang memasangnya. Dua ayat berdekatan memakai satu akar untuk perintah dan untuk hasilnya, sehingga keduanya terbaca sebagai satu kalimat panjang yang terpotong oleh satu ayat di tengahnya.

Tafsiran

Ayat ini menyerukan agar bersegera menuju ampunan dan taman yang amat luas, seluas langit dan bumi, yang telah disediakan bagi orang-orang bertakwa. Yang perlu diperhatikan lebih dahulu bukan tujuannya, melainkan kecepatannya.

Kecepatan dijadikan bagian dari perintah, bukan tambahan yang dianjurkan. Yang diminta bukan sampai ke sana pada akhirnya, melainkan bergerak ke sana dengan bergegas. Bentuk kata yang dipakai bahkan menyatakan gerakan bersama yang saling berkejaran, sehingga yang digambarkan bukan perjalanan sendirian melainkan orang banyak yang sedang bergerak ke arah yang sama.

Urutan dua hal yang dituju juga tetap dan tidak dibalik di tempat lain yang memuat seruan sejenis. Ampunan disebut lebih dahulu, taman menyusul. Kalau dibaca sebagai satu jalan, urutannya masuk akal: yang menghalangi dihapus dulu, baru yang dijanjikan bisa dimasuki. Susunan itu juga menutup satu bacaan yang keliru, yaitu bahwa yang dikejar adalah hadiahnya.

Ukuran yang diberikan untuk tamannya bekerja dengan cara yang khas. Ia tidak mengatakan taman itu sangat luas, sebab kata sangat tidak menerangkan apa-apa. Ia memberi pembanding, dan pembanding yang dipilih justru dua hal yang paling sering dilihat orang. Sesuatu yang berada di luar bayangan diterangkan lewat sesuatu yang tiap hari ada di atas kepala dan di bawah kaki, dan cara menerangkan seperti itu menempatkan yang dijanjikan bukan di wilayah khayalan, melainkan di wilayah yang bisa mulai dibayangkan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyuruh bersegera menuju ampunan. Bukan menunggu siap. Yang diminta kecepatan, dan kecepatan itu bagian dari perintahnya. Bentuk perintahnya (وَسَارِعُوا) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Yang diperintahkan bukan berjalan menuju, melainkan bersegera, dan kecepatan itu bagian dari perintahnya. Mengapa kecepatan ikut diperintahkan? Karena hal yang dituju di sini adalah ampunan, dan ampunan adalah satu-satunya kebutuhan yang tidak pernah terasa mendesak oleh orang yang memerlukannya. Semua kebutuhan lain menagih sendiri; yang ini harus ditagih dari luar.
  • Ukuran tamannya disebut seluas langit dan bumi. Diberi bandingan. Yang tak terbayangkan diterangkan lewat yang paling luas yang bisa dibayangkan. Ukuran itu diberikan dengan pembanding yang sudah dikenal setiap orang, bukan dengan angka. Sebuah angka yang sangat besar tidak menghasilkan bayangan apa pun di kepala pembacanya, sedangkan langit dan bumi menghasilkan bayangan meski bayangan itu tidak lengkap. Yang menarik, yang dipakai sebagai pembanding adalah dua hal yang justru tidak sanggup diukur manusia juga. Jadi ukurannya diberikan dengan sesuatu yang sama-sama tak terukur, dan itu sendiri sudah keterangan.
  • Allah menyebut ampunan lebih dahulu, baru tamannya. Berurutan. Yang dihapus disebut sebelum yang diberikan. Urutan itu menentukan cara membaca sisa ayat. Kalau taman disebut lebih dulu, yang dituju akan terbaca sebagai hadiah, dan ampunan akan terbaca sebagai syarat administratif untuk mendapatkannya. Dengan urutan yang dipakai di sini, ampunan berdiri sebagai tujuan tersendiri, dan taman menyusul sebagai apa yang menyertainya. Yang dihapus disebut sebelum yang diberikan.
  • Allah tidak sekadar menyuruh menuju ampunan, Dia menyuruh bersegera, sehingga kecepatannya sendiri bagian dari perintah. Apa yang membuat kita merasa masih punya waktu, padahal yang dituju itu justru diperintahkan untuk dikejar dengan bergegas? Ada satu hal yang tidak disebutkan ayat ini, dan ketiadaannya berarti. Tidak disebutkan syarat kesiapan apa pun. Tidak dikatakan bersegeralah sesudah memperbaiki diri, atau sesudah cukup pantas. Kepada siapa perintah ini ditujukan kalau begitu? Kepada siapa saja yang membacanya pada saat ia membacanya, dalam keadaan apa pun ia sedang berada, dan justru keadaan yang paling jauh itulah yang paling memerlukan kecepatan.
  • Kata kerja yang menerangkan taman ini sama persis dengan kata kerja yang menerangkan api dua ayat sebelumnya, dan bentuknya sama-sama menyatakan pekerjaan yang sudah rampung. Kata itu muncul di empat ayat, terbagi rata: 2:24 dan 3:131 untuk api, 3:133 dan 57:21 untuk taman. Apa yang dinyatakan oleh pembagian yang serata itu? Keduanya sudah ada, dan keduanya tidak sedang menunggu keputusan Allah melainkan menunggu kedatangan orangnya. Perintah bersegera di awal ayat ini karena itu bukan perintah membangun sesuatu, melainkan perintah menempuh jarak menuju sesuatu yang sudah berdiri.
  • Ampunan yang dituju disebut berasal dari Tuhan kalian, bukan disebut begitu saja tanpa pemilik. Penyebutan itu mengubah bentuk perjalanannya. Sesuatu yang tidak bermilik bisa dicari dengan usaha sendiri sampai ketemu, dan yang menentukan cuma kegigihan pencarinya. Sesuatu yang ada pada seseorang harus diminta kepadanya, dan yang menentukan bukan lagi kegigihan melainkan hubungan. Allah menyebut diri-Nya dengan sebutan yang menandai hubungan itu, yaitu Tuhan kalian, bukan dengan sebutan yang menandai kekuasaan-Nya.