قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Sungguh telah berlalu sebelum kalian sunnah-sunnah; maka berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan para pendusta.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَqad khalat min qablikum sunanun fa-siiruu fii l-ardi fa-nzhuruu kayfa kaana aaqibatu l-mukadzdzibiinasungguh telah berlalu sebelum kalian sunnah-sunnah, maka berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan para pendusta
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar kh-l-w, q-b-l, s-n-n, s-y-r, a-r-d, n-zh-r, k-y-f, k-w-n, '-q-b, k-dz-b): sunan diterjemahkan 'sunnah-sunnah' yang DIAMATI, gloss '(Allah)' dibuang. akar s-n-n (putaran 57/S4-053): sunnah=keteraturan sejarah yang DIAMATI ('berjalanlah di bumi, perhatikan'), nisbatnya bukan ke Nabi. mukadhdhibiin diterjemahkan 'para pendusta'.

Aplikasi

'Sunnah-sunnah' di sini dikaitkan dengan ajakan konkret 'berjalanlah di bumi, perhatikanlah', pola sejarah yang bisa diamati secara empiris, bukan sekadar dogma yang harus dipercaya begitu saja. Konkretnya: pelajari sejarah dan nasib masyarakat atau peradaban lain sebagai bukti nyata konsekuensi jangka panjang dari pilihan kolektif, pengamatan itu sendiri, bukan cuma nasihat abstrak, adalah metode yang dianjurkan ayat ini.