الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan penciptaan langit dan bumi, “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia; Mahasuci Engkau; maka lindungilah kami dari azab api.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِalladziina yadzkuruuna llaaha qiyaaman wa-qu'uudan wa-'alaa junuubihim wa-yatafakkaruuna fii khalqi s-samaawaati wa-l-ardhi rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan subhaanaka fa-qinaa 'adzaaba n-naariyaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan penciptaan langit dan bumi, ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia, Mahasuci Engkau, maka lindungilah kami dari azab api

Terjemahan per kata (21 kata)

  1. الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
  2. يَذْكُرُونَyadzkuruunamereka mengindahkan
  3. اللَّهَllaahaAllah
  4. قِيَامًاqiyaamanberdiri
  5. وَقُعُودًاwa-qu'uudandan duduk
  6. وَعَلَىٰwa-'alaadan atas
  7. جُنُوبِهِمْjunuubihimlambung mereka
  8. وَيَتَفَكَّرُونَwa-yatafakkaruunadan mereka merenungkan
  9. فِيfiitentang
  10. خَلْقِkhalqipenciptaan
  11. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  12. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  13. رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
  14. مَاmaatidaklah
  15. خَلَقْتَkhalaqtaEngkau menciptakan
  16. هَٰذَاhaadzaaini
  17. بَاطِلًاbaathilansia-sia
  18. سُبْحَانَكَsubhaanakaMahasuci Engkau
  19. فَقِنَاfa-qinaamaka peliharalah kami
  20. عَذَابَ'adzaabaazab
  21. النَّارِn-naariapi

Inti bacaan

Mengingat Allah 'sambil berdiri, duduk, dan berbaring' dipadukan langsung dengan memikirkan penciptaan, dzikir tidak dibatasi pada momen ritual tertentu, melainkan menyatu dengan perenungan aktif dalam segala posisi keseharian. Konkretnya: padukan kesadaran akan makna yang lebih besar ke dalam momen-momen biasa sehari-hari, bukan cuma waktu ibadah formal, dan biarkan kesadaran itu aktif membentuk cara kau memaknai dunia, bahwa tidak ada yang benar-benar sia-sia, bukan sekadar renungan privat yang terpisah dari cara berpikir sehari-hari.

Tafsiran

Ayat ini mencontohkan doa ulul albab: mengingat Allah dalam segala keadaan, merenungkan penciptaan, lalu menyimpulkan bahwa segalanya tidak sia-sia, ditutup permohonan perlindungan dari azab.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut mereka mengingat-Nya sambil berdiri, duduk, dan berbaring. Tiga keadaan, yaitu semua keadaan. Tidak ada posisi tubuh yang dikecualikan dari kemungkinan itu.
  • Sesudah mengingat, Allah menyebut mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi. Hati lalu akal. Yang satu tidak menggantikan yang lain; keduanya disebut berurutan.
  • Allah merekam hasil pemikiran mereka bukan sebagai teori, melainkan sebagai doa: lindungilah kami dari azab api. Perenungan berakhir di tangan yang menengadah. Yang menyimpulkan alam ini tidak sia-sia langsung teringat pada pertanggungjawaban.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar dz-k-r, a-l-h, q-w-m, q-'-d, j-n-b, f-k-r, kh-l-q, s-m-w, a-r-d, r-b-b, b-t-l, s-b-h, w-q-y, '-dz-b, n-w-r): yadhkuruun diterjemahkan 'mengingat' (akar dz-k-r); yatafakkaruun diterjemahkan 'memikirkan'; baatilan diterjemahkan 'sia-sia' (akar b-t-l: baatil=yang kosong/tak berdasar, lawan haqq). Selaras.