إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka memakan api ke dalam perut mereka, dan mereka akan memasuki api yang menyala-nyala.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًاinna lladziina ya'kuluuna amwaala l-yataamaa zhulman innamaa ya'kuluuna fii butuunihim naaransesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka memakan api ke dalam perut mereka
  2. وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًاwa-sa-yaslawna sa'iirandan mereka akan memasuki api yang menyala-nyala
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar a-k-l, m-w-l, y-t-m, zh-l-m, b-t-n, n-w-r, s-l-y, s-'-r): ya'kuluuna...zhulman diterjemahkan 'memakan secara zalim'; sa'iir diterjemahkan 'api yang menyala'. Selaras.

Aplikasi

Metafora 'memakan api ke dalam perut' untuk harta yatim yang dizalimi menggambarkan bahwa keuntungan yang diperoleh secara tidak adil sebenarnya adalah kerugian tersembunyi bagi pelakunya sendiri. Konkretnya: keuntungan finansial yang diperoleh dengan mengeksploitasi pihak yang rentan (anak, lansia, yang tak berdaya) bukan keuntungan nyata, ia membawa kerusakan yang tersembunyi namun nyata bagi pelakunya.