تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Itu adalah batas-batas Allah. Siapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam taman-taman yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang agung.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِtilka huduudu llaahiitu adalah batas-batas Allah
- وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَاwa-man yuti'i llaaha wa-rasuulahu yudkhilhu jannaatin tajrii min tahtihaa l-anhaaru khaalidiina fiihaasiapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam taman-taman yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal di dalamnya
- وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُwa-dzaalika l-fawzu l-azhiimudan itulah kemenangan yang agung
Catatan pilihan kata (ringkas)
azhiim diterjemahkan 'agung' (takrif diterjemahkan 'Sang Agung'; swap sadar-kolokasi per nomina corpus); per kelas morfologi; pasangan belum-dibedah dipertahankan sementara. Konvensi zhm: azhiim diterjemahkan 'agung' seragam (takrif 'Sang Agung'); a'zham diterjemahkan 'lebih agung'; verba azhzhama passthrough. Pembeda: kabiir='besar' (k-b-r, kelak, al-Kabiir sebutan sendiri), majiid='luhur', kariim='mulia', aziiz='digdaya'. Objek negatif (azab/dosa) memakai kata sama, skala, konteks yang bekerja. Lih.. sebagian penerjemah: 'Those are the limits of God. And whoso obeys God and His messenger,1 He will make him enter gardens beneath which rivers flow, they abiding eternally therein; and that is the Great Achievement.' Akar akar '-zh-m: azhuma = 'menjadi besar (skala/bobot)'; azhiim = besar-agung (magnitude); jangkar konkret keluarga: azhm/'izhaam = TULANG (kerangka, yang besar-menopang). KBBI agung indra-1: 'besar; mulia; luhur'.
Aplikasi
Aturan warisan detail ini disebut 'batas-batas Allah' yang, jika ditaati, membawa 'kemenangan yang agung', pembagian harta yang tampak teknis dikaitkan dengan konsekuensi spiritual besar. Konkretnya: menaati sistem yang adil dan jelas (bahkan dalam hal-hal 'teknis' seperti pembagian harta) memiliki bobot moral yang serius, kepatuhan pada keadilan finansial bukan urusan sepele yang terpisah dari spiritualitas.