وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلًا أَنْ يَنْكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ۚ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِكُمْ ۚ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ فَانْكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ مُحْصَنَاتٍ غَيْرَ مُسَافِحَاتٍ وَلَا مُتَّخِذَاتِ أَخْدَانٍ ۚ فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنْكُمْ ۚ وَأَنْ تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Siapa di antara kalian yang tidak mempunyai biaya untuk menikahi perempuan merdeka yang mukmin, maka dari hamba sahaya perempuan mukmin yang kalian miliki. Allah lebih mengetahui tentang keimanan kalian, sebagian kalian adalah sebagian dari yang lain. Nikahilah mereka dengan izin keluarga mereka, dan berilah mereka imbalannya dengan cara yang patut, dalam keadaan menjaga kesucian diri, bukan pezina, dan bukan pula perempuan yang mengambil laki-laki lain sebagai pasangan gelap. Apabila mereka telah bersuami, tetapi melakukan perbuatan keji, atas mereka setengah dari azab yang ditimpakan atas perempuan merdeka. Yang demikian itu berlaku bagi orang yang takut terhadap kesulitan di antara kalian, dan bersabar lebih baik bagi kalian. Dan Allah pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (6 jeda)
  1. وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلًا أَنْ يَنْكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِwa-man lam yastati' minkum tawlan an yankiha l-muhsanaati l-mu'minaati fa-min maa malakat aymaanukum min fatayaatikumu l-mu'minaatisiapa di antara kalian yang tidak mempunyai biaya untuk menikahi perempuan merdeka yang mukmin, maka dari hamba sahaya perempuan mukmin yang kalian miliki
  2. وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِكُمْ ۚ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍwa-llaahu a'lamu bi-iimaanikum ba'dukum min ba'dinAllah lebih mengetahui tentang keimanan kalian, sebagian kalian adalah sebagian dari yang lain
  3. فَانْكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ مُحْصَنَاتٍ غَيْرَ مُسَافِحَاتٍ وَلَا مُتَّخِذَاتِ أَخْدَانٍfa-nkihuuhunna bi-idzni ahlihinna wa-aatuuhunna ujuurahunna bi-l-ma'ruufi muhsanaatin ghayra musaafihaatin wa-laa muttakhidzaati akhdaaninnikahilah mereka dengan izin keluarga mereka, dan berilah mereka imbalannya dengan cara yang patut, dalam keadaan menjaga kesucian diri, bukan pezina, dan bukan pula perempuan yang mengambil laki-laki lain sebagai pasangan gelap
  4. فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِfa-idzaa uhsinna fa-in atayna bi-faahishatin fa-alayhinna nisfu maa alaa l-muhsanaati mina l-adzaabiapabila mereka telah bersuami, tetapi melakukan perbuatan keji, atas mereka setengah dari azab yang ditimpakan atas perempuan merdeka
  5. ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنْكُمْ ۚ وَأَنْ تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَكُمْdzaalika li-man khashiya l-anata minkum wa-an tasbiruu khayrun lakumyang demikian itu berlaku bagi orang yang takut terhadap kesulitan di antara kalian, dan bersabar lebih baik bagi kalian
  6. وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌwa-llaahu ghafuurun rahiimundan Allah pengampun lagi pengasih
Catatan pilihan kata (ringkas)

terjemahan lain di ayat ini: “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya, superlatif yang di teks. *Ghafuur* berpola *fa'uul* & *rahiim* berpola *fa'iil*: intensif, superlatif (bandingkan *arham*, pola *af'al* = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151)., kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik KEMENAG SENDIRI: di ia menulis *rahiim* diterjemahkan “penyayang”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus muncul di, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8)., dan itu penting: *ghafara* = (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), *rahima* =. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. bahwa *ghafuur* & *rahiim* memang saling terikat namun berbeda: akar akar gh-f-r muncul di dekat *rahiim* tapi hanya di dekat *rahmaan*, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan *rahmaan* ≠ *rahiim*. ⚠ Akar tetangga yang BELUM diputuskan (*'aziiz*, *hakiim*, *haliim*, *'aliim* dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Rujukan:,. sebagian penerjemah: 'And whoso among you has not the means to marry free1 believing women,2 then from what your right hands possess of believing3 maids; and God best knows your faith. You are of one another,4 so marry them with the leave of their people; and give them their rewards according to what is fitting,5 they being chaste and not fornicators, nor taking secret friends. But when they are in wedlock, then if they commit sexual immorality: upon them is half6 what is due the free7 women of punishment; that is for him who fears hardship among you. And that you be patient is best for you;8 and God is forgiving and merciful.' Corpus ayat ini: = LEM:gafuwr ROOT:gfr,; = LEM:r~aHiym ROOT:rHm,. Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.

Aplikasi

Kelonggaran menikahi hamba sahaya bagi yang tak mampu menikahi perempuan merdeka disertai alasan eksplisit: mencegah kesulitan yang bisa mendorong pada perbuatan keji, sistem yang mempertimbangkan realitas kemampuan finansial, bukan menuntut standar tunggal tanpa alternatif. Ditutup dengan 'kesabaran lebih baik bagi kalian', pengingat bahwa menahan diri tetap opsi yang dihargai. Konkretnya: sistem sosial yang baik menyediakan jalan keluar realistis bagi keterbatasan finansial (bukan memaksakan standar yang hanya terjangkau kelompok mampu), sambil tetap menghargai pilihan menahan diri sebagai jalan yang mulia.