مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

Di antara orang-orang Yahudi ada yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, “Kami mendengar, tetapi kami membangkang; dengarkanlah, padahal tidak mendengar apa pun; dan raa'inaa,” dengan memutarbalikkan lidah mereka dan mencela pertanggungjawaban. Seandainya mereka mengatakan, “Kami mendengar dan patuh. Dengarkanlah dan perhatikanlah kami,” tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat. Akan tetapi, Allah melaknat mereka karena kekufuran mereka. Mereka tidak beriman, kecuali sedikit sekali.

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِmina lladziina haaduu yuharrifuuna l-kalima 'an mawaadhi'ihidi antara orang-orang Yahudi ada yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya
  2. وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَاwa-yaquuluuna sami'naa wa-'ashaynaa wa-sma' ghayra musma'in wa-raa'inaadan mereka berkata, kami mendengar, tetapi kami membangkang; dengarkanlah, padahal tidak mendengar apa pun; dan raa'inaa
  3. لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِlayyan bi-alsinatihim wa-tha'nan fii d-diinidengan memutarbalikkan lidah mereka dan mencela pertanggungjawaban
  4. وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَwa-law annahum qaaluu sami'naa wa-atha'naa wa-sma' wa-nzhurnaa la-kaana khayran lahum wa-aqwamaseandainya mereka mengatakan, kami mendengar dan patuh, dengarkanlah dan perhatikanlah kami, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat
  5. وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًاwa-laakin la'anahumu llaahu bi-kufrihim fa-laa yu'minuuna illaa qaliilanakan tetapi, Allah melaknat mereka karena kekufuran mereka, mereka tidak beriman kecuali sedikit sekali

Terjemahan per kata (38 kata)

  1. مِنَminadari
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. هَادُواhaaduumenjadi Yahudi
  4. يُحَرِّفُونَyuharrifuunamengubah
  5. الْكَلِمَl-kalimaperkataan
  6. عَنْ'andari
  7. مَوَاضِعِهِmawaadhi'ihitempat-tempatnya
  8. وَيَقُولُونَwa-yaquuluunadan mereka berkata
  9. سَمِعْنَاsami'naakami mendengar
  10. وَعَصَيْنَاwa-'ashaynaadan kami membangkang
  11. وَاسْمَعْwa-sma'dan dengarkanlah
  12. غَيْرَghayraselain
  13. مُسْمَعٍmusma'inyang mendengar
  14. وَرَاعِنَاwa-raa'inaadan perhatikanlah kami
  15. لَيًّاlayyandengan memutar
  16. بِأَلْسِنَتِهِمْbi-alsinatihimlidah mereka
  17. وَطَعْنًاwa-tha'nandan mencela
  18. فِيfiitentang
  19. الدِّينِd-diiniPertanggungjawaban
  20. وَلَوْwa-lawdan sekiranya
  21. أَنَّهُمْannahumbahwa mereka
  22. قَالُواqaaluumereka berkata
  23. سَمِعْنَاsami'naakami mendengar
  24. وَأَطَعْنَاwa-atha'naadan kami patuh
  25. وَاسْمَعْwa-sma'dan dengarkanlah
  26. وَانْظُرْنَاwa-nzhurnaadan pandanglah kami
  27. لَكَانَla-kaanatentulah
  28. خَيْرًاkhayrankebaikan
  29. لَهُمْlahumbagi mereka
  30. وَأَقْوَمَwa-aqwamadan lebih tepat
  31. وَلَٰكِنْwa-laakintetapi
  32. لَعَنَهُمُla'anahumumelaknat mereka
  33. اللَّهُllaahuAllah
  34. بِكُفْرِهِمْbi-kufrihimkarena kekufuran mereka
  35. فَلَاfa-laamaka tidak
  36. يُؤْمِنُونَyu'minuunaberiman
  37. إِلَّاillaakecuali
  38. قَلِيلًاqaliilansedikit

Inti bacaan

Kritik terhadap yang 'mengubah perkataan dari tempat-tempatnya' dan memutarbalikkan kata sapaan agar terdengar seperti ejekan tersembunyi menunjukkan bahwa manipulasi bahasa halus adalah bentuk pelanggaran yang serius, bukan sekadar gaya bicara. Kontras dengan 'seandainya mereka berkata jujur. tentulah lebih baik' menunjukkan kejujuran verbal sederhana selalu jadi pilihan yang tersedia. Konkretnya: memutarbalikkan kata-kata agar punya makna ganda yang menyakiti secara tersembunyi (sarkasme terselubung, pelesetan yang menghina) adalah pelanggaran serius terhadap komunikasi jujur, kejujuran langsung selalu opsi yang lebih baik dan tersedia.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini merekam beberapa ucapan apa adanya, lalu menuliskan sendiri gantinya kata demi kata.

Perbuatan yang disebut lebih dahulu adalah “mengubah perkataan dari tempat-tempatnya” (يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ, yuharrifuuna l-kalima 'an mawaadhi'ihi), ungkapan yang muncul tiga kali di dalam Al-Qur'an (4:46, 5:13, 5:41). Yang digeser bukan kata-katanya, melainkan letaknya. Kata yang tetap utuh pun berubah artinya kalau dipindahkan dari tempatnya berdiri.

Ucapan mereka direkam tanpa dilunakkan, dan yang pertama paling terang-terangan: “kami mendengar, tetapi kami membangkang”. Tidak ada yang disembunyikan di situ. Yang berikutnya dua kalimat yang bunyinya bisa dibaca dua arah, dan ayatnya sendiri menyebut caranya, yaitu “dengan memutarbalikkan lidah mereka”. Yang dipersoalkan bukan kata-katanya semata, melainkan cara kata itu diucapkan.

Yang membuat ayat ini tidak berhenti sebagai kecaman adalah bagian terakhirnya. Gantinya dituliskan lengkap: “kami mendengar dan patuh, dengarkanlah dan perhatikanlah kami”. Kalimat yang benar disodorkan berdampingan dengan kalimat yang salah, sehingga jaraknya bisa dilihat sendiri. Perbedaan antara keduanya ternyata hanya beberapa kata, dan itulah yang membuatnya menusuk.

Keterangan tentang cara mereka mengucapkannya memakai rumusan yang tak terulang. Rangkaian “dengan memutarbalikkan lidah mereka” (لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ, layyan bi-alsinatihim) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berkaitan dengan memilin atau membelokkan sesuatu yang lurus. Yang dipersoalkan bukan kata-katanya, melainkan belokan yang diberikan pada saat mengucapkannya.

Yang paling patut diperhatikan adalah kata pengganti yang disodorkan ayat ini sendiri. Bentuk “dan perhatikanlah kami” (وَانْظُرْنَا, wa-nzhurnaa) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Sebuah kecaman yang menyediakan penggantinya kata demi kata jarang ditemukan. Yang dikecam tidak ditinggalkan tanpa jalan keluar; ia diberi kalimat yang tinggal dipakai.

Salah satu kata yang mereka pakai muncul dua kali di dalam Al-Qur'an (2:104, 4:46). Di tempat yang satu lagi, larangan memakainya diberikan lebih dahulu beserta gantinya. Jadi di sini yang direkam adalah pemakaian kata yang sudah dilarang, dan itu menerangkan mengapa yang dipersoalkan bukan artinya melainkan pilihan untuk tetap memakainya.

Perbuatan yang disebut di awal ayat, yaitu mengubah perkataan dari tempatnya, muncul tiga kali di dalam Al-Qur'an (4:46, 5:13, 5:41). Ketiganya menyangkut sikap terhadap kata yang sudah diterima, bukan terhadap gagasan. Yang digambarkan bukan orang yang menolak isi, melainkan orang yang menerima kata-katanya lalu menggesernya sedikit, dan pergeseran kecil itulah yang berulang kali disebut.

Tafsiran

Ayat ini mengecam sebagian orang yang memutarbalikkan kata-kata dan menyampaikan ucapan bermakna ganda. Yang membuatnya tidak berhenti sebagai kecaman adalah bagian terakhirnya, tempat kalimat penggantinya dituliskan lengkap.

Kecaman yang menyediakan penggantinya kata demi kata jarang ditemukan. Biasanya sebuah teguran berhenti pada menyebut kesalahan, dan yang ditegur ditinggalkan untuk mencari sendiri cara yang benar. Di sini kalimat yang salah dan kalimat yang benar diletakkan berdampingan, sehingga pembacanya bisa mengukur sendiri jaraknya.

Dan jaraknya ternyata pendek. Kami mendengar tetapi kami membangkang, dibandingkan kami mendengar dan kami patuh. Dengarkanlah padahal tidak mendengar, dibandingkan dengarkanlah dan perhatikanlah kami. Perbedaan antara keduanya hanya beberapa kata, dan justru kependekan jarak itu yang membuat ayat ini menusuk. Yang memisahkan dua sikap bukan jurang, melainkan pilihan kecil yang diambil pada saat berbicara.

Ada satu hal yang layak diperhatikan pada apa yang mereka putarbalikkan. Bukan pokok keyakinan, melainkan kata sapaan biasa. Pintu masuk kerusakan bukan pada bagian yang diperdebatkan orang, melainkan pada bagian yang dianggap terlalu remeh untuk diperhatikan. Dan ayat ini sendiri menyebut caranya, yaitu dengan memutarbalikkan lidah, sehingga yang dipersoalkan bukan kata-katanya melainkan belokan yang diberikan pada saat mengucapkannya. Kerusakan semacam itu tidak meninggalkan bukti tertulis.

Renungan dan Hikmah

  • Salah satu ucapan mereka berbunyi 'kami mendengar, tetapi kami membangkang'. Tidak ada yang disembunyikan di situ; pembangkangannya dikatakan dengan lantang. Sebagian kerusakan memang tidak bersembunyi sama sekali, dan justru itu yang membuatnya luput: orang mencari kepalsuan di tempat yang gelap, padahal ia sedang diucapkan di depan. Kalimat itu janggal kalau dibaca sebagai tipuan, sebab tipuan biasanya menyembunyikan maksudnya. Yang terjadi di sini kebalikannya: maksudnya diucapkan, dan yang disembunyikan justru kesungguhannya. Bagaimana mungkin pembangkangan diucapkan di depan orang yang dibangkangi? Caranya dengan menaruhnya di dalam kalimat yang bunyinya bisa dibaca dua arah, dan itulah yang dikerjakan seluruh ayat ini.
  • Yang mereka putarbalikkan bukan pokok keyakinan, melainkan sebuah kata sapaan biasa. Pintu masuknya justru bagian ucapan yang paling ringan dan paling sering dipakai. Yang diawasi orang biasanya kalimat besarnya, sementara Allah di sini menunjuk kata kecil yang terlanjur dianggap tak berbobot. Kata sapaan itu (رَاعِنَا) muncul di dua ayat, yaitu 2:104 dan 4:46. Yang pertama melarang orang beriman memakainya dan menyodorkan gantinya; yang kedua menerangkan mengapa. Jadi larangan diberikan lebih dulu di satu surah, dan sebabnya diterangkan di surah lain. Kata sekecil itu diberi dua ayat di dua tempat berbeda.
  • Ayat ini tidak berhenti mengecam, ia menuliskan gantinya kata demi kata: 'kami mendengar dan patuh, dengarkanlah dan perhatikanlah kami'. Jaraknya cuma beberapa kata dari yang mereka ucapkan. Allah menutup alasan bahwa yang benar itu sulit dirumuskan, sebab rumusannya sudah disediakan di ayat yang sama. Menyediakan penggantinya adalah cara mengoreksi yang jarang dipakai. Teguran biasanya berhenti pada apa yang tidak boleh, dan orang yang ditegur harus mencari sendiri apa yang boleh. Di sini kalimat penggantinya dituliskan lengkap, kata demi kata, sehingga tidak ada ruang untuk mengatakan bahwa yang benar itu tidak jelas.
  • Allah tidak berhenti mengecam; Dia menuliskan sendiri kalimat penggantinya kata demi kata, dan jaraknya ternyata cuma beberapa kata. Kalau perbedaan antara membangkang dan patuh sedekat itu, seberapa sering kita berdiri di sisi yang salah tanpa merasa telah menyeberang? Rangkaian yang menamai cara mereka bicara (لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Kata untuk memutar itu dipakai untuk lidah, bukan untuk kata. Yang diputar bukan maknanya melainkan alat pengucapnya, dan pilihan itu menempatkan perbuatan mereka pada tataran bunyi, bukan tataran tafsir. Perbedaannya penting: yang keliru menafsirkan masih bisa diluruskan dengan keterangan, sedangkan yang sengaja memelesetkan bunyi tidak sedang keliru.
  • Ayat sekeras ini tidak ditutup dengan vonis menyeluruh. Ia ditutup dengan pengecualian, yaitu bahwa mereka tidak beriman kecuali sedikit sekali. Sedikit itu tetap disebut, dan penyebutannya menahan kalimat sebelumnya agar tidak menjadi gambaran tentang satu golongan tanpa kecuali. Apa gunanya bagi pembaca? Ia menutup satu kebiasaan membaca yang paling mudah, yaitu memindahkan seluruh isi ayat kepada semua orang yang kebetulan berbagi nama dengan mereka yang disebut, dan Allah sendiri yang memasang penahannya.
  • Kalimat pengganti yang disodorkan Allah tidak dinilai dengan satu ukuran, melainkan dua: lebih baik bagi mereka, dan lebih tepat. Yang pertama menyangkut keuntungan yang kembali kepada pengucapnya sendiri, yang kedua menyangkut kesesuaian dengan keadaan yang sebenarnya. Mengapa dua-duanya perlu disebut? Karena kalimat yang menguntungkan belum tentu tepat, dan kalimat yang tepat belum tentu terasa menguntungkan. Yang ditolak ayat ini justru kalimat yang dipilih karena menguntungkan sambil dijaga agar tetap bisa dibela sebagai tepat.