إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni jika Dia dipersekutukan, tetapi Dia mengampuni yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang agung.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُinna llaaha laa yaghfiru an yusyraka bihi wa-yaghfiru maa duuna dzaalika li-man yasyaa'usesungguhnya Allah tidak akan mengampuni jika Dia dipersekutukan, tetapi Dia mengampuni yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki
  2. وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًاwa-man yusyrik bi-llaahi fa-qadi ftaraa itsman 'azhiimansiapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang agung

Terjemahan per kata (20 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. اللَّهَllaahaAllah
  3. لَاlaatidak
  4. يَغْفِرُyaghfirumengampuni
  5. أَنْanbahwa
  6. يُشْرَكَyusyrakadipersekutukan
  7. بِهِbihidengan-Nya
  8. وَيَغْفِرُwa-yaghfirudan Dia mengampuni
  9. مَاmaaapa yang
  10. دُونَduunaselain
  11. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  12. لِمَنْli-manbagi siapa yang
  13. يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
  14. وَمَنْwa-mandan orang yang
  15. يُشْرِكْyusyrikmempersekutukan
  16. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  17. فَقَدِfa-qadimaka sungguh
  18. افْتَرَىٰftaraamengada-ada
  19. إِثْمًاitsmandosa
  20. عَظِيمًا'azhiimanyang besar

Inti bacaan

Ayat ini menarik satu garis yang sangat tipis di tengah cakupan yang sangat luas, dan garis setipis itu justru paling mudah dilangkahi tanpa disadari, sebab ia tidak dikelilingi oleh banyak larangan lain yang bisa jadi pengingat. Kalimatnya pendek, tetapi bobotnya tidak berkurang karena pendek, dan justru kesederhanaannya itulah yang membuat satu-satunya batas ini gampang terlewat begitu saja oleh pembaca yang terburu-buru.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menyusun sebuah batas dalam tiga bagian. Bagian pertama menyatakan satu hal yang tidak diampuni Allah. Bagian kedua menyatakan bahwa selain hal itu bisa diampuni. Bagian ketiga menyatakan akibat bagi yang melanggar batas tersebut.

Bagian pertama berbunyi "sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni jika Dia dipersekutukan" (إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ, inna llaaha laa yaghfiru an yusyraka bihi). Rangkaian kata ini, persis seperti tertulis, hanya muncul di dua tempat di seluruh Al-Qur'an: di sini dan di 4:116, ayat lain dalam surah yang sama. Dua kali disebutkan, kata demi kata sama, di dalam satu surah yang sama. Batas ini bukan disebut sekali lalu dilupakan, melainkan ditegaskan ulang di tempat lain.

Bagian kedua menyusul tanpa jeda, "tetapi Dia mengampuni yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki" (وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ, wa-yaghfiru maa duuna dzaalika li-man yasyaa'u). Kata kunci di bagian ini adalah "bagi siapa yang Dia kehendaki". Kata itu berarti dosa selain mempersekutukan Allah tidak otomatis diampuni begitu saja. Ampunan itu tetap bergantung pada kehendak Allah sendiri. Satu pintu tertutup, tetapi pintu-pintu lain juga tidak terbuka lebar tanpa syarat apa pun. Semuanya tetap berada di tangan Allah.

Bagian ketiga berbunyi "siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang agung" (وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا, wa-man yusyrik bi-llaahi fa-qadi ftaraa itsman 'azhiiman). Kata yang dipakai bukan sekadar "melakukan", melainkan "iftaraa", yang berarti mengada-ada, mengarang sesuatu yang tidak nyata. Kata yang sama dipakai di ayat-ayat lain untuk menyebut tuduhan yang dibuat-buat tanpa dasar. Memakai kata ini untuk mempersekutukan Allah berarti menyebut perbuatan itu sebagai sebuah karangan, sesuatu yang diada-adakan padahal tidak punya dasar kenyataan apa pun.

Ayat 4:116 mengulang persis dua bagian pertama ayat ini, kata demi kata, tetapi menutup dengan kalimat berbeda, "sungguh telah tersesat jauh" (فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا, fa-qad dhalla dhalaalan ba'iidan), bukan "berbuat dosa yang agung". Dua penutup berbeda untuk satu peringatan yang sama menghadirkan dua citra sekaligus. Di sini, mempersekutukan Allah digambarkan sebagai karangan, sesuatu yang diciptakan padahal palsu. Di 4:116, ia digambarkan sebagai perjalanan yang keliru arah, jarak yang makin jauh dari tujuan. Karangan menunjuk pada sesuatu yang dibuat. Tersesat menunjuk pada sesuatu yang dijalani. Dua sudut pandang ini saling melengkapi, bukan saling bertentangan.

Kata "yasyaa'u" (يَشَاءُ), "Dia kehendaki", pada ayat ini muncul lagi di ayat sesudahnya, 4:49, dalam bentuk serupa, "bali llaahu yuzakkii man yasyaa'u", "sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki". Dua ayat yang bersebelahan sama-sama menyandarkan sesuatu penting, pengampunan di sini dan penyucian di ayat sesudahnya, pada kehendak Allah semata, bukan pada klaim atau permintaan siapa pun.

Tafsiran

Ayat ini menempatkan mempersekutukan Allah pada kedudukan yang berbeda dari dosa-dosa lain. Bukan sekadar lebih berat dalam ukuran, melainkan berbeda jenis. Dosa-dosa lain adalah pelanggaran atas batas yang ditetapkan Allah. Mempersekutukan Allah adalah pengingkaran atas kedudukan Allah itu sendiri sebagai satu-satunya yang layak disembah.

Kata "iftaraa" yang dipakai untuk akibatnya menegaskan sisi ini. Mempersekutukan Allah tidak digambarkan sebagai kesalahan yang bisa lahir dari kealpaan semata, melainkan sebagai sebuah karangan aktif, sesuatu yang diciptakan seseorang padahal tidak berdasar. Menyandingkan Allah dengan sesuatu yang lain berarti mengarang kenyataan yang tidak ada, sebab tidak ada apa pun yang setara dengan Allah untuk disandingkan.

Ayat ini juga tidak berhenti pada ancaman semata. Frasa "bagi siapa yang Dia kehendaki" menyisakan ruang luas bagi dosa selain mempersekutukan Allah. Ruang itu tidak dijamin otomatis, tetapi juga tidak ditutup rapat. Kehendak Allah tetap menjadi penentu. Itu berarti ampunan-Nya tidak bisa dituntut sebagai hak yang pasti, tetapi juga tidak bisa dipastikan tertutup bagi siapa pun selain yang mempersekutukan-Nya.

Batas yang ditarik ayat ini sangat jelas untuk satu dosa, dan sangat terbuka untuk selebihnya. Kombinasi ini menempatkan tanggung jawab pada pilihan yang diambil seseorang, bukan pada nasib yang sudah ditentukan sebelum ia berbuat apa pun. Satu larangan yang tegas berdampingan dengan cakupan ampunan yang luas, dua hal yang sama-sama ditegaskan Allah dalam satu ayat yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut satu hal yang tidak Dia ampuni, lalu langsung menyebut semua yang lain sebagai sesuatu yang bisa diampuni. Bukan daftar panjang berisi banyak larangan, melainkan satu pengecualian tunggal di tengah cakupan yang luas. Ayat ini tidak menakut-nakuti dengan menumpuk banyak dosa yang tak berampun, ia justru mempersempitnya menjadi satu titik saja, dan justru itu yang membuat titik itu terasa begitu penting untuk dikenali. Ukuran daftar bukan ukuran bobot, sebab satu titik yang dipilih Allah untuk dikecualikan ini justru menyandang bobot yang jauh melampaui panjang daftarnya sendiri.
  • Dosa selain mempersekutukan Allah disebut bisa diampuni, tetapi Allah menambahkan syarat, bagi siapa yang Dia kehendaki. Kata itu mencegah ayat ini dibaca sebagai jaminan kosong bahwa semua dosa lain pasti hilang begitu saja. Ampunan tetap berada penuh di tangan Allah, bukan menjadi hak yang otomatis didapat siapa pun hanya karena dosanya bukan syirik. Siapa pun yang berhenti membaca di separuh kalimat pertama saja bisa keliru menyimpulkan bahwa selain syirik semuanya sudah pasti aman, padahal separuh kalimat kedua justru menahan kesimpulan itu.
  • Kata yang dipakai untuk mempersekutukan Allah bukan sekadar berbuat dosa, melainkan mengarang sesuatu yang tidak nyata. Pilihan kata ini menunjukkan bahwa mempersekutukan Allah bukan kekeliruan kecil yang bisa lahir tanpa sengaja. Ia digambarkan sebagai tindakan aktif menciptakan sesuatu yang sebenarnya tidak berdasar, sebuah karangan yang disandingkan dengan Allah seolah setara dengan-Nya. Kata yang sama, di ayat-ayat lain, dipakai untuk menyebut tuduhan palsu yang diarahkan kepada orang lain, dan di sini arah karangan itu justru ditujukan kepada Allah sendiri.
  • Ayat lain dalam surah yang sama, 4:116, mengulang persis dua bagian pertama ayat ini tetapi menutupnya dengan kalimat berbeda, tersesat jauh, bukan dosa yang agung. Allah memilih dua citra berbeda untuk satu peringatan yang sama, karangan di satu tempat dan perjalanan yang salah arah di tempat lain. Kenapa satu batas yang sama perlu digambarkan lewat dua sudut pandang yang berbeda, bukan cukup diulang persis sama? Barangkali sebab satu citra saja tidak cukup menangkap seluruh sisi dari satu kesalahan yang sama beratnya ini.
  • Kata yang menyebut kehendak Allah di ayat ini muncul lagi di ayat sesudahnya, 4:49, kali ini soal siapa yang Dia sucikan. Dua ayat yang bersebelahan sama-sama menyandarkan sesuatu penting, ampunan dan penyucian, kepada kehendak Allah semata. Tidak ada klaim manusia yang bisa menggantikan posisi itu, betapapun yakinnya seseorang atas dirinya sendiri. Dua ayat berturut yang memakai kata kehendak yang sama menegaskan bahwa keduanya, ampunan atas dosa dan penilaian atas kesucian diri, berdiri di tangan yang sama pula.
  • Dari sekian banyak pelanggaran yang mungkin dilakukan seseorang, Allah memilih satu kategori sebagai fundamental, menyekutukan sumber otoritas tertinggi, berbeda tingkat keseriusannya dari yang lain. Perbedaan ini mirip perbedaan antara kesalahan yang bisa diperbaiki lewat proses pemulihan biasa dan pelanggaran yang mengkhianati komitmen paling dasar, bukan sekadar kesalahan teknis yang bisa ditambal begitu saja tanpa mengubah apa pun di intinya.
  • Satu larangan yang sangat tegas berdiri berdampingan dengan cakupan ampunan yang sangat luas, dua hal yang sama-sama ditegaskan Allah dalam satu ayat yang sama. Ayat ini tidak memilih salah satu saja, seolah harus galak sepenuhnya atau lembut sepenuhnya. Keduanya dibiarkan berdiri bersama, dan pembaca ditinggalkan untuk menimbang sendiri di mana posisinya berdiri di antara keduanya hari ini. Berdampingannya ketegasan dan keluasan dalam satu kalimat yang sama adalah pola yang layak diperhatikan setiap kali membaca ayat-ayat lain tentang batas dan ampunan.