وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيدًا

Dan sesungguhnya di antara kalian ada yang sangat memperlambat diri; maka jika musibah menimpa kalian, ia berkata, “Sungguh Allah telah menganugerahi nikmat kepadaku karena aku tidak bersama mereka.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّwa-inna minkum la-man la-yubatti'annadan sesungguhnya di antara kalian ada yang sangat memperlambat diri
  2. فَإِنْ أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيدًاfa-in asaabatkum musiibatun qaala qad an'ama llaahu alayya idz lam akun ma'ahum shahiidanmaka jika musibah menimpa kalian, ia berkata, sungguh Allah telah menganugerahi nikmat kepadaku karena aku tidak bersama mereka
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar b-t-a, s-w-b, q-w-l, n-'-m, a-l-h, k-w-n, sh-h-d): la-yubatti'anna diterjemahkan 'sangat memperlambat diri'; musiibah diterjemahkan 'musibah'. gloss '(ke medan pertempuran)' dibuang.

Aplikasi

Sikap oportunis: 'sangat memperlambat diri' saat berbahaya, lalu mengklaim bersyukur 'tidak bersama mereka' saat musibah menimpa yang lain, pengecut yang membingkai penghindaran sebagai nikmat, bukan pengakuan ketakutan. Konkretnya: waspadai kecenderungan membingkai penghindaran tanggung jawab sebagai 'keberuntungan', kejujuran mengakui rasa takut lebih sehat daripada menyamarkannya sebagai nikmat yang disyukuri.