أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Tidakkah mereka menadaburi Al-Qur'an? Sekiranya ia dari selain Allah, tentu mereka menemukan di dalamnya banyak pertentangan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَa-fa-laa yatadabbaruuna l-qur'aanatidakkah mereka menadaburi Al-Qur'an
  2. وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًاwa-law kaana min indi ghayri llaahi la-wajaduu fiihi khtilaafan katsiiransekiranya ia dari selain Allah, tentu mereka menemukan di dalamnya banyak pertentangan
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar d-b-r, q-r-a, k-w-n, '-n-d, gh-y-r, a-l-h, w-j-d, kh-l-f, k-ts-r): AYAT LANDASAN METODE terjemahan ini. yatadabbaruun diterjemahkan 'menadaburi/merenungi' (akar d-b-r); ikhtilaaf diterjemahkan 'pertentangan'. Inilah prinsip Non-Kontradiksi Internal: keutuhan-tanpa-cacat Qur'an=penguji kebenarannya sendiri, dasar seluruh metode (Qur'an menguji dirinya).

Aplikasi

Ayat metodologis kunci: 'sekiranya ia dari selain Allah, tentu mereka menemukan di dalamnya banyak pertentangan', konsistensi internal disebut sebagai bukti otentisitas, prinsip non-kontradiksi yang menjadi dasar metode pembacaan teks ini sendiri. Konkretnya: menguji konsistensi internal sebuah sumber (apakah bagian-bagiannya saling mendukung tanpa kontradiksi) adalah metode verifikasi yang bisa diterapkan luas, bukan hanya pada teks suci, tapi pada klaim, teori, atau argumen apa pun yang mengklaim kebenaran menyeluruh.