دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Beberapa derajat dari-Nya, serta ampunan dan rahmat. Dan Allah pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةًdarajaatin minhu wa-maghfiratan wa-rahmatanbeberapa derajat dari-Nya, serta ampunan dan rahmat
  2. وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًاwa-kaana llaahu ghafuuran rahiimandan Allah pengampun lagi pengasih

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. دَرَجَاتٍdarajaatinderajat
  2. مِنْهُminhudarinya
  3. وَمَغْفِرَةًwa-maghfiratandan ampunan
  4. وَرَحْمَةًwa-rahmatandan rahmat
  5. وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
  6. اللَّهُllaahuAllah
  7. غَفُورًاghafuuranpengampun
  8. رَحِيمًاrahiimanpengasih

Inti bacaan

Balasan disebut sebagai 'derajat. ampunan. rahmat', tiga dimensi berbeda dari penghargaan, bukan sekadar satu bentuk pahala tunggal. Konkretnya: penghargaan atas usaha yang tulus bisa datang dalam berbagai bentuk sekaligus (pengakuan, pemulihan dari kesalahan masa lalu, kasih sayang), tidak perlu membatasi ekspektasi pada satu jenis balasan saja.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(Yaitu,)' tidak dipakai: fragmen apositif lanjutan dari 4:95, tanpa restitusi kata pembuka.

Tafsiran

Ayat ini merinci bentuk keutamaan tersebut: derajat, ampunan, dan rahmat dari Allah.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut tiga: derajat, ampunan, dan rahmat. Ketiganya. Yang diberikan bukan satu jenis penghargaan.
  • Derajat disebut lebih dahulu, ampunan menyusul. Urutannya begitu. Yang dinaikkan kedudukannya juga yang dihapus kesalahannya.
  • Allah menyambungnya langsung dari ayat sebelumnya. Tanpa kata pembuka. Rinciannya diberikan sesudah keutamaannya disebut.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaanrahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.