Ayat 4:105

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ۚ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan hak agar engkau memutuskan di antara manusia dengan apa yang telah Allah ajarkan kepadamu. Dan janganlah engkau menjadi pembela bagi para pengkhianat.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُinnaa anzalnaa ilayka l-kitaaba bi-l-haqqi li-tahkuma bayna n-naasi bimaa araaka llaahusesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan hak agar engkau memutuskan di antara manusia dengan apa yang telah Allah ajarkan kepadamu
  2. وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًاwa-laa takun li-l-khaa'iniina khasiimandan janganlah engkau menjadi pembela bagi para pengkhianat
Aplikasi

Larangan menjadi 'penentang karena membela para pengkhianat' menegaskan bahwa keberpihakan tidak boleh membutakan dari keadilan, bahkan bagi yang berwenang memutuskan perkara, kesetiaan kepada kebenaran mengalahkan kesetiaan kepada golongan. Konkretnya: saat diberi wewenang memutuskan (di keluarga, organisasi, pengadilan), kesetiaan pada kebenaran objektif harus mengalahkan dorongan membela pihak yang secara personal lebih dekat, favoritisme dalam keputusan adalah pengkhianatan terhadap amanah keadilan.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

li-tahkuma = 2MS (Nabi) diterjemahkan 'agar ENGKAU memutuskan' (terjemahan lain 'kamu' terlarang); 'kepadamu' (ilayKA/'allamaKA 2MS) SAH; lem fn 164 dibuang. Konvensi hkm: hakiim diterjemahkan 'penuh hikmah' (SATU terjemahan: Allah 91 + KITAB 5 + amr 1; takrif diterjemahkan 'Sang Penuh Hikmah', indefinit kecil tanpa Maha); hikmah diterjemahkan 'hikmah' (gloss '(sunah)' dibuang); muhkam diterjemahkan 'dikukuhkan' (11:1, 22:52); verba diterjemahkan 'memutuskan'; keluarga hakim (hakam/haakimiin/hukkaam) tetap 'hakim/penengah'. hukm = pemakaian diteruskan terjemahan lain, sub-putusan MENUNGGU (6:5712:4012:67 tiga terjemahan). Glos kitab (618): adh-dhikr al-hakiim = 'decides judicially' / 'FREE FROM DEFECT; no incongruity' ( diterjemahkan QS 4:82, uji metodologi kita).

Ayat 4:106

وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَwa-staghfiri llaahadan mohonlah ampunan kepada Allah
  2. إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًاinna llaaha kaana ghafuuran rahiimansesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih
Aplikasi

Perintah sederhana 'mohonlah ampunan' langsung setelah larangan membela pengkhianat (4:105) menunjukkan bahwa bahkan figur otoritas tertinggi (Nabi) tetap diperintahkan introspeksi dan permohonan ampun, tak ada yang di atas kebutuhan pemulihan diri. Konkretnya: sebesar apa pun otoritas/tanggung jawab yang dipegang, kebutuhan untuk terus introspeksi dan memohon ampun tidak pernah hilang, kerendahan hati ini berlaku universal, tanpa memandang status.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya, superlatif yang di teks. *Ghafuur* berpola *fa'uul* & *rahiim* berpola *fa'iil*: intensif, superlatif (bandingkan *arham*, pola *af'al* = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151)., kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik KEMENAG SENDIRI: di ia menulis *rahiim* diterjemahkan “penyayang”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus muncul di, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8)., dan itu penting: *ghafara* = (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), *rahima* =. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. bahwa *ghafuur* & *rahiim* memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul di dekat *rahiim* tapi hanya di dekat *rahmaan*, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan *rahmaan* ≠ *rahiim*. Akar tetangga yang BELUM diputuskan (*'aziiz*, *hakiim*, *haliim*, *'aliim* dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Rujukan:, Corpus ayat ini: = LEM:gafuwr ROOT:gfr,; = LEM:r~aHiym ROOT:rHm,. Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.

Ayat 4:107

وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا

Janganlah engkau berdebat membela orang-orang yang mengkhianati diri mereka sendiri. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْwa-laa tujaadil ani lladziina yakhtaanuuna anfusahumjanganlah engkau berdebat membela orang-orang yang mengkhianati diri mereka sendiri
  2. إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًاinna llaaha laa yuhibbu man kaana khawwaanan atsiimansesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa
Aplikasi

Larangan berdebat membela 'orang-orang yang mengkhianati dirinya sendiri' menegaskan batas pembelaan yang sah, membela seseorang yang jelas-jelas merugikan dirinya sendiri lewat tindakan buruk bukan bentuk loyalitas yang terpuji. Konkretnya: ada batas etis dalam membela seseorang, jika pembelaan itu justru melindungi pola merusak-diri mereka sendiri (bukan membantu mereka), itu bukan kebaikan sejati, melainkan turut memfasilitasi kerusakan.

Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

Hbb per konvensi ('mencintai' seragam; negasi tegas); per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi Hbb: 'mencintai/cinta' seragam termasuk NEGASI (laa yuhibbu diterjemahkan 'tidak mencintai', pelunakan 'tidak menyukai' terjemahan lain dibongkar); biji pemakaian diteruskan. h-b-b: verba habba/ahabba = mencintai; hubb/mahabbah = cinta; cabang kedua habb/habbah = biji (per corpus).