وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَwa-staghfiri llaahadan mohonlah ampunan kepada Allah
- إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًاinna llaaha kaana ghafuuran rahiimansesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (7 kata)
- وَاسْتَغْفِرِwa-staghfiridan mohonlah ampun
- اللَّهَllaahaAllah
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- كَانَkaanaadalah
- غَفُورًاghafuuranpengampun
- رَحِيمًاrahiimanpengasih
Inti bacaan
Perintah sederhana 'mohonlah ampunan' langsung setelah larangan membela pengkhianat (4:105) menunjukkan bahwa bahkan figur otoritas tertinggi (Nabi) tetap diperintahkan introspeksi dan permohonan ampun, tak ada yang di atas kebutuhan pemulihan diri. Konkretnya: sebesar apa pun otoritas/tanggung jawab yang dipegang, kebutuhan untuk terus introspeksi dan memohon ampun tidak pernah hilang, kerendahan hati ini berlaku universal, tanpa memandang status.
Tafsiran
Ayat ini memerintahkan permohonan ampun kepada Allah, ditutup dengan penegasan sifat pengampun dan pengasih-Nya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyuruh yang diutus memohon ampunan. Bukan orang lain. Perintahnya diarahkan kepada yang paling dipercaya.
- Dua sebutan menutupnya: pengampun lagi pengasih. Berpasangan. Yang menghapus disebut bersama yang menyayangi.
- Allah menaruhnya tepat sesudah larangan membela pengkhianat. Berdempetan. Yang baru diluruskan disuruh menutupnya dengan permohonan ampun.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.