وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
Siapa yang berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya akan mendapati Allah pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًاwa-man ya'mal suu'an aw yazhlim nafsahu tsumma yastaghfiri llaaha yajidi llaaha ghafuuran rahiimansiapa yang berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya akan mendapati Allah pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (13 kata)
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- يَعْمَلْya'malberamal
- سُوءًاsuu'ankeburukan
- أَوْawatau
- يَظْلِمْyazhlimmenzalimi
- نَفْسَهُnafsahudirinya
- ثُمَّtsummakemudian
- يَسْتَغْفِرِyastaghfirimemohon ampun
- اللَّهَllaahaAllah
- يَجِدِyajidimendapati
- اللَّهَllaahaAllah
- غَفُورًاghafuuranpengampun
- رَحِيمًاrahiimanpengasih
Inti bacaan
Jaminan sederhana namun kuat: siapa pun yang 'berbuat kejahatan. kemudian memohon ampunan' akan mendapati pengampunan, jalur pemulihan tetap terbuka tanpa syarat rumit, hanya menuntut kesediaan tulus memohon. Konkretnya: proses pemulihan setelah kesalahan tidak perlu dipersulit dengan ritual rumit, kesediaan jujur mengakui dan memohon maaf adalah langkah yang cukup untuk membuka jalan pemulihan, baik dalam konteks spiritual maupun hubungan antar-manusia.
Tafsiran
Ayat ini membuka pintu ampunan bagi siapa pun yang berbuat dosa lalu bertobat dengan tulus kepada Allah.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut dua jenis: berbuat kejahatan, atau menganiaya dirinya. Sepasang. Yang mengenai orang lain dan yang mengenai diri sendiri sama-sama dimasukkan.
- Syarat yang disebut cuma memohon ampunan. Satu langkah. Jalannya tak dipersulit dengan tahapan yang berlapis.
- Allah memakai kata niscaya akan mendapati. Bukan mungkin. Yang dijanjikan menemukannya, bukan berharap menemukannya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.