وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Siapa yang berbuat dosa sesungguhnya dia mengerjakannya untuk merugikan dirinya sendiri. Dan Allah berilmu lagi penuh hikmah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِwa-man yaksib itsman fa-innamaa yaksibuhu 'alaa nafsihisiapa yang berbuat dosa sesungguhnya dia mengerjakannya untuk merugikan dirinya sendiri
  2. وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًاwa-kaana llaahu 'aliiman hakiimandan Allah berilmu lagi penuh hikmah

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. وَمَنْwa-mandan orang yang
  2. يَكْسِبْyaksibmengusahakan
  3. إِثْمًاitsmandosa
  4. فَإِنَّمَاfa-innamaamaka sesungguhnya hanyalah
  5. يَكْسِبُهُyaksibuhumengusahakannya
  6. عَلَىٰ'alaaatas
  7. نَفْسِهِnafsihidirinya
  8. وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
  9. اللَّهُllaahuAllah
  10. عَلِيمًا'aliimanberilmu
  11. حَكِيمًاhakiimanbijaksana

Inti bacaan

Prinsip akuntabilitas personal murni: 'siapa yang berbuat dosa, dia mengerjakannya untuk merugikan dirinya sendiri', dosa tidak merugikan Allah, melainkan pelakunya sendiri; sebuah reframe tentang siapa sebenarnya yang dirugikan oleh pelanggaran. Konkretnya: memahami bahwa pelanggaran etis pada akhirnya merugikan diri sendiri (bukan 'pihak lain yang mengawasi') bisa menjadi motivasi internal yang lebih kuat untuk berbuat baik, dibanding sekadar takut sanksi eksternal.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan prinsip tanggung jawab pribadi: dosa yang diperbuat seseorang hanya merugikan dirinya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut yang dirugikan dirinya sendiri. Bukan orang lain. Perbuatannya disebut mengarah pulang, bukan keluar.
  • Bentuk yang dipakai ia mengerjakannya untuk merugikan dirinya. Seolah disengaja. Susunan itu membuat kerugiannya terdengar seperti tujuan.
  • Allah menutup dengan berilmu lagi penuh hikmah. Sesudah bicara dosa. Yang mengetahui perbuatannya disebut juga Yang menimbang, bukan cuma Yang menghukum.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain di ayat ini: sebutan 'Maha Bijaksana' diterjemahkan 'penuh hikmah' (indefinit corpus, tanpa 'Maha'); pasangan sebutan lain (aliim/khabiir dst.) belum dibedah, dipertahankan sementara. Konvensi hkm: hakiim diterjemahkan 'penuh hikmah' (SATU terjemahan: Allah 91 + KITAB 5 + amr 1; takrif diterjemahkan 'Sang Penuh Hikmah', indefinit kecil tanpa Maha); hikmah diterjemahkan 'hikmah' (gloss '(sunah)' dibuang); muhkam diterjemahkan 'dikukuhkan' (11:1, 22:52); verba diterjemahkan 'memutuskan'; keluarga hakim (hakam/haakimiin/hukkaam) tetap 'hakim/penengah'. hukm = pemakaian diteruskan terjemahan lain, sub-putusan MENUNGGU (6:5712:4012:67 tiga terjemahan).