لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا
Allah tidak menyukai ucapan buruk yang dinyatakan secara terang-terangan, kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah mendengar lagi berilmu.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَlaa yuhibbu llaahu l-jahra bi-s-suu'i mina l-qawli illaa man zhulimaAllah tidak menyukai ucapan buruk yang dinyatakan secara terang-terangan, kecuali oleh orang yang dizalimi
- وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًاwa-kaana llaahu samii'an aliimandan Allah mendengar lagi berilmu
Catatan pilihan kata (ringkas)
Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain: sebutan diterjemahkan 'berilmu' (indefinit corpus, tanpa 'Maha'); sebutan pasangan yang belum dibedah dipertahankan sementara. Konvensi lm-C1: aliim diterjemahkan 'berilmu' (SATU rendering Allah+manusia; takrif diterjemahkan 'Sang Berilmu', indefinit kecil tanpa Maha; berobjek diterjemahkan 'berilmu akan X'); allaam diterjemahkan 'berilmu akan segala yang gaib'; aalim+objek diterjemahkan 'yang mengetahui yang gaib' (lema beda, bukan pembelahan). Probe: penyihir Fir'aun aliim 5×; 12:76. ⚠ C2 (aalamiin) & C3 (verba/'ilm/a'lam/'allama) menyusul. Lih..
Aplikasi
Larangan 'perkataan buruk secara terus terang' disertai pengecualian bagi 'orang yang dizalimi', hak menyuarakan ketidakadilan yang dialami secara terbuka diakui berbeda dari sekadar berkata kasar tanpa alasan. Konkretnya: ada perbedaan penting antara mengumpat/berkata kasar tanpa sebab dan menyuarakan keluhan terbuka atas ketidakadilan yang benar-benar dialami, yang kedua adalah hak yang diakui, bukan pelanggaran etika bicara.