فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ ۚ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا
Maka, karena mereka melanggar perjanjian itu, kafir terhadap tanda-tanda Allah, membunuh nabi-nabi tanpa hak, dan mengatakan, “Hati kami tertutup” , sebenarnya Allah telah mengunci hati mereka karena kekufuran mereka, sehingga mereka tidak beriman kecuali hanya sedikit.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌfa-bimaa naqdihim miitsaaqahum wa-kufrihim bi-aayaati llaahi wa-qatlihimu l-anbiyaa'a bi-ghayri haqqin wa-qawlihim quluubunaa ghulfunmaka, karena mereka melanggar perjanjian itu, kafir terhadap tanda-tanda Allah, membunuh nabi-nabi tanpa hak, dan mengatakan, hati kami tertutup
- بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًاbal taba'a llaahu alayhaa bi-kufrihim fa-laa yu'minuuna illaa qaliilansebenarnya Allah telah mengunci hati mereka karena kekufuran mereka, sehingga mereka tidak beriman kecuali hanya sedikit
Catatan pilihan kata (ringkas)
Akar akar a-y (aayah) diterjemahkan 'tanda' (keputusan Pak FD 16 Jul, tanpa pengecualian; lih.). Ayat ini termasuk 55 yang SENGAJA ditunda di rollout pertama karena terjemahan lain memakai 'bukti/mukjizat/keterangan', kata yang bisa menerjemahkan bayyinah/sultaan, bukan aayah. Diselesaikan setelah pemilahan per-LEMA (bukan akar: akar byn mencakup bayyinah/bayna/mubiin yang beda-beda) dan pembacaan teks per-ayat. Padanan pesaing (bayyinah/sultaan) SENGAJA dipertahankan, hanya aayah yang diganti. sebagian penerjemah: 'So, because of their violation of their agreement, and their denial of the proofs of God, and their killing of the prophets without cause, and their saying: “Our hearts are covered,”, nay, God sealed them for their denial, so they do not believe save a few, '
Aplikasi
Rangkaian pelanggaran berulang, melanggar perjanjian, kufur, membunuh nabi, mengklaim 'hati tertutup' (sebagai dalih), berujung pada konsekuensi: 'Allah mengunci hati mereka'. Klaim 'hati tertutup' sebagai alasan justru menjadi kenyataan sebagai konsekuensi, bukan kondisi awal. Konkretnya: menggunakan dalih 'aku memang begini, tak bisa berubah' sebagai pembenaran berulang atas pola buruk berisiko benar-benar mengeraskan kondisi itu menjadi permanen, dalih yang terus diulang bisa menjadi kenyataan yang mengunci diri sendiri.