فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Maka, karena mereka melanggar perjanjiannya, Kami melaknat mereka dan Kami menjadikan hati mereka keras membatu. Mereka mengubah-ubah firman-firman dari tempat-tempatnya, dan mereka melupakan sebagian dari apa yang diperingatkan kepada mereka. Dan engkau senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka, kecuali sedikit dari mereka. Maka, maafkanlah mereka dan berlapang dadalah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
Terjemahan bertahap (6 jeda)
- فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةًfa-bi-maa naqdhihim miitsaaqahum la'annaahum wa-ja'alnaa quluubahum qaasiyatanmaka, karena mereka melanggar perjanjiannya, Kami melaknat mereka dan Kami menjadikan hati mereka keras membatu
- يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِyuharrifuuna l-kalima 'an mawaadhi'ihimereka mengubah-ubah firman-firman dari tempat-tempatnya
- وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِwa-nasuu hazhzhan mimmaa dzukkiruu bihidan mereka melupakan sebagian dari apa yang diperingatkan kepada mereka
- وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْwa-laa tazaalu taththali'u 'alaa khaa'inatin minhum illaa qaliilan minhumdan engkau senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka, kecuali sedikit dari mereka
- فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْfa-'fu 'anhum wa-shfahmaka, maafkanlah mereka dan berlapang dadalah
- إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَinna llaaha yuhibbu l-muhsiniinasesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan
Terjemahan per kata (32 kata)
- فَبِمَاfa-bi-maamaka karena
- نَقْضِهِمْnaqdhihimpelanggaran mereka
- مِيثَاقَهُمْmiitsaaqahumperjanjian mereka
- لَعَنَّاهُمْla'annaahumKami melaknat mereka
- وَجَعَلْنَاwa-ja'alnaadan Kami menjadikan
- قُلُوبَهُمْquluubahumhati mereka
- قَاسِيَةًqaasiyatankeras
- يُحَرِّفُونَyuharrifuunamengubah
- الْكَلِمَl-kalimaperkataan
- عَنْ'andari
- مَوَاضِعِهِmawaadhi'ihitempat-tempatnya
- وَنَسُواwa-nasuudan mereka melupakan
- حَظًّاhazhzhanbagian
- مِمَّاmimmaadari apa yang
- ذُكِّرُواdzukkiruudiperingatkan
- بِهِbihidengannya
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- تَزَالُtazaaluengkau senantiasa
- تَطَّلِعُtaththali'umelihat
- عَلَىٰ'alaaatas
- خَائِنَةٍkhaa'inatinpengkhianatan
- مِنْهُمْminhumdari mereka
- إِلَّاillaakecuali
- قَلِيلًاqaliilansedikit
- مِنْهُمْminhumdari mereka
- فَاعْفُfa-'fumaka maafkanlah
- عَنْهُمْ'anhumdari mereka
- وَاصْفَحْwa-shfahdan berlapang dadalah
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- يُحِبُّyuhibbumencintai
- الْمُحْسِنِينَl-muhsiniinaorang-orang yang berbuat kebaikan
Inti bacaan
Konsekuensi melanggar janji digambarkan sebagai proses gradual: hati mengeras, lalu firman diputarbalikkan dari maknanya, lalu sebagian pesan dilupakan begitu saja, kerusakan moral dimulai dari pengingkaran komitmen kecil yang dibiarkan. Konkretnya: meski dihadapkan pada pengkhianatan berulang dari pihak lain, respons yang dianjurkan tetap memaafkan dan berlapang dada, menjaga karakter diri sendiri tidak boleh digantungkan pada perilaku baik-buruknya orang lain.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyebut sebab lebih dahulu, akibat sesudahnya, lalu berakhir dengan perintah yang tidak terduga.
Sebabnya diletakkan di depan: karena mereka melanggar perjanjian. Susunan itu menutup pembacaan bahwa yang menimpa mereka datang begitu saja. Akibat yang pertama disebut pun jatuh di tempat yang tak terlihat siapa pun, yaitu hati yang menjadi “keras membatu” (قَاسِيَةً, qaasiyatan). Sebelum ada perbuatan yang bisa dinilai orang, sudah ada perubahan yang tak bisa dinilai orang.
Perbuatan yang menyusul disebut “mengubah-ubah firman-firman dari tempat-tempatnya” (يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ, yuharrifuuna l-kalima 'an mawaadhi'ihi). Ungkapan itu muncul tiga kali di dalam Al-Qur'an (4:46, 5:13, 5:41). Yang disebut bukan mengarang kata baru, melainkan memindahkan kata dari tempatnya. Kata-katanya boleh tetap utuh, dan kerusakannya tetap terjadi, karena yang digeser adalah letaknya.
Bersamanya disebut hal kedua, yaitu melupakan sebagian dari apa yang diperingatkan. Satu disengaja, satu tidak. Keduanya tetap dicatat, sebab keduanya bermula dari hati yang tadi disebut mengeras.
Penutupnya justru perintah memaafkan dan berlapang dada. Sesudah daftar pelanggaran sepanjang itu, yang diminta bukan membalas. Dan alasannya disebut bukan bahwa mereka layak dimaafkan, melainkan bahwa Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Ukurannya dipindahkan dari yang menerima maaf kepada yang memberikannya.
Kata yang dipakai untuk keadaan hati mereka tak terulang. Bentuk “keras membatu” (قَاسِيَةً, qaasiyatan) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berkaitan dengan batu yang keras dan sulit dipecah. Yang digambarkan bukan hati yang jahat, melainkan hati yang tak lagi menerima bentuk. Sesuatu yang mengeras bukan berarti rusak; ia berhenti bisa diubah.
Urutan akibatnya perlu dibaca teliti. Yang disebut pertama bukan perbuatan mereka, melainkan keadaan hati. Baru sesudah itu disebut apa yang mereka kerjakan. Susunan seperti itu menempatkan pengerasan hati sebagai pangkal, dan perbuatan sebagai gejalanya. Kalau dibaca demikian, memperbaiki perbuatan tanpa menyentuh pangkalnya tidak menyelesaikan apa pun.
Dua perbuatan yang disebut sesudahnya pun berpasangan dengan cara yang tidak biasa. Yang satu disengaja, yaitu menggeser perkataan dari tempatnya. Yang satu tidak, yaitu melupakan sebagian peringatan. Keduanya dicatat berdampingan tanpa dibedakan bobotnya, sebab keduanya bermula dari satu pangkal yang sama.
Perintah penutupnya memakai rumusan yang juga tak terulang, yaitu “maafkanlah mereka dan berlapang dadalah” (فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ, fa-'fu 'anhum wa-shfah). Dua kata perintah berturut-turut, dan yang kedua lebih jauh daripada yang pertama: memaafkan menghapus tuntutan, berlapang dada menghapus jarak. Letaknya sesudah daftar pelanggaran sepanjang itu membuatnya terbaca bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai perintah yang justru menuntut lebih banyak dari yang diperintah.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan konsekuensi pelanggaran perjanjian, yaitu hati yang mengeras, kebiasaan mengubah firman dari tempatnya, dan pengkhianatan berulang, namun ditutup perintah pemaafan dan kelapangan dada, karena Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Urutan itulah yang paling patut diperhatikan.
Akibat pertama yang disebut bukan perbuatan, melainkan keadaan hati. Sesuatu yang tak terlihat siapa pun, termasuk oleh yang mengalaminya. Susunan ini menempatkan pengerasan hati sebagai pangkal dan perbuatan sebagai gejala, dan kalau dibaca demikian, memperbaiki perbuatan tanpa menyentuh pangkalnya tidak menyelesaikan apa-apa.
Dua perbuatan yang menyusul berpasangan dengan cara yang tidak biasa. Yang satu disengaja, yang satu tidak. Menggeser perkataan dari tempatnya memerlukan niat; melupakan sebagian peringatan tidak. Keduanya dicatat tanpa dibedakan bobotnya, sebab keduanya bermula dari pangkal yang sama. Lupa pun dihitung ketika ia lahir dari hati yang berhenti menerima.
Yang paling tidak terduga adalah penutupnya. Sesudah daftar pelanggaran sepanjang itu, yang diperintahkan bukan membalas melainkan memaafkan, dan bukan hanya memaafkan melainkan juga berlapang dada. Dua perintah berturut-turut, dan yang kedua lebih jauh: memaafkan menghapus tuntutan, berlapang dada menghapus jarak. Alasannya pun bukan bahwa mereka layak dimaafkan, melainkan bahwa Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Ukurannya dipindahkan dari yang menerima maaf kepada yang memberikannya, dan pemindahan itu membuat perintahnya jauh lebih sulit dielakkan.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebutkan sebabnya di depan: karena mereka melanggar perjanjian. Akibatnya menyusul. Susunan itu menutup pembacaan bahwa yang menimpa datang tanpa alasan. Susunan itu menentukan bagaimana akibatnya terbaca. Kalau akibat disebut lebih dulu, ia terbaca sebagai penimpaan, dan pembacanya akan mencari sebabnya. Kalau sebab disebut lebih dulu, akibat terbaca sebagai lanjutan, dan tak ada yang perlu dicari. Ayat ini memilih yang kedua, dan pilihannya bertahan sampai ke ujung: setiap hal yang disebutkan sesudahnya adalah kelanjutan dari satu perbuatan yang disebut di kata pertama.
- Yang Dia sebut hati mereka keras membatu. Bukan pikiran atau perbuatan. Akibat pertama dari melanggar janji jatuh di tempat yang tak terlihat siapa pun. Kata itu (قَاسِيَةً) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Yang dikeraskan disebut hati, bukan pikiran dan bukan perbuatan. Mengapa hati yang disebut? Karena pikiran yang keras masih bisa diubah oleh keterangan baru, dan perbuatan yang keras masih bisa dihentikan oleh keadaan. Hati yang mengeras tidak tersentuh oleh keduanya, dan itulah yang membuat daftar pelanggaran sesudahnya bisa berjalan begitu panjang.
- Dua hal menyusul: mengubah firman dari tempatnya, dan melupakan sebagian peringatan. Yang disengaja dan yang tidak. Keduanya dicatat, sebab keduanya bermula dari hati yang tadi disebut. Dua perbuatan itu berlawanan cara kerjanya. Mengubah menuntut perhatian, sebab orang harus tahu bunyi aslinya untuk bisa memelesetkannya. Melupakan menuntut ketiadaan perhatian. Yang satu terlalu peduli pada teks, yang lain tidak peduli sama sekali, dan keduanya disebut pada kelompok yang sama. Itu mungkin karena keduanya lahir dari satu hal yang sama, yaitu teks yang tidak lagi dianggap punya kuasa atas pembacanya.
- Sesudah mendaftar pelanggaran sepanjang itu, Allah justru memerintahkan memaafkan, dan alasannya bukan bahwa mereka layak dimaafkan, melainkan bahwa Dia mencintai orang yang berbuat kebaikan. Kalau ukurannya memang dipindahkan kepada yang memberi maaf, bagaimana itu mengubah perhitungan kita terhadap orang yang benar-benar bersalah kepada kita? Letak perintah itu yang paling menonjol. Ia datang sesudah daftar pelanggaran yang panjang, bukan sebelumnya, jadi tidak bisa dibaca sebagai maaf yang diberikan karena belum tahu. Allah menyebutkan seluruh perkaranya lebih dulu, sampai ke pengkhianatan yang masih akan terus terlihat, baru sesudah itu memerintahkan memaafkan. Maaf yang lahir sesudah semuanya diketahui adalah satu-satunya maaf yang tidak bisa dibatalkan oleh keterangan baru.
- Di tengah daftar sepanjang itu, ayat ini menyisipkan pengecualian: engkau akan terus melihat pengkhianatan dari mereka, kecuali sedikit dari mereka. Sedikit itu tidak dinamai, tidak dihitung, dan tidak diterangkan siapa. Lalu apa gunanya disebut? Gunanya justru pada ketidakjelasannya. Karena yang sedikit itu tidak bisa ditunjuk, tak seorang pun boleh diperlakukan seolah pasti bukan bagian darinya, dan Allah memasang penahan itu di dalam kalimat yang sedang menggambarkan pengkhianatan.
- Ayat ini ditutup dengan pernyataan bahwa Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan, bukan dengan pernyataan bahwa Dia mencintai orang yang sabar. Padahal yang baru saja diperintahkan adalah memaafkan, dan memaafkan terasa lebih dekat ke sabar daripada ke berbuat kebaikan. Apa artinya pilihan itu? Sabar berhenti pada menahan diri, sedangkan berbuat kebaikan bergerak ke arah orangnya. Yang diminta di sini bukan sekadar tidak membalas, melainkan melangkah satu tahap lebih jauh dari itu.