قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي ۖ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
Ia berkata, “Tuhanku, sesungguhnya aku tidak menguasai kecuali diriku dan saudaraku; maka pisahkanlah antara kami dan kaum yang fasik itu.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِيqaala rabbi innii laa amliku illaa nafsii wa-akhiiia berkata, Tuhanku, sesungguhnya aku tidak menguasai kecuali diriku dan saudaraku
- فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَfa-fruq baynanaa wa-bayna l-qawmi l-faasiqiinamaka pisahkanlah antara kami dan kaum yang fasik itu
Catatan pilihan kata (ringkas)
(akar q-w-l, r-b-b, m-l-k, n-f-s, a-kh-w, f-r-q, b-y-n, q-w-m, f-s-q): laa amliku diterjemahkan 'tidak menguasai', akar m-l-k (putaran MLK: milk=penguasaan efektif; terjemahan lain 'tidak mempunyai kekuasaan'); fa-fruq baynanaa diterjemahkan 'pisahkanlah antara kami' (akar f-r-q putaran FRQ); faasiqiin diterjemahkan 'fasik'.
Aplikasi
Musa mengakui keterbatasan wewenangnya secara jujur, 'aku tidak menguasai kecuali diriku dan saudaraku', sebelum meminta pemisahan dari kaum yang membangkang, tidak berpura-pura mampu mengendalikan orang lain. Konkretnya: seorang pemimpin yang jujur mengenali batas kendalinya sendiri, alih-alih memaksakan tanggung jawab atas pilihan orang lain yang menolak diarahkan, kadang solusi yang tersedia bukan memaksa, melainkan meminta pemisahan dari konsekuensi pilihan orang lain.