إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ ۖ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
kecuali orang-orang yang bertobat sebelum kalian dapat menangkap mereka. Maka, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْillaa lladziina taabuu min qabli an taqdiruu 'alayhimkecuali orang-orang yang bertobat sebelum kalian dapat menangkap mereka
- فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌfa-'lamuu anna llaaha ghafuurun rahiimunmaka, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (13 kata)
- إِلَّاillaakecuali
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- تَابُواtaabuubertobat
- مِنْmindari
- قَبْلِqablisebelum
- أَنْanbahwa
- تَقْدِرُواtaqdiruukalian berkuasa
- عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
- فَاعْلَمُواfa-'lamuumaka ketahuilah kalian
- أَنَّannabahwa
- اللَّهَllaahaAllah
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Pengecualian bagi yang bertobat 'sebelum kalian dapat menangkapnya' menunjukkan bahwa pintu tobat tertutup bukan oleh besarnya dosa, melainkan oleh momen tertangkapnya seseorang, tobat yang tulus sebelum konsekuensi dipaksakan tetap diterima. Konkretnya: inisiatif memperbaiki diri sebelum terpaksa jauh lebih bernilai dan lebih mungkin diterima daripada penyesalan yang baru muncul setelah tertangkap basah, bertobat lebih dini adalah bertobat yang lebih tulus.
Penjelasan pilihan kata
"Kalian dapat menangkap mereka" (تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ, taqdiruu 'alayhim) menyapa orang-orang beriman langsung dengan "kalian", sementara "mereka" merujuk kepada para pemerang yang disebut di 5:33. Ayat ini karena itu menempatkan orang-orang beriman sebagai pihak yang berpotensi memiliki kekuatan untuk menghentikan kejahatan yang baru digambarkan, bukan sebagai pelaksana hukuman fisik yang identik dengan perbuatan para pemerang itu sendiri. Pintu tobat tetap terbuka: siapa yang bertobat sebelum tertangkap, terbebas dari kehinaan dan azab yang disebut di ayat sebelumnya.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi 5:33 dengan dua hal penting. Pertama, ia menempatkan peran orang-orang beriman bukan sebagai pelaksana kekerasan balasan, melainkan sebagai pihak yang, jika memiliki kekuatan, berkewajiban menghentikan kejahatan yang telah digambarkan, sebuah tanggung jawab menghadapi kezaliman, bukan izin untuk membalas dengan cara yang sama persis. Kedua, ayat ini membuka pintu tobat tanpa syarat selain waktu: siapa pun yang berhenti dan bertobat sebelum tertangkap, terbebas dari konsekuensi yang disebutkan sebelumnya. Penutup ayat, bahwa Allah pengampun lagi pengasih, berlaku dalam dua arah sekaligus, sebagai jaminan bagi siapa pun yang benar-benar bertobat, dan sebagai penghiburan bagi mereka yang telah menderita akibat kejahatan yang baru digambarkan, bahwa keadilan yang sempurna tetap ada di sisi Allah.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah gambaran paling berat di seluruh rangkaian ini, Allah tidak membiarkan satu ayat pun berlalu sebelum membuka pengecualiannya. Yang menutup pintu tobat di sini bukan besarnya kejahatan, melainkan satu hal saja: keburu tertangkap. Tidak ada batas berat yang dicantumkan pada pintu itu. Kalau penyesalan baru datang sesudah tak ada lagi pilihan lain, apa sebetulnya yang sedang disesali?
- 'Allah pengampun lagi pengasih' terdengar seolah hanya untuk pelaku kalau dibaca sekali lewat. Tetapi bagi mereka yang kehilangan karena kejahatan yang baru saja digambarkan, kalimat yang sama berbunyi lain: perhitungannya tidak hilang, ia dipegang oleh Yang paling pengasih, dan pengasih tidak pernah berarti lalai. Satu penutup, dua orang yang berbeda membacanya, dan keduanya mendapat yang mereka butuhkan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.