فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Maka, siapa yang bertobat setelah melakukan kezaliman dan memperbaiki diri, sesungguhnya Allah menyambut tobatnya. Sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِfa-man taaba min ba'di zhulmihi wa-ashlaha fa-inna llaaha yatuubu 'alayhimaka, siapa yang bertobat setelah melakukan kezaliman dan memperbaiki diri, sesungguhnya Allah menyambut tobatnya
- إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌinna llaaha ghafuurun rahiimunsesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (14 kata)
- فَمَنْfa-manmaka orang yang
- تَابَtaababertobat
- مِنْmindari
- بَعْدِba'disesudah
- ظُلْمِهِzhulmihikezalimannya
- وَأَصْلَحَwa-ashlahadan memperbaiki
- فَإِنَّfa-innamaka sesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- يَتُوبُyatuubumenyambut tobat
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
terjemahan ini menegaskan 'Allah menyambut tobatnya', agensi aktif Allah bergerak kembali kepada hamba, alih-alih 'menerima tobat' yang pasif; pertobatan digambarkan sebagai pertemuan dua arah, bukan hamba mengetuk pintu yang mungkin dibuka mungkin tidak. Konkretnya: ketika seseorang memutuskan memperbaiki diri secara tulus setelah berbuat salah, ada dorongan yang menyambutnya di tengah jalan, keyakinan ini seharusnya mendorong orang untuk segera bertobat, bukan menunda karena takut ditolak.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan kata "maka" (فَمَنْ, fa-man), langsung menyambung dari ayat sebelumnya tentang hukuman pencurian, bukan membuka topik baru. "Sesungguhnya Allah menyambut tobatnya" (فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ, fa-inna llaaha yatuubu 'alayhi) memakai kata kerja yang sama untuk tindakan Allah menerima tobat hamba-Nya di berbagai ayat lain Al-Qur'an. Kata "kezaliman" (ظُلْمِهِ, zhulmihi) di sini adalah kata umum untuk perbuatan salah, bukan pengulangan kata "pencurian" itu sendiri, sehingga ayat ini berfungsi ganda: langsung menyambung dari kasus pencurian yang baru disebutkan, sekaligus berlaku sebagai prinsip umum bagi kezaliman apa pun.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa hukuman yang baru saja ditetapkan bukan akhir dari cerita: pintu tobat tetap terbuka meski setelah kezaliman dilakukan, sesuatu yang berbeda dari syarat di 5:34, yang secara eksplisit membatasi pengampunan pada tobat yang dilakukan sebelum tertangkap. Perbedaan ini masuk akal karena konteksnya berbeda: 5:34 berbicara tentang membatalkan konsekuensi dunia bagi orang yang memerangi Allah, sementara ayat ini berbicara tentang penerimaan tobat oleh Allah sendiri, yang tidak dibatasi waktu. Keduanya bersama menunjukkan bahwa hukum dan rahmat berjalan pada dua jalur yang berbeda dalam pemikiran ayat-ayat ini.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini datang tepat sesudah hukuman ditetapkan, dan ia tidak mencabutnya. Yang dibukanya jalur lain: Allah menyambut tobat meski akibat di dunia sudah berjalan. Dua hal yang sering dicampur orang, diampuni Allah dan bebas dari akibat, di sini berjalan terpisah. Ketika kau menyesal, mana sebenarnya yang sedang kaucari?
- Kata yang dipakai bukan 'pencurian' melainkan 'kezaliman', kata yang jauh lebih lebar. Jadi ayat ini menyambung kasus yang baru disebut sekaligus melewatinya: siapa pun yang berbuat salah lalu memperbaiki diri termuat di dalamnya. Allah tidak menyempitkan pintu-Nya seukuran satu perkara.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain 'menerima tobat / Maha Penerima Tobat' = glos tafsir yang MEMBALIK AGENSI (Allah jadi penerima pasif, padahal taaba alaa = Dia BERGERAK kembali kepada hamba). Bukti internal: 9:118 'taaba alayhim LI-YATUuBUu', berpaling-Nya MENDAHULUI tobat hamba; terjemahan lain terpaksa menambal dgn tambahan 'tetap dalam'. Pembeda leksikal nyata: saat Qur'an bermaksud 'MENERIMA', ia memakai akar q-b-l (yaqbalu 9:104 & 42:25; qaabili t-tawb 40:3), terjemahan lain meratakan keduanya. terjemahan ini: 'menyambut tobat' (aktif-menuju); takrif diterjemahkan 'Sang Penyambut Tobat'. Rumus at-tawwaabu r-rahiim (takrif) di 2:37, 2:54, 2:128, 2:160, 9:104, 9:118 diterjemahkan 'Sang Penyambut Tobat lagi Sang Pengasih'; indefinit (4:16, 4:64, 24:10, 49:12, 110:3) diterjemahkan 'penyambut tobat'. 2:222 at-tawwaabiin = MANUSIA dgn lema yang sama diterjemahkan kesaling-kembalian; 9:117 taaba alaa NABI (yang tak berdosa di peristiwa itu) diterjemahkan menegaskan taaba alaa = berpaling-dgn-karunia, tak mensyaratkan dosa. Corpus: akar t-w-b di ayat ini. 'accepted his repentance' hanya berlabel (Jel) = tafsir Jalaalayn, bukan leksikal. utk manusia (2:222 at-tawwaabiin!) 'orang yang banyak bertobat'.